Selasa, 07 Oktober 2008 12:51 wib

Prasetya Manunggaling Kawula lan Gusti

Salam Budaya. Sungguh beruntung kita hidup di Yogyakarta. Kota yang kaya akan khazanah budaya. Di kota ini kita dengan mudah menemukan berbagai keunikan budaya, bahkan dapat berinteraksi langsung dengannya.

Dalam konteks inilah keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi salah satu sumber referensi penting. Sejak didirikan oleh Pangeran Mangkubumi di alas bringin pada tahun 1755, Nagari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat membangun berbagai peradaban publik seperti benteng kraton, alun-alun, tempat peribadatan, pasar, tempat rekreasi, pemukiman penduduk, dan lain sebagainya. Kraton juga melahirkan berbagai bentuk karya kesenian dan kesusastraan, baik berupa tulisan, tari-tarian, musik, upacara adat, kerajinan, hingga aneka rupa makanan minuman. Bentuk-bentuk kebudayaan inilah yang membuat alam pikir manusia Yogyakarta istimewa.

Salah satunya warisan budaya Kraton yang memiliki nilai kesejarahan tinggi adalah bendera. Jaman dulu orang menyebutnya dengan istilah klebet. Menurut sejarahnya, klebet adalah selembar kain yang dipakai sebagai penanda keberadaan rombongan kesatuan pasukan abdi dalem Kraton yang wilayah operasionalnya diluar benteng Kraton. Dikisahkan bahwa pada saat memimpin Perang Jawa, maka untuk mempermudah identikasi pasukan, Pangeran Diponegoro memerintahkan masing-masing kesatuan pasukan abdi dalem Kraton yang berada di wilayah timur, selatan baat dan utara benteng Kraton, mempergunakan klebet dengan warna yang berbeda-beda. Klebet-klebet ini dinamai menggunakan sanepo atau istilah yang terdapat di alam.  

Untuk wilayah timur laut, atau sekarang dikenal dengan Gunung Kidul, abdi dalem mempergunakan klebet  warna merah-kuning. Warna merah dipilih karena tanah di Gunung Kidul berwarna merah. Alasan berikut Gunung Kidul saat itu dikenal sebagai daerah penghasil madu tawon. Nah, manakala rombongan pasukan abdi dalem dari Gunung Kidul bergerak bersama-sama menuruni lereng pegunungan sewu menuju Yogyakata, dari kejauhan klebet-klebet yang berkibar tampak seperti manuk nebo, atau segerombolan burung berwarna kuning yang tengah terbang beringan. Maka dari itu muncul sanepo atau istilah Podang Ngisep Sari (burung kepodang yang menghisap sari madu).

Di wilayah selatan atau Bantul, klebetnya berwarna putih-hijau. Warna putih sebagai perlambang kaum alim ulama yang banyak terdapat disana. Sedang warna hijau sebagai perlambang bahwa wilayah Bantul merupakan areal pertanian yang subur. Disini banyak tersedia sumber logistik bagi penduduk. Bukan hal kebetulan jika Pangeran Diponegoropun memilih bersembunyi di kawasan Bantul. Selain logistiknya terjamin, Diponegoro merasa aman karena berada dalam perlindungan kaum ulama. Lantas mengapa simbol warna putih dan hijau ini diistilahkan dengan Pandan Binetot. Pandan adalah tanaman yang daunnya berwarna putih. Namun apabila akarnya dibetot atau dicerabut,  maka akan terlihat akar yang berwarna putih. Sedangkan wilayah barat atau Kulon Progo, dulunya masuk wilayah Mangkunegaran. Sejak dulu pula lambang Mangkunegaran adalah hijau-kuning atau sering disebut dengan Pareanom. Simbol ini diteruskan hingga kini.

Wilayah utara atau Sleman dikenal alamnya kerap bergolak karena adanya Gunung Merapi yang sering mengeluarkan asap letusan atau kalau jaman ini disebut wedhus gembel. Nah pergerakan awan atau mega yang keluar dari gunung inilah yang melahirkan istilah Mega Ngampak yang divisualisasi dengan warna biru-putih. Mega Ngampak juga dijadikan semacam kode rahasia bagi pasukan abdi dalem Kraton ketika akan menyerang kompeni Belanda. Karena posisi gunung Merapi terlihat dari berbagai arah, maka ketika mega sudah terlihat atau ngampak maka penyerangan dapat dilakukan. Simbol klebet untuk Kota Yogya warnanya hitam biru-hitam. Ini merupakan simbol tolak bala (fungsi keamanan). Makanya klebet untuk wilayah kota dinamai Bangun Tolak. Untuk paguyuban abdi dalem propinsi, klebet yang dipilih adalah Budi Wadu Praja, artinya abdi dalem pamerintah ageng. Budi artinya utusan. Sementara wadu artinya rewang atau pembantu.

