Pada pertengahan tahun 2009, tiga kasus yang berkaitan dengan Malaysia muncul hampir bersamaan, yaitu Blok Ambalat, kekerasan terhadap Manohara dan kekerasan terhadap TKW Siti Fajar. Yang satu berurusan dengan wilayah kedaulatan NKRI, yang satu terkait nasib anak bangsa yang teraniaya. Berkaitan dengan Blok Ambalat, Malaysia mengklaim wilayah Ambalat. Indonesia merasa berhak atas Ambalat karena sesuai konsep Wawasan Nusantara (Wasnus) yang sudah disahkan PBB, Blok Ambalat masuk wilayah Indonesia. Malaysia membuat batas sendiri yang memasukkan sebagian wilayah Ambalat menjadi wilayah Malaysia. Memang, pengajuan itu dilakukan pada 1979, tiga tahun sebelum Wasnus disahkan. Tapi, begitu disahkan PBB, logikanya tak ada lagi perdebatan.
Namun demikian, Malaysia makin percaya diri dengan batas itu ketika berhasil merebut Pulau Sipadan dan Ligitan dari tangan kita, 17 Desember 2002. Mengapa Malaysia ngotot memasukkan Ambalat ke wilayahnya? Minyak! Target Malaysia yang paling terlihat adalah menikmati gurihnya minyak di Ambalat, sehingga kalaupun hasil akhirnya adalah pengelolaan bersama, itu sudah keuntungan yang luar biasa. Dari tidak memiliki apa-apa menjadi memperoleh sesuatu. Hanya saja, Malaysia yang untung, kita yang buntung. Sedangkan yang berkaitan dengan Siti Fajar, telah melakukan tuntutan terhadap majikan Siti Fajar yang difasilitasi oleh pemerintah dalam hal ini Kedubes RI di Kualalumpur Malaysia.
Indonesia dan Malaysia akan kembali berunding mengenai wilayah sengketa Blok Ambalat Perundingan ini akan menjadi putaran perundingan yang ke-14. Menlu Hassan Wirajuda menjelaskan, proses perundingan masalah perbatasan bukan suatu hal yang mudah. Mungkin butuh waktu yang lama dalam menyelesaikan perundingan perbatasan dengan negara lain.
Penyelesaian satu-satunya masalah perbatasan adalah melalui perundingan, meski itu bukan hal yang mudah dan sederhana. Belum selesai tiga kasus di atas, kini Malaysia berulah kembali, minggu ini, Indonesia terkaget-kaget lagi dengan munculnya klaim Malaysia atas tari pendet asal Bali setelah sebelumnya mengklaim angklung, reog ponorogo, batik dan beberapa lainnya. Terkait Blok Ambalat, penyiksaan terhadap TKW serta klaim tari pendet, ini berarti ada gelagat yang tidak baik dari Malaysia, merendahkan martabat NKRI, merendahkan TNI, merendahkan seni dan budaya kita dan ingin menguasai Ambalat. Haruskah kita diam saja?
TNI harus mempertahankan keutuhan wilayah NKRI Presiden SBY menyampaikan bahwa penyelesaiannya tetap tidak perlu dengan cara-cara represif sampai mengobarkan peperangan. Kita semua seluruh rakyat Indonesia sangat setuju dengan SBY dalam menyelesaikan masalah Ambalat, perang bukan cara yang baik. Kita berharap Malaysia tidak mengusik keutuhan NKRI. Ada satu pola yang kerap berulang, bahwa kita baru sadar setelah jatuh korban. Contoh soal, pada saat Malaysia "merdeka" pada 31 Agustus 1957, kita bangsa Indonesia terkaget-kaget karena mereka telah memilih lagu kebangsaannya, sebuah lagu yang sangat populer dinyanyikan di banyak tempat di Indonesia pada masa itu. Itu adalah sebuah lagu yang mendekati irama langgam keroncong dan terkenal dengan judul "Terang Bulan Terang di Kali." Mencermati syairnya, isinya jauh sekali dari jargon-jargon kepahlawanan dan patriotisme seperti yang dibutuhkan dalam sebuah lagu kebangsaan pada umumnya.
Supaya ke depan bangsa ini bisa duduk sejajar dan disegani bangsa lain, maka mulai saat ini hendaknya kita bangsa Indonesia mulai berbenah diri, untuk melawan kesemena-menaan Malaysia terhadap kita, sehingga Malaysia tidak berani lagi melecehkan negara kita baik terhadap TNI-nya maupun para TKI yang menjadi pahlawan devisa dan mengklaim kesenian dan kebudayaan kita serta tidak ada pengelolaan minyak bersama di Blok Ambalat, Ambalat milik kita, TKI bangsa kita dan senibudaya milik rakyat kita. Kini sudah saatnya untuk tegas pada Negeri Jiran yang sering membuat kita gerah itu.
Wawan Budayawan, Spd
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya
(mbs)