Rabu, 03 September 2008 10:43 wib

Peluru pun Habis

Ini cerita Gus Dur tentang situasi Rusia tak lama setelah bubarnya Uni Soviet. Sosialisme hancur, dan para birokrat tak punya pengalaman mengelola sistem ekonomi pasar bebas.

Di masa sosialisme memang rakyat sering harus antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan pokok, tapi manajemennya rapi sehingga semua orang kebagian jatah.

Sekarang, masyarakat tetap harus antre, tapi karena manajemennya jelek, antrean umumnya sangat panjang, dan banyak orang yang tidak kebagian jatah.

Begitulah, seorang aktivis sosial berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tak kebagian, aktivis itu menulis di buku catatannya, "Roti habis"

Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebi banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat, "Bahan bakar habis!" Kemudian dia menuju ke antrean sabun. Wah, pemerintah kapitalis baru ini betul-betul berengsek. Banyak sekali masyarakat yang tidak mendapat jatah sabun.Dia menulis besar-besar, "Sabun habis!"

Tanpa dia sadari, rupanya dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean sabun itu, si intel menegur.

"Hei, Bung! Dari tadi kamu sibuk mencatat-catat terus. Apa sih yang kamu catat.?"

Sang aktivis menceritakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan barang bagi rakyat.

"Untung kamu ya, sekarang sudah jaman reformasi," ujar sang intel. "Kalau dulu, kamu sudah ditembak."

Sambil melangkah pergi, aktivis itu mencatat: "Peluru juga habis." (ahm)