Senin, 14 September 2009 16:01 wib

Deutsche Post DHL Lakukan Studi tentang Tren di Masa Depan

JAKARTA - Deutsche Post DHL telah mempublikasikan sebuah studi baru, "Delivering Tomorrow - Customer Needs in 2020 and Beyond." Riset ini memuat sejumlah pendapat dan analisis pakar yang diperoleh dari 900 responden internasional, termasuk CEO dari berbagai perusahaan multinasional terkemuka dan ilmuwan, mengenai isu-isu seperti globalisasi, ekonomi, teknologi, logistik, lingkungan hidup serta masyarakat. Studi ini menunjukkan tren dalam bidang-bidang tersebut sampai dengan tahun 2020 dan seterusnya, yang juga berfungsi sebagai pedoman untuk strategi bisnis di masa depan.

Isi laporan tersebut mencakup revolusi produk ramah lingkungan, transformasi teknologi terhadap kebiasaan dan ekspektasi pelanggan yang luas, didorong oleh teknologi; serta kemunculan Cina sebagai pemimpin ekonomi dan teknologi. Studi tersebut menunjukkan perbedaan yang menarik dari beberapa negara, dengan membandingkan tren yang disampaikan oleh responden dari Asia dengan yang disampaikan oleh responden dari negara Barat. Banyak responden, tanpa menghubungkan dengan asalnya, mengemukakan hipotesis ketertarikan tertentu pada perusahaan dan individu di Asia.
 
Dengan melaksanakan studi ini, bagian surat dan logistik telah menciptakan sebuah pedoman orientasi untuk skenario di masa depan. Deutsche Post DHL telah memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki dengan untuk mewujudkan strategi korporasinya yang baru-baru ini dipresentasikan. "Hasil studi menunjukkan bahwa isu seperti keberlanjutan, pendidikan dan tanggung jawab sosial akan semakin penting bagi perusahaan di masa depan. Dengan adanya program seperti GoGreen dan Teach First yang diimplementasikan sekarang ini, kami telah mempersiapkan diri kami untuk menghadapai tantangan di masa depan dan berada di posisi depan dengan memperhatikan isu-isu penting sedini mungkin," kata Frank Appel, CEO, Deutsche Post DHL, pada presentasi studi di Forum Dunia di Stockholm.

Riset dan analisis untuk studi "Delivering Tomorrow - Customer Needs in 2020 and Beyond" dilaksanakan antara Juni 2008 - Januari 2009. 81 tesis tentang masa depan disusun dan kemudian akhirnya dibahas oleh para peserta. 900 orang dari seluruh penjuru dunia, termasuk CEO dari berbagai perusahaan internasional terkemuka dan ilmuwan dari bidang ekonomi, futurology, dan logistik serta pakar yang dihadirkan oleh pelanggan terpilih dari berbagai sektor dengan diberikan kuesioner komprehensif untuk evaluasi. Studi tersebut memanfaatkan metodologi Delphi, yang telah digunakan sejak awal 1950an. Metodologi Delphi terdiri dari proses penilaian multitahap, di mana para pakar diberikan berbagai tesis dan diminta untuk memberikan pendapat mereka. Pendekatan sistematis ini membantu memastikan studi Delphi menghasilkan prediksi yang umumnya lebih tepat dan konsisten daripada studi yang menggunakan survei umum. Prediksi utama yang muncul dari studi ini berfokus pada tantangan perubahan iklim, pengaruh peningkatan jaringan Internet, dan semakin pentingnya industri logistik.

Perubahan iklim dan pengurangan CO2

Perubahan iklim telah dikenal luas sebagai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat manusia. Peserta studi memprediksikan bahwa, pada tahun-tahun mendatang, keputusan membeli tidak akan lagi didasarkan pada merek kualitas atau harga semata,. Di masa depan, pengaruh produk dan layanan terhadap lingkungan hidup akan berperan penting. "Jika Anda melihat label pada botol selai saat ini, Anda akan melihat daftar jumlah kalori. Namun pada 2020, kemungkinan besar label juga akan menunjukkan berapa banyak karbon dioksida dikeluarkan untuk memproduksi dan mengantarkan barang tersebut," kata Frank Appel. Sampai tahap tertentu, konsumen akan bersedia membayar lebih untuk produk dan layanan yang ramah lingkungan. Dengan sedikitnya penyedia layanan yang peduli terhadap lingkungan yang berusaha untuk mengatasi kelemahan daya saingnya sesegera mungkin, perilaku konsumen secara efektif akan membawa peningkatan standar lingkungan hidup.

