Senin, 08 September 2008 10:37 wib

Kisah Pandawa dan Kurawa

Apa jadinya kalau dalang mbeling Sujiwo Tedjo ketemu dengan Gus Dur? Inilah yang terjadi pada acara wayangan yang diselenggarakan di Gedung MPR/DPR pada Agustus 2000. Selain Gus Dur, tampak hadir antara lain Ketua DPR Akbar Tandjung dan isteri, Permadi, Garin Nugroho, dan beberapa anggota MPR/DPR, dan sejumlah menteri.

Dalam acara wayang lazimnya ki dalang sesekali mengajak penonton untuk ikut nimbrung dalam cerita. Cuma kali ini, penonton yang diajak nimbrung tak tanggung-tanggung: seorang presiden. Begitulah, Ki Tedjo, mantan wartawan dan sarjana ITB yang berasal dari Situbondo (jadi satu 'negara' dengan Gus Dur, sama-sama orang Jawa Timur) terus mengusik sang presiden dengan banyak pertanyaan yang dikaitkan dengan cerita yang sedang digelarnya.

Dialog pun terjadi antara dalang dengan Gus Dur yang duduk di depan panggung.

"Menurut Anda, sebenarnya antara Kurawa dan Pandawa itu yang salah siapa sih?" tanya Tedjo. "Kok hampir tiap hari mereka itu bertengkar terus? Kok mereka itu enggak pernah bisa rukun? Yang salah itu sebenarnya siapa: Sengkuni, Kresna, atau Arjuna?"

"Yang salah itu konsepnya," jawab Gus Dur enteng, disambut tawa panjang penonton.

"Lho, padahal konsep wayang kan sama saja, Gus?"

"Semua orang melihat Kurawa dan Pandawa itu secara hitam putih, seperti bandit dan koboi (Kurawa dianggap jahat, Pandawa baik). Padahal semestinya tidak begitu," ucap Gus Dur.

Menurut ? Gus Dur, kelompok Pandawa adalah orang-orang yang sudah tidak punya keinginan dan kepentingan jelek.

Bagaimana dengan Kurawa?

"Kelompok Kurawa adalah orang-orang yang sedang melangkah menuju sikap seperti Pandawa itu. Maka sebenarnya dia itu bukan kalah. Kurawa berbuat macam-macam itu hanya karena belum matang jiwanya. Maka, kewajiban Pandawa adalah mengalahkan Kurawa, supaya bisa diarahkan ke jalan yang baik. Itu sebabnya ada parikesit, yang 'netral' berdiri di atas semua golongan. Parikesit itu bersaudara dengan Kurawa maupun Pandawa.

"Berarti Pandawa dan Kurawa itu harus dirangkul ya Gus?" tanya Tedjo lagi.

"Lha, inggih. Sebab, Kurawa itu bukan bandit."

"Tapi Kurawa dijadikan bulan-bulanan hinaan terus..."

"Itulah salahnyam," sahut Gus Dur lagi. Hadirin pun terbahak-bahak sambil bertepuk tangan riuh.

"Kurawa itu calon Pandawa," tambah Gus Dur.

"Tapi, orang-orang ini aneh, bolak balik keliru melulu. Dan yang paling keliru adalah dalangnya..."

"Wah, kalau begitu saya lebih baik pulang saja," ujar Ki Dalang Tedjo, pura-pura ngambek. (ahm)