GARUT - Terjadinya gempa bumi berkekuatan 7,3 skala richter yang mengguncang Jawa Barat, Rabu (2/9), membuat Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh. Jumhur Hidayat menyesuaikan jadwal Safari Ramadhan-2, khususnya di daerah Bandung Barat, Garut dan Tasikmalaya.
"Sebagai orang Jawa Barat saya prihatin dengan terjadinya gempa yang meminta korban jiwa di sejumlah daerah di sini. Saya berdoa mudah-mudahan korban gempa bisa sabar menerima cobaan ini," kata Jumhur dengan mata berkaca-kaca saat bertemu dengan Bupati Garut, Drs. H. Atjeng HM Fikri, di kantor Kabupaten Garut, Jumat (4/9/2009).
Kepala BNP2TKI yang didampingi Sekretaris Utama, Edi Sudibyo, SH, MH, Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi KLN, Ir, Agusdin Subiantoro, Kepala Biro Keuangan , Ir. Yunafri serta pejabat eselon 3 dan empat lainnya, dalam kesempatan tersebut menyerahkan bantuan untuk korban gempa bumi di Garut sebesar Rp 10 juta.
Sebelumnya saat berkunjung ke kantor harian Pikiran Rakyat, Bandung, Kamis (3/9), Kepala BNP2TKI Moh. Jumhur Hidayat juga menyerahkan bantuan Rp 10 juta untuk korban gempa di Jawa Barat. Bantuan diterima oleh Wakil Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat, Lutfi Budiana.
Sementara Kamis (3/9) pagi saat bertemu TKI di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Kepala BNP2TKI Moh. Jumhur Hidayat juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 10 juta, yang diterima Sekretaris Daerah (Sekda) Bandung Barat, Agus Kohar.
"Bantuan ini tidak seberapa tetapi mudah-mudahan sedikit bisa meringankan beban penderitaan korban gempa," kata Jumhur saat menyerahkan sumbangan kepada Bupati Garut Atjeng HM Fikri.
Bupati Garut Atjeng HM Fikri menyebutkan, jumlah korban gempa di Kabupaten Garut terdapat 7 orang meninggal, 22 luka berat, dan 5.000 rumah rusak. Area musibah bencana meliputi 9 kecamatan dan 44 kelurahan.
Sektor Formal
Bupati Kabupaten Garut, Drs H. Atjeng HM Fikri dalam sambutannya saat menerima kunjungan rombongan Kepala BNP2TKI mengungkapkan, pihaknya berharap Kabupaten Garut bisa mengirimkankan tenaga kerjanya dari sektor formal ke luar negeri.
"Kami mempunyai banyak akademi, sekolah perawat dan perguruan tinggi," ujar Bupati Drs. H. Atjeng HM Fikri.
Menurut Bupati, melalui pengiriman TKI formal ini nantinya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Garut. "Yang dijual kemampuannya dan bukannya tenaganya," ujar Atjeng.
Ia meminta kepada Kepala BNP2TKI untuk membantu peluang kerja di sektor semi skill dan skill TKI asal Garut. Terlebih lagi Garut memiliki Balai Latihan Kerja, Akademi Kebidanan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, yang bisa mensuplai kebutuhan TKI formal ke manca negara.
Belajar dari kasus TKI asal Garut yang bekerja di rumah tangga di Malaysia, Siti Hajar, Bupati merasa khawatir jika mengirimkan TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) ini nanti akan ada lagi korban penyiksaan oleh majikan.
"Saya miris dan prihatin jika mengirimkan TKI sektor rumah tangga," tutur Aceng.
Menjawab permintaan Bupati Garut, Kepala BNP2TKI Moh. Jumhur Hidayat mengatakan bahwa pengiriman TKI formal selain mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Garut, juga akan bisa mengurangi angka pengangguran.
Jumhur menambahkan, dilihat dari aspek perlindungan, TKI yang bekerja di sekto formal, perlindungannya sangat prima. (mbs)