Kamis, 09 Oktober 2008 18:10 wib

Indonesia Pilih Obama dalam Polling

JAKARTA - Barack Obama adalah pilihan yang paling tepat untuk menjadi presiden Amerika Serikat selanjutnya, menurut polling global yang dilakukan majalah Reader's Digest. Hasilnya akan diulas secara lengkap dalam majalah Reader's Digest Indonesia edisi November yang terbit tanggal 28 Oktober 2008.

Pertanyaan polling diajukan kepada 17.000 orang dari 17 negara, 3.000 di antaranya dari Asia, tentang kandidat yang mereka harapkan akan menghuni Gedung Putih, Januari mendatang. Polling ini juga mengungkap isu-isu global yang paling mereka pedulikan, serta opini mereka tentang pemerintah Amerika.

"Reader's Digest adalah majalah global yang secara unik menangkap opini masyarakat dari seluruh dunia, dan polling kami menunjukkan hasil yang kontras antara Amerika Serikat dan negara lainnya," kata Frank Lalli, Pemimpin Redaksi, Reader's Digest Edisi Internasional dan Pengembangan Majalah.

Artikel dan hasil polling ini akan tampil di 50 edisi majalah Reader's Digest  di seluruh dunia. Polling ini juga mewarnai perubahan wajah Reader's Digest  secara global, terutama penampilan cover dengan bentuk logo baru dan slogan "Life Well Shared." "Sebagai majalah global, kami didukung jaringan yang sangat luas untuk mengungkap opini masyarakat dunia yang sesungguhnya," kata Widarti Gunawan, Pemimpin Redaksi Reader's Digest Indonesia.

Hasil Polling

Meski tidak dapat berpartisipasi secara langsung, masyarakat yang tersebar di 16 negara ternyata memilih Obama, sementara rakyat Amerika Serikat lebih menyukai John McCain dengan selisih yang tipis sekali, hanya 2%.

"Obama menang telak - kecuali di negara tempat ia melakukan kampanye," kata John Fredricks, Direktur Polling Reader's Digest.  "Yang mengejutkan adalah jumlah dukungan yang diterimanya."

Di Belanda saja, Obamamania melampaui angka 90%. Di Jerman, jumlahnya mencapai 85%, sementara Taiwan hingga 81%. Angka-angka itu tidak biasa ditemui pada polling politik, dan fenomena itu tidak hanya terjadi di Eropa bagian barat, tetapi juga di enam benua tempat polling ini dilakukan. Di Indonesia pendukung Obama mencapai angka 67%.

Hasil lainnya:

Polling ini juga menanyakan kepada responden, "Menurut Anda, isu global apa yang paling penting?" Pilihannya adalah: terorisme, perang di Irak, ekonomi global, kemiskinan global, hak asasi manusia, linkungan, perdagangan internasional dan pengembangan nuklir.
1. Indonesia dan India sepaham dengan Amerika Serikat bahwa persoalan ekonomi global merupakan isu paling penting.
2. Isu terorisme hanya menempati urutan kedua di Amerika Serikat, sebelum persoalan perang di Irak. Di Rusia, ketakutan tentang terorisme ternyata melebihi Amerika Serikat, karena menduduki peringkat teratas.
3. Tujuh negara (Australia, Brazil, Kanada, Finlandia, Jerman, Inggris dan Taiwan) menempatkan isu lingkungan sebagai prioritas. Di Indonesia isu ini hanya bertengger di posisi empat
4. Kemiskinan global menjadi isu paling penting bagi responden dari enam negara (Perancis, Meksiko, Belanda, Polandia, Afrika Selatan, dan Spanyol). Di Indonesia isu ini berada di posisi dua, di atas terorisme
5. 49% responden dari Amerika Serikat yakin bahwa McCain mampu mengatasi terorisme, sementara Obama hanya dipercaya 25% responden. Namun keyakinan negara lain terhadap Obama untuk menangani masalah terorisme relatif lebih kuat.  Di Indonesia, Meksiko, Brasil, Spanyol, Belanda, Afrika Selatan, Perancis, Jerman dan Finlandia melampaui angka 50%. Di Rusia, di mana kekuatiran terhadap terorisme sangat tinggi, perbandingan keyakinan terhadap kemampuna McCain dan Obama dalam mengatasi masalah terorisme hanya 22% dan 30%.
6. Meski Obama mendapat dukungan yang kuat di Indonesia, kebanyakan responden dari negara ini merasa jika Obama yang terpilih maka dampak terhadap kehidupan pribadinya justru negatif (59%). Hanya 11% yang merasa efeknya akan positif. Sementara, jika John McCain yang terpilih, responden yang merasa dampaknya akan negatif terhadap kehidupan pribadinya sebesar 71%. Responden yang menanggapinya positif hanya 7%. Hasil ini berbeda dengan negara lain yang umumnya yakin dampaknya akan positif maupun netral.

