Kamis, 31 Januari 2008 15:31 wib
Dibalik Liputan Soeharto
"Hei, Soeharto meninggal!...," ujar Sutarmi dari ujung telepon. Suaranya keras tapi jelas dengan nada gemetaran.
Teman kami, Muhammad Hasits yang menerima kabar pertama dari Mamik, demikian nama panggilan Sutarmi yang tengah meliput kondisi kesehatan Soeharto di RSPP belum yakin dengan kabar tersebut.
Telepon kemudian diserahkan ke M Budi Santoso, Redaktur Pelaksana, yang berada di belakang Hasits. MBS, demikian teman-teman di okezone sering memanggilnya, kembali memastikan kabar tersebut dan langsung menyuruh Mamik membuat laporan. "Sudah pasti Mas. Meninggal," ujar Mamik lagi.
Keyakinan Mamik membuat teman-teman segera menindaklanjuti, dengan membuat berita cepat agar bisa segera disampaikan ke pembaca. Asred Fitra Iskandar yang tengah piket Minggu siang segera menyambar laporan tersebut. Hanya dalam hitungan detik, sebuah berita pertama mengenai meninggalnya Soeharto kelar.
Kok cepat sekali beritanya muncul? Sejak jauh hari, Fitra sudah menyiapkan drat berita meninggalnya Soeharto ini. "Tinggal diisi pukul dan siapa yang ngomong. Kelar deh," ujar Fitra.
Fitra mengaku mempersiapkan berita besar untuk peristiwa penting ini dilakukan jauh-jauh hari. "Kalau liang lahat untuk makam Soeharto saja sudah lama dibuat, kenapa kita juga gak buat draftnya. Tinggal isi pukul berapa dan siapa sumbernya. Kelar kan?" ujarnya kalem.
Yang jelas, kabar Soeharto wafat membuat geger kantor. Pasalnya, berita besar ini muncul bukan dari sumber yang selama ini paling pas untuk mengumumkan ke publik. Informasi Soeharto meninggal ini tanpa diduga diperoleh wartawan dari Kapolsek Kebayoran Baru Kompol Dicky Saundani.
Awalnya, puluhan wartawan yang sedang duduk-duduk di lobi RSPP curiga dengan datangnya sejumlah aparat kepolisian dari Polsek Kebayoran Baru. Bisik-bisik ada yang bilang, Wapres Jusuf Kalla akan ke RSPP untuk membesuk Soeharto yang tengah dalam kondisi sangat kritis.
Namun, jumlah polisi makin banyak. Akhirnya wartawan menayakan kedatangan polisi ini ke Kapolsek Kompol Dicky. Saat ditanya, Dicky langsung menjawab. "Innalillahi...Pak Harto wafat," ujar Dicky.
Kontan saja wartawan tak langsung percaya. Mereka merasa perlu mendapat penjelasan lagi, kalau kabar tersebut memang benar. "Pak diulang lagi pernyataan tadi. Diulang lagi Pak," kejar wartawan sambil menyodorkan tape rekaman dan sejumlah kameramen televisi meminta diulang untuk diambil gambarnya.
Dalam waktu singkat, suasana RSPP langsung ramai oleh hiruk pikuk liputan. Hal yang sama juga terjadi di markas kami di Kebon Sirih. Suasana kantor yang awalnya sepi, menjadi ramai. Separo awak Redaksi yang masuk hari Minggu, langsung menghubungi berbagai kalangan, untuk memastikan kabar ini dan mencari tahu proses berikutnya.
Semua awak Redaksi langsung bergerak. Korlip Ahmad Dani yang tengah libur dan bercengkerama bersama putri kesayanganya, langsung ke kantor sambil menghubungi para reporter yang tengah libur untuk meliput ke sejumlah lokasi. Memperkuat liputan di RSPP, kediaman Soeharto di Jalan Cendana dan Bandara Halim Perdanakusumah.
"Uthe, giliranmu malam ini nginep di Jalan Cendana. Jangan lupa bