Minggu, 18 Mei 2008 10:15 wib

Munas Alim Ulama dan Halaqoh Kebangsaan Seabad Kebangkitan Nasional

JAKARTA - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyelenggarakan serangkaian kegiatan pada 18-21 Mei 2008. Acara akan dimulai dengan Silaturrahim Nasional FKB DPR RI dengan FKB DPRD Se-Indonesia yang akan berlangsung pada Minggu (18/5/2008). Kemudian agenda acara akan dilanjutkan dengan Munas Alim Ulama dan Halaqoh Kebangsaan pada tanggal 19-20 Mei 2008.

Silaturrahim Nasional FKB DPR RI dengan FKB DPRD Se-Indonesia diselenggarakan sebagai salah satu kegiatan konsolidasi pemenangan Pemilu 2009. Sedangkan Munas Alim Ulama dan Halaqoh Kebangsaan akan diisi dengan diskusi bersama sejumlah Tokoh dan Pakar di bidang sosial keagamaan, politik, dan ekonomi. Selanjutnya akan dirumuskan pula pokok-pokok pikiran para ulama mengenai berbagai hal berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam segala aspeknya. Sebanyak 400 ulama dari berbagai daerah di Jawa dan Luar Jawa akan mengikuti acara tersebut.

Puncak acara Munas Alim Ulama dan Halaqoh Kebangsaan akan diisi dengan : PERINGATAN SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL, di Ciganjur , Jakarta. Selain penyampaian pokok-pokok pikiran para ulama sebagai hasil dari Munas Alim Ulama dan Halaqoh kebangsaan, acara tersebut juga diisi orasi politik KH Abdurrahman Wahid, beserta tokoh nasional lainnya.

Agenda Munas Alim Ulama ini akan merumuskan dan memasyarakatkan pokok-pokok pikiran para ulama mengenai berbagai hal berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini sangatlah penting mengingat peran ulama sengat berpengaruh terhadap kehidupan umat.

Patut dicatat kondisi sosial keagamaan Indonesia belakangan ini diwarnai oleh berbagai tindak kekerasan atas nama agama. Sejumlah tempat ibadah dan pelecehan terhadap kelompok minoritas terjadi secara massif di berbagai daerah. Tindakan semacam itu telah mencederai prinsip dan spirit Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Fakta social tersebut menunjukkan adanya proses pendangkalan pemahaman keagamaan yang berakibat pada tidak terkendalinya fanatisme terhadap simbl-simbol keagamaan yang tidak substantive. Sebagai contoh, menjamurnya tuntutan formalisasi syariat Islam merupakan representasi dari orientasi keagamaan yang hanya mementingkan simbolisme belaka.

Mereka menghendaki berlakunya tafsir tunggal atas Islam dan menyandera identitas Islam sebagai agama yang kaya dengan khazanah tafsir dan pemahaman. Arus gerakan semacam itu harus dihadapi dengan mengembalikan Islam sebagai agama yang santun, toleran dan egaliter.

Dalam konteks ini, peran kiai atau ulama ahlussunnah wal-jama'ah menemukan sinifikansinya. Melalui Munas Alim Ulama, para kiai akan merumuskan langkah-langkah strategis untuk membendng radikalisme Islam di Indonesia, sebagai produk impor paham kaagamaan Timur Tengah secara parsial. Serta hal lainnya yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam segala aspekna


Jakarta 17 mei 2008
Ketua Panitia
MUNAS ALIM ULAMA DAN HALAQOH KEBANGSAAN
DPP PARTAI KEBANGKITAN BANGSA

Drs H. Muhyidin Arubusman  (mbs)