Menurut Prof. Dr. Anak Agung Banyu Perwita, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Bandung, boleh jadi hal ini menunjukkan keraguan responden Indonesia terhadap kedua kandidat. "Mungkin karena mereka belum mengenal lebih dekat dua kandidat ini," ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa dampak terpilihnya para kandidat terhadap Indonesia belum bisa di nilai saat ini. "Walau bagaimanapun pemerintah Amerika Serikat akan melihat kepentingan nasionalnya lebih dulu. Jadi kita tidak bisa terjebak dengan romantisme masa lalu, di mana Obama pernah tinggal di Indonesia, dan mengatakan dampaknya pasti akan sangat positif terhadap Indonesia," tambahnya.

Pada pertanyaan "Jika Anda berpikir tentang pemerintah Amerika Serikat, apakah Anda menganggap diri Anda pro-Amerika, netral atau anti-Amerika" hasilnya adalah:
1. Indonesia dan Belanda ternyata memiliki jumlah persentase Anti-Amerika terbanyak di banding negara lainnya. Yang mengejutkan, Kanada, yang merupakan negara tetangga Amerika Serikat juga menunjukkan angka relatif tinggi bersama Spanyol.
2. Delapan negara cenderung lebih Pro-Amerika. India dan Polandia paling antusias terhadap pemerintah Amerika Serikat. Di kebanyakan negara, pria berusia di atas 55+ cenderung mengaku pro-Amerika.

Dalam merespon pertanyaan tentang kemungkinan mereka pindah ke Amerika Serikat, India menunjukkan minat paling tinggi dengan 73% diikuti Afrika Selatan, Belanda dan Perancis. Sementara Indonesia hanya 24%. Di Kanada, hanya 25% saja yang tertarik untuk pindah. Namun negara yang mengirim imigran paling banyak di Amerika Serikat, Meksiko, hanya menunjukkan angka 33%. Menurut novelis Perancis, Philippe Labro, Amerika masih menjadi negeri yang menjanjikan kesempatan kedua dengan berbagai peluang dan kesuksesan bagi siapa saja. Liputan lengkap tentang survei sedunia ini akan diulas pada Reader's Digest Indonesia edisi November 2008 yang terbit pada tanggal 28 Oktober 2008.

Tentang Polling Global Pemilihan Presiden:

Polling ini dikumpulkan dari 17 negara- 15 di antaranya dilakukan oleh Synovate. Di Belanda dan Finlandia, survey melibatkan organisasi polling lokal. Metodologi yang digunakan: survey online di Amerika Serikat dan Kanada, wawancara lewat telepon di Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Polandia, Spanyol, Meksiko, Brazil, Taiwan dan Australia. Di Indonesia, Afrika Selatan dan India dalam bentuk wawancara langsung. Di 15 negara, pertanyaan diajukan kepada sekitar 1.000 orang dengan tingkat kesalahan 3%. Di Afrika Selatan 500 orang dengan tingkat kesalahan 4,4%. Di Brazil, 1.500 orang disurvey dengan tingkat kesalahan 2,5 %. Survey ini dilakukan sejak 2 Juni hingga 7 Juli 2008.  (mbs)