Rabu, 25 Juni 2008 10:43 wib

Dilarang Saling Melempar

Gus Dur seperti tak pernah kehabisan cerita, khususnya yang bernada sindiran politik. Menurut dia, ada kejadian menarik di masa pemerintahan Orde Baru. Suatu kali Presiden Soeharto berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Karena yang pergi seorang presiden, tentu sejumlah menteri harus turut mendampingi. Termasuk "peminta petunjuk" yang paling rajin. Menteri Penerangan Harmoko.

Setelah melewati beberapa ritual haji, rombongan Soeharto pun melaksankan jumrah, yakni simbol untuk mengusir setan dengan cara melempar sebuah tiang mirip patung. Di sinlah muncul masalah, terutama bagi Harmoko. Beberapa kali batu yang dilemparnya selalu berbalik arah menghantam jidatnya.

Harmoko melempar lagi. Dan batu yang dilemparnya kembali lagi membentur jidatnya. "Wah kenapa jadi begini, ya?" pikir Harmoko, mulaii gemetar karena takut. Ia lalu berpindah posisi.

Hasilnya sama saja: batu yang dilemparnya seperti ada yang melempar balik ke arah dirinya. Setelah tujuh kali lemparan hasilnya masih sama, Harmoko menoleh kiri kanan, mencari posisi Presiden Soeharto untuk "meminta petunjuk". Ketemu, lalu dengan tergopoh-gopoh menghampiri Bapak Presiden.

Namun, sebelum sampai di hadapan Bapak Presiden, ia turut mendengar bisikan. "Hai manusia, sesama setan dilarang saling melempar."
(ahm)