Kamis, 17 September 2009 08:50 wib

Opini Pembaca

Hati Boleh Panas, Tapi Kepala Harus Dingin

Di tengah suasana perseteruan KPK versus Kepolisian, sebuah pemandangan tak elok dipertontonkan oleh Anggota Dewan yang terhormat kepada publik di Tanah Air. Kalah beradu argumen, adu fisikpun nyaris terjadi. Praktik demokrasi seperti inikah yang kita idamkan bersama?

Adalah Ali Mochtar Ngabalin dan Syarif Hasan Anggota Komisi I DPR pada 17 September 2009 sama-sama mengutarakan sikap mereka merespon pencabutan RUU Rahasia Negara oleh Presiden..  Adu mulut berlangsung seru, hingga keluar dari substansi pembahasan. Syarif Hasan keberatan atas pernyataan Ngabalin yang dianggap menghina presiden. Syarif menyindir Ali tak beradab. Tak terima dituding tidak beradab, Ngabalin menghampiri tempat duduk Syarif. Mereka pun saling dorong. Beberapa Anggota Dewan yang lain  berusaha melerai dan menenangkan emosi mereka.

Peristiwa itu terekam jelas di kamera para kuli tinta yang bertugas di gedung Dewan saat itu. Mereka tidak mau menyia-nyiakan momen penting ini, karena bagi para wartawan berlaku ketentuan : bad news is good news.  Peristiwa itu memang tidak lazim terjadi di gedung dewan, namun tidak berarti ditabukan bagi seorang legislator, karena di banyak negara, hal ini pun sering terjadi.

Hanya saja dengan kejadian ini menjadi bahan refleksi buat kita, bahwa kalau di lembaga yang begitu terhormat seperti DPR, orang bisa saling mencerca dan bahkan sampai adu fisik, apalagi di tempat-tempat lain yang suasananya relatif lebih panas : di jalan raya, di pasar, di lapangan sepak bola, di pabrik, di lembaga pemasyarakatan, juga sekolah-sekolah dan kampus.  

Sebagai bangsa kita berharap, peristiwa yang dialami Ali Mochtar Ngabalin dan Syarif Hasan menjadi momentum bagi kita untuk mulai mengurangi aksi-aksi kekerasan yang terjadi di berbagai pelosok negeri ini.  Apalagi peristiwa tersebut persis terjadi pada bulan puasa, dimana hawa nafsu dan egoisme (baca: keinginan untuk menang sendiri) harus bisa diredam. Berilah contoh bagi anak-anak kita agar terbiasa menggunakan kata-kata santun dan menjauhkan diri dari sikap saling mencerca.

Anggi Astuti
Jaringan Epistoholik Jakarta (JEJAK)
Tinggal di Parung, Komp. Parung Permai Blok I-2/ No.15, Parung - Bogor
anggiastuti@yahoo.com

(mbs)