Terlihat sedikit perbedaan antara respon dari Timur dan Barat. Misalnya, pakar dari Asia lebih cenderung mempercayai kemunculan "kota-kota beremisi nol" di seluruh dunia daripada pakar di Eropa, Afrika, dan Amerika. Pakar Asia juga mempercayai bahwa pelanggan siap untuk menerima waktu kirim yang lebih lama untuk pesanan mereka demi logistik yang lebih ramah lingkungan.

Perusahaan logistik berada di depan

Terlepas dari krisis keuangan saat ini, pakar Delphi tidak melihat gangguan besar dalam sistem sosial dan politik yang ada saat ini-pada 2020 dunia tetap akan menjadi ekonomi pasar. Persaingan demi pertumbuhan, kekayaan dan sumber daya akan terus berlanjut, dengan negara dan perusahaan sebagai pemain utama. Tren menuju produksi outsourcing akan berlanjut, dan banyak perusahaan akan bergantung pada jalur global untuk mencari kelebihan kompetitif. Di lain sisi, studi Delphi juga memprediksikan bahwa perusahaan-perusahaan harus bekerja sama lebih sering dan lebih erat daripada sebelumnya. Untuk mengatasi biaya energi yang tinggi, perusahaan logistik akan menginvestasikan lebih banyak sumber daya dibandingkan sebelumnya untuk mengembangkan dan menjalankan jaringan bersama. Frank Appel menjelaskan: "Memastikan bahwa logistik di masa depan semakin ramah lingkungan merupakan salah satu tujuan strategis kami. Sebagai contoh, kami telah menawarkan pengiriman carbon-neutral. Dan kami juga merupakan perusahaan logistik pertama yang membuat program perlindungan iklim yang mengikat kami pada target pengurangan emisi tertentu. Kami telah berada jalur yang tepat. Namun sebagaimana ditunjukkan oleh studi Delphi, pada 2020 sejumlah pesaing kami akan meniru kami. Jadi kami harus terus menemukan cara baru untuk tetap berada di depan."

Bisnis melalui Internet - kapanpun, di manapun

Pelanggan pada tahun 2020 akan semakin menghargai lingkungan hidup, tetapi tidak mengorbankan kecepatan pengiriman. Mereka ingin semua produk dan layanan tersedia dengan cepat. Akibatnya, konsumen akan menuntut keterbukaan dan informasi real time yang lebih besar dari pemasok. Hal ini akan membuat Internet menjadi lebih penting daripada sebelumnya: pada 2020, banyak penduduk dunia, terutama di negara maju dan berkembang, akan online dan sekitar tiga miliar orang akan menjalankan bisnisnya di World Wide Web. Kecepatan kejadian tersebut akan terus meningkat - bukan hanya di dunia bisnis, tetapi hampir di semua sektor kehidupan. Tuntutan untuk fleksibilitas dan ketersediaan permanen akan meningkat.

Prediksi optimis

Meskipun serangan teroris dan pandemi global akan tetap menjadi ancaman di masa depan, para pakar percaya bahwa berbagai kondisi ini dapat diawasi melalui investasi finansial dan teknologi. Menariknya, walau para pakar Asia lebih pesimis daripada pakar Barat terkait dengan keamanan dan kesehatan masyarakat, mereka cenderung memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan teknologi untuk mentransformasikan bisnis praktis dan memainkan peran inovatif dalam dunia bisnis.
Tren serupa berlaku untuk peningkatan penduduk dunia. Responden dari Asia percaya bahwa kontrol populasi yang dilakukan oleh negara akan menjadi alat yang efektif untuk menahan pertumbuhan penduduk, dan sebagian besar memprediksikan bahwa penduduk dunia akan stabil pada tujuh dan delapan miliar. Namun, responden dari belahan dunia yang lain percaya bahwa populasi akan terus meningkat, dan dengan demikian konsumsi sumber daya juga akan meningkat. "Namun, para pakar kami pada umumnya optimis," kata Frank Appel, "Mereka percaya bahwa tantangan-tantangan di masa depan tersebut dapat dikontrol oleh ekonomi pasar." (mbs)