Kolumnis Mohammad Sobary pernah bertanya dalam tulisannya, "Bila Pak Harto raja senyum, raja apa presiden lainnya?" Dijawabnya sendiri: "Saya tidak tahu yang lain-lain, tetapi Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mungkin raja humor."
Dunia ini memang aneh, Raja Humor ini saat itu menjadi presiden sebuah republik yang mendekati kebangkrutan sosial, kebudayaan, politik, dan ekonomi-nya. Gus Dur, si raja humor, terampil mengejek orang lain, seterampil ia mengejek dirinya sendiri.
Ia, misalnya, berkata bahwa Pak Harto itu dulu presiden New Order. Pak Habibie, presiden in order, boleh juga out of order. Dan Gus Dur sendiri. "Saya presiden no order (tak teratur-pen)," katanya, sambil terkekeh-kekeh mendahului bunyi tawa publik yang mendengarnya.
Dan apa hubungannya presiden new order dan no order? Keduanya sama saja. Sang Raja Senyum perlu interpretasi dari orang lain agar senyum itu dipahami akurat. Sang Raja Humor perlu interpretasi orang di kiri kanannya, agar pernyataan politik, perintah, atau ucapannya bisa dilaksanakan untuk sebesar mungkin kesejahteraan rakyatnya.
Kalau tidak negara bisa repot. Raja senyum cuma senyum. Raja humor cuma terkekeh-kekeh sambil mengejek, "Begitu aja kok repot."
(ahm)