Kamis, 02 Juli 2009 16:20 wib

Opini Pembaca

Kampanye Hitam Membodohkan Rakyat

Aroma ?black campaign' (kampanye hitam) mulai terasa pada masa kampanye pemilihan presiden. Kampanye model ini cenderung untuk menjatuhkan lawan politik dengan tujuan akhir publik tak memilihnya. Kalau memang ada tim kampanye yang melakukan ?black campaign' berarti mereka belum dewasa dalam berdemokrasi. Sebab,  dalam demokrasi, yang harus dikritisi adalah program dan rencana kerja calon lainnya bukan kelemahan perorangan. Sebab, memiliki kekurangan adalah hal yang manusiawi. Penggunaan cara-cara seperti ?black campaign' bukanlah sesuatu yang mendidik, tidak dapat membangun peradaban. Sebagai bangsa yang dewasa, semua pihak harus menghadapi semua persaingan dengan cara-cara yang santun.

Kemunculan berbagai isu dalam kampanye yang cenderung merugikan pihak tertentu atau black campaign, yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu tanpa adanya bukti yang mendukung dinilai telah mencederai demokrasi dan tidak memberikan pendidikan politik yang baik. Seyogyanya, kampanye politik harus juga bermartabat dan mengandung nilai-nilai pendidikan bagi masyarakat.
 
Celakanya, yang terjadi, sudah menjadi kebiasaan umum di tengah masyarakat kita, dalam berkampanye tidak sedikit yang menggunakan metode black-campaign. Kondisi sehat tidaknya suatu masyarakat atau bangsa adalah dengan mengetahui cara berpolitik mereka saat berkampanye atau berkomunikasi melalui media. Semakin fair pola komunikasi kampanyenya maka semakin sehat lah kondisi sosial masyarakat itu. Dan bila masih banyak praktek kampanye hitamnya, maka semakin carut marut kondisi psikologis masyarakatnya.

Kalau hendak kita simak pendapat bahwa istri cawapres Boediono berkeyakinan non muslim, sesungguhnya itu merupakan fitnah dan kampanye hitam menjelang pemilihan presiden nanti. Karena itu, kasus yang pernah menimpa istri SBY beberap waktu lalu,  harus dijadikan pelajaran berharga bagi kita semua, supaya kita tidak terkecoh dengan berbagai upaya dan isu yang menyudutkan pasangan capres SBY-Boediono.
Tidaklah mulia jika untuk  mencapai tujuan kita harusa menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan Black Campaign,  yang mengandung SARA. Setelah era demokrasi menjadi wajah politik bangsa,  maka demokrasi tersebut harus terus kita kawal agar tidak terjadi penyimpangan.

Rakyat harus terus belajar berdemokrasi yang baik dan benar. Maka, pada masa pemilu seperti saat ini, merupakan saat terbaik untuk menjalankan demokrasi secara benar. Kita berharap, pasangan Capres-Cawapres hendaknya menyadari peran yang harus dimainkan. Janganlah masa kampanye seperti ini justru dimanfaatkan untuk membodohkan rakyat. Misalnya hanya mempromosikan kelebihan fisik, mempraktekkan black-campaign, apalagi menggunakan isu SARA dan mengandalkan uang sebagai daya pikat.

Wawan Budayawan, SPd.
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya

(mbs)