Senin, 16 Juni 2008 12:26 wib

Disesalkan, Pernyataan Deplu RI dan Dubes Australia

KUPANG - Kelompok Kerja (Pokja) Celah Timor dan Gugusan Pulau Pasir serta Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) menyesalkan pernyataan Departemen Luar Negeri (Deplu) RI dan Dubes Australia Bill Farmer.

Itu terkait pernyataan dua pihak itu, bahwa penayangan video oleh berbagai stasiun televisi nasional seperti SCTV dan Metro TV tentang penenggelaman perahu nelayan tradisional Indonesia di Laut Timor dengan cara pengeboman dan penembakan oleh pihak keamanan Australia, adalah gambar yang sudah usang dan tidak layak untuk ditayangkan.

Ketua Pokja Celah Timor dan Gugusan Pulau Pasir Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang Sabtu (14/06) menyayangkan pernyataan Juru bicara (Jubir) Deplu RI Teuku Faizasyah.

"Penyesalan Deplu RI atas penayangan video usang oleh stasiun TV nasional akan mengganggu hubungan Indonesia dan Australia dan menambahkan bahwa pemerintah Australia selalu konsisten dan bertanggung jawab atas tindakan petugas Australia terhadap nelayan Indonesia di Laut Timor, seperti memberikan ganti rugi terhadap nelayan yang perahunya dibakar," kata Teuku Faizasyah sebagaimana dikutip berbagai media.

Ferdi Tanoni menyatakan bahwa pernyataan Jubir Deplu RI Teuku Faizsasyah tersebut seolah telah bertindak sebagai Jubir Kedutaan Besar Australia. Sebab apa yang dikemukakannya tersebut sangat pro dan cenderung membenarkan perlakuan Australia yang sangat tidak manusiawi terhadap nelayan tradisional Indonesia di Laut Timor.

Ketua YPTB ini juga menyayangkan pernyataan Dubes Australia Bill Farmer yang melakukan protes terhadap SCTV dan Metro TV dengan mengatakan bahwa video yang ditayangkan sudah berumur 10 tahun.

"Hal itu tidak benar katanya, karena penayangan video tersebut adalah penggabungan kejadian yang terjadi pada 4 minggu lalu dan 5 tahun lalu," ungkapnya.

Tanoni menambahkan, masalahnya bukan soal video usang atau tidak. Tetapi perbuatan aparat keamanan Australia yang sangat tidak berperikemanusiaan tersebut. Hal itulah yang menjadi masalah, karena tidak pernah diprotes oleh Deplu RI, maupun tidak ada tindakan yang diambil oleh Australia terhadap para aparat keamanannya yang telah bertindak brutal dan membabi buta.

Dubes Australia Bill Farmer dan Jubir Deplu RI Teuku Faizasyah dinilai oleh pemegang mandat hak ulayat masyarakat adat di Laut Timor ini bahwa mereka terlalu menggampangkan masalah dan sudah berlebihan dalam menanggapi penayangan video tersebut.

Sebagai contoh, kata Ferdi Tanoni, bahwa kasus terbunuhnya 5 orang wartawan televisi Australia di Balibo-Timor pada tahun 1975 saja, hingga saat ini terus dipermasalahkan oleh Australia. "Bahkan telah diadakan sebuah pengadilan khusus untuk mengadili hal tersebut yang dikenal dengan "Glebe Coroner", kata mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia ini.

"Bukankah nelayan tradisional Indonesia yang telah beraktivitas di Laut Timor secara turun temurun sejak 400-600 tahun silam tersebut memiliki hak untuk membela diri dan mencari keadilan? Bukankan mereka juga adalah manusia yang sama seperti jubir Deplu RI dan Dubes Australia yang harus diperlakukan secara manusiawi?" tanya Ferdi Tanoni.

Berita ini kiriman dari:

Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB)
West Timor Care Foundation
Jalan Perwira 33, Kupang-Timor Barat
Phone/Fax: +62 380 830 191
Email: westtimorcarefoundation@yahoo.com.au
(jri)