Menjelang lebaran, bangsa Indonesia seakan mendapat anugerah dari Tuham Yang Maha Esa, yaitu saat si penebar maut, yaitu Noordin M. Top cs. Dapat dilumpuhkan oleh aparat kepolisian kita, Detasemen 88 Anti Teror.
Selamat buat Densus 88! Itulah mungkin penghargaan yang kita sampaikan setelah mendengar konfirmasi, bahwa operasi Densus 88 di Solo, Jawa Tengah berhasil menewaskan Noordin M. Top.
Harus kita akui, kabar ini sangat mengejutkan. Siapa mengira di tengah kesibukan menyongsong Lebaran, di tengah kesumpekan kita membicarakan perselisihan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)-Polri, atau masalah korupsi pada Bank Century, sejak tanggal 17 September 2009 dini hari kita tercekat mengikuti berita operasi pemberantasan teroris.
Saat itu, Densus 88 mengepung rumah di Kampung Kepoh Sari, Mojosongo, Jebres, Solo. Pengepungan berlangsung hingga Kamis 17 September 2009 pagi, disertai baku tembakakhirnya ditemukan empat jenazah yang kemudian dibawa ke Jakarta. Selain itu, Densus 88 juga menemukan bahan peledak dan senapan serbu.
Akan tetapi, yang menghebohkan adalah kabar yang segera beredar, salah satu dari empat jenazah tadi adalah Noordin M. Top yang selama sembilan tahun terakhir menjadi target perburuan, dan terus berhasil meloloskan diri. Noordin sendiri adalah orang yang dianggap bertanggung jawab atas serangkaian aksi teror besar, mulai dari Bom Bali 2002, Bom JW Marriott 2003, Bom Kedutaan Besar Australia 2004, dan Bom JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 lalu.
Sejak aksi terornya menimbulkan bencana dan tragedi besar bagi negeri ini, sementara sosoknya sendiri berhasil lolos dari sergapan Densus, Noordin bak orang hebat, memunculkan semacam reputasi bahwa ia bisa selalu lolos dari kepungan. Kita masih ingat aksi pengepungan Densus 88 terhadap rumah di Temanggung pada 8 Agustus 2009, yang semula disebut menewaskan Noordin, tetapi ternyata bukan.
Memang, menjadi harapan kita bahwa dengan dapat dilenyapkannya Noordin M. Top, ada semacam satu babakan dalam upaya pemberantasan terorisme di Tanah Air yang bisa kita tuntaskan. Dengan sirnanya Noordin, diharapkan tidak akan ada lagi aksi terorisme di negeri ini.
Namun demikian, kita diharapkan agar tetap untuk lebih waspada terhadap keadaan lingkungan sekitar. Ini karena terulang lagi ada rumah di tengah permukiman dengan aktivitas teroris yang luput dari pengawasan masyarakat.
Oleh sebab itu, walaupun gembong teroris telah dilumpuhkan, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan, karena tidak tertutup kemungkinan, embrio teroris bisa menjadi besar.
ARYO SETYAKI
Kemuning, Pasar Minggu, JAKARTA SELATAN
aryo_setyaki@yahoo.com
(mbs)