Senin, 14 September 2009 13:27 wib

Opini Pembaca

Masyarakat Perbatasan Perlu Pendidikan Kewarganegaraan

Daerah perbatasan antarnegara memang banyak masalah yang harus dibenahi. Daerah perbatasan sangat rawan terhada berbagai tindak kejahatan. Hal ini mengingat wilayah perbatasan merupakan wilayah abu-abu, jika tidak dikelola dengan baik, maka tidak tertutup kemungkinan banyak warga negara Indonesia yang beralih status menjadi warga negara asing, karena seringnya interaksi dan adanya kemudahan di pihak negara lain. Selain itu, perbatasan bisa menjadi jalan penyelundupan dan jalan teroris untuk masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat perbatasan perlu diberi pelatihan mengenai kewarganegaraan.

Saya sangat setuju dan mendukung langkah Kedutaan Besar Indonesia di Dilli Timor Leste yang mensosialisasikan mengenai seluk beluk kewarganegaraan. Kedutaan Besar Indonesia di Dili melakukan sosialisasi kepada masyarakat perbatasan dengan menggunakan Buku Saku WNI (BSWNI), yang berisi berbagai petunjuk mengenai hak dan kewajiban karena di wilayah itu masih banyak warga yang belum paham kewarganegaraan.

Kepala Fungsi Politik KBRI di Dili Victor J Sambuaga yang juga Ketua Tim Penyusun BSWNI pada Minggu (13/9) menjelaskan, buku tersebut dibagikan di Balibo, Distrik Bobonaro, Timor Timur, Sabtu (12/9/2009). Permasalahan terkait kewarganegaraan Indonesia di kalangan WNI yang bermukim di Distrik Bobonaro, Timor Timur, itu terungkap saat tim dari Kedutaan Besar Indonesia di Dili melakukan sosialisasi BSWNI yang dihadiri banyak warga Indonesia di Aula Paroki Gereja Katholik Bobonaro. Masyarakat perbatasan sangat antusias mengikuti sesi tanya jawab. Beberapa hal yang mereka tanyakan di antaranya menyangkut persoalan perlintasan masyarakat di perbatasan, misalnya rencana penggunaan kartu pas lintas batas dan fakta bahwa masih banyak WNI yang belum jelas status kewarganegaraannya.

Salah satu masalah mendasar yang semakin mengemuka adalah terdapat begitu banyak orang yang belum memiliki paspor Indonesia, tetapi juga belum diakui sebagai warga negara Timor Timur. Hingga saat ini diperkirakan terdapat sekitar 6.000 WNI yang bermukim di Timor Timur dengan berbagai latar belakang, mulai dari menikah dengan warga setempat, bekerja dan membuka usaha, hingga menjadi konsultan di berbagai instansi di negara itu.

Saya berharap pemerintah memperhatikan dan menjadikan prioritas pembangunan di daerah perbatasan, terutama pembangunan sikap dan mental warga negara Indonesia yang cinta tanah air dan bangsanya.

I Nyoman Tantra
Jl. Raden saleh Jakarta Pusat
Email: inyoman06@plasa.com

(mbs)