Gus Dur sedang melakukan inspeksi mendadak ke kantor AWAIR (Abdurrahman Wahid Air) yang ditanganinya untuk melihat kinerja para karyawannya. Di kantor keempat, ia menemukan seorang pria muda yang tengah bersandar di dekat pintu, nampaknya dia tengah bersantai.
Semua pekerja yang ada di ruangan itu tengah sibuk bekerja, kecuali dirinya. Gus Dur segera menghampiri pemuda tersebut dan bertanya, "Berapa gajimu seminggu?" Dengan sedikit terkejut, pemuda itu melihat ke arah Gus Dur dan berkata, "Mmmmm sekitar 100.000 per minggu, kenapa memangnya?"
Si bos mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua lembar uang 100 ribuan. Ia mengulurkan kepada si pemuda, "Ini gajimu untuk dua minggu dan cepat pergi dari sini. Aku tak mau melihatmu lagi." Dengan keterkejutan luar biasa dan juga takut, si pemuda segera meninggalkan tempat tersebut tanpa banyak bicara.
Lalu dengan muka berwibawa Gus Dur melihat para stafnya yang sedari tadi memperlihatkan adegan itu. "Ada kah yang tahu, dari divisi mana pemuda pemalas tadi?" tanyanya. Suasana menjadi hening sampai akhirnya seorang staf menjawab dengan sedikit ketakutan, "Dia bukan karyawan di sini Pak. Dia pengantar kue yang tadi mengantar pesanan ajudan Bapak!"
(ahm)