Gus Dur pantas dijuluki sebagai mantan Presiden RI yang paling aktif. Bagaimana tidak? Sehari dia bisa menjelajahi separuh dari NKRI. Subuh ada di Jakarta, zuhur di Surabaya, kemudian Madura atau Makassar dan maghrib sudah di Jakarta lagi.
Tentu saja, cepatnya mobilitas Gus Dur itu berkat adanya pesawat terbang. Burung besi itu bagaikan rumah Gus Dur yang ketiga, setelah rumah kediamannya sendiri dan mobil yang mengantarnya keluyuran.
Sebagian besar waktunya dihabiskan di ketiga tempat tersebut. Karenanya, sembuh dari sakit yang mengharuskan Gus Dur ngamar 2 minggu di dua rumah sakit, dokter pun mengeluarkan "travel warning": "Gus Dur tidak boleh naik pesawat!" maksud dokter sih menghadang secara halus mobilitas yang melelahkan Gus Dur agar tidak pergi jauh-jauh.
Soalnya kalau langsung dilarang, dia akan langsung bilang, "Wong saya gak pa-pa kok!" Jadi dokter menggunakan alasan tersebut. Gus Dur pun berjanji akan mematuhinya. Namun, beberapa hari kemudian datanglah undangan ceramah di Surabaya untuknya.
Gus Dur menyambut baik undangan itu karena baginya itu merupakan kesempatan untuk bertatap muka secara langsung dengan umatnya. Saat dokter mencium rencana itu, Gus Dur pun diingatkan soal larangan naik pesawat. "Iya Pak Dokter!" kata Gus Dur.
"Bagus..." ujar dokter. Belum selesai tarikan napas lega sang dokter, Gus Dur menambahkan: "Tapi saya sudah punya tiket kereta..."
(ahm)