Nah pancer atau pusat dari semua klebet diatas adalah Panji Gula Klapa. Panji Gula Klapa ini tak lain adalah bendera Nagari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Warna merah tercermin dalam simbol rupa gula jawa, sedangkan putih disimbolkan sebagai daging buah pohon kelapa. Merah dipahami sebagai simbol keberanian, sedang putih sebagai perlambang kesucian. Pemahaman ini mengacu pada simbol panji yang dipakai kerajaan Majapahit. Secara esensial Panji Gula Klapa Nagari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak berbeda dengan bendera Negara Republik Indonesia. Dan hebatnya lagi kedua Nagari ini juga telah manunggal.

Oleh sebab itu, kedelapan simbol-simbol budaya (Panji Merah Putih, Panji Gula Klapa, Panji Paguyuban Abdi Dalem Keprajan/Provinsi Budi Wadu Praja, Panji Paguyuban Abdi Dalem Kota Yogyakarta Bangun Tolak, Panji Paguyuban Abdi Dalem Bantul Pandan Binetot, Panji Paguyuban Abdi Dalem Kulonprogo Pare Anom, Panji Paguyuban Abdi Dalem Gunungkidul Podang Ngisep Sari, Panji Paguyuban Abdi Dalem Sleman Mega Ngampak) menjadi penting untuk direvitalisasi kembali ditengah gonjang-ganjing keistimewaan DIY. Aksi budaya pengibaran panji-panji ini semata-mata dilakukan sebagai bentuk sikap kawula Ngayogyakarta  maneges terhadap Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Ingkang Jumeneng Kaping X. Dalam sikap seperti ini, kawula akan senantiasa manunggal dan sendiko terhadap sikap apapun yang akan diambil Ngarso Dalem terhadap masa depan DIY.

Ke delapan panji tersebut akan di pasang berjejer masing-masing satu buah di empat sudut Tugu Pal Yogyakarta mulai hari Selasa (7/10/2008) sampai dengan Sabtu (11/10/2008). Pada hari Rabu (8/10) jam 21.00, panji-panji yang telah diperbanyak masing-masing panji paguyuban berjumlah 100 buah (jadi total ada 700 buah), akan ikut dikirabkan dalam Laku Budaya Topo Bisu Mubeng Beteng yang dilakukan oleh segenap abdi dalem Kasultanan dan Pakualaman dan berbagai elemen masyarakat Yogyakarta lainnya. Seusai laku budaya, bendera ini akan dibagikan kepada peserta / masyarakat yang hadir untuk dikibarkan di halaman rumahnya masing-masing sampai dengan hari Sabtu (11/10/2008).

Dalam situasi dan kondisi masyarakat saat ini, aksi budaya pengibaran panji-panji paguyuban abdi dalem di Tugu Pal Yogyakarta, sekaligus laku budaya topo bisu mubeng beteng kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan juga pengibaran panji di rumah-rumah penduduk, dapat dimaknai sebagai bentuk penghargaan, kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya yang dimiliki Yogyakarta. Budaya ini sangat khas, unik dan menjadi bagian dari sejarah Yogyakarta semenjak Hadeging Nagari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1755 hingga sampai saat ini ketika Yogyakarta menjadi bagian tidak terpisahkan dari Republik Indonesia sejak diterbitkannya Maklumat 5 September 1945. Aksi budaya ini juga sebagai bentuk sikap kawula Ngayogyakarta  maneges terhadap Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Ingkang Jumeneng Kaping X. Dalam sikap seperti ini, kawula akan senantiasa manunggal dan sendiko terhadap sikap yang akan diambil Ngarso Dalem.

Sikap maneges ini, merupakan identitas jati diri masyarakat Yogyakarta. Nah apabila dikemudian hari regulasi nasional (Undang-Undang Keistimewaan) tidak memperhatikan hal ini, betapa telah terjadi pengingkaran terhadap sejarah Yogyakarta. Kawula Ngayogyakarta menyatakan diri menolak sekaligus tidak rela apabila Yogyakarta menjadi obyek eksploitasi elit politik maupun kelompok kepentingan lain yang tidak memiliki pemahaman sejarah atas budaya DIY. Salam Juang.

Tugu Pal Yogyakarta, Selasa 7 Oktober 2008,
Widihasto Wasana Putra
Humas Kawula Ngayogyakarta

(mbs)