Selasa, 01 Juli 2008 16:49 wib

Pemkab Nias-UNICEF Gelar Diskusi Sanitasi

GUNUNGSITOLI - Dalam rangka memperingati Tahun Sanitasi Internasional 2008 sebagai gerakan internasional untuk memperbaiki tingkat sanitasi di seluruh dunia, pada 25 Juni lalu Pemerintah Kabupaten Nias bersama UNICEF menggelar diskusi.

Diskusi digelar bertajuk 'Meningkatkan Sanitasi Nias dengan Strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat', dengan lima narasumber, yakni: Bappeda Nias, UNICEF, CWS HP, IFRC dan UNDP.

Kegiatan diskusi publik ini merupakan rangkaian dari kegiatan pencanangan minggu sanitasi 23-26 Juni, melalui kegiatan kampanye sanitasi di Nias. Seluruh stakeholder yang terkait dengan kegiatan sanitasi di Nias turut mendukung kegiatan ini, yakni UNDP, IFRC, CWS HP, Surfaid Internasional, CWS, PNPM KDP, Save The Children, Team & Team Indonesia.

Dalam pembukaannya Asisten I Kabupaten Nias Fanolo Hulu menyatakan bahwa "Sanitasi keberadaannya selama ini kurang diperhatikan".

Pengelolaan sanitasi yang buruk bisa mengakibatkan kerugian ekonomi hingga mencapai Rp45 triliun pertahun. Ironisnya pendulum perbaikan tidak bergerak ke arah sanitasi, hal ini dapat kita lihat dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, investasi pemerintah untuk sanitasi hanya sebesar Rp200 per orang per tahun padahal kebutuhannya Rp47 ribu per orang per tahun.

Study dari WSP (State of Sanitation in Indonesia, WSP 2006) mencatat bahwa dengan investasi sebesar Rp47 ribu perorang pertahun di bidang sanitasi dapat meningkatkan produktivitas hingga 79 persen.

Selain peningkatan infrastruktur, perubahan perilaku hidup yang lebih higienis seperti mencuci tangan dengan sabun pada waktu penting dapat menurunkan angka kesakitan diare 42-47 persen, terutama pada balita.

Sementara dari Bappeda Nias menyampaikan data di Kabupaten Nias, pembuangan air limbah hanya terdapat 17.95 persen, fasilitas jamban hanya 26,19 persen dan tempat pembuangan sampah 17,99 persen.

Data statistik Kabupaten Nias menunjukkan bahwa 44,96 persen dari rumah tangga di Nias masih tidak mempunyai akses ke jamban dan mempraktekan BAB di tempat terbuka (sungai, kebun, kolam dan lainnya). Sementara itu untuk cakupan air minum yang aman mencapai 45.49 persen (dari PDAM dan pompa). Dampak yang ditimbulkan dari perilaku yang kurang sehat dan akses yang belum memadai untuk air bersih, penyakit diare menempati penyakit nomor tiga tertinggi di Nias setelah ISPA dan Malaria klinis di mana 50 persen penderita diare adalah balita (data Dinas Kesehatan Nias 2006).

Berita ini kiriman dari:

Nama: Fitria Rinawati
Alamat: UNICEF Nias, Kota Gunungsitoli
Telp: 063921378
(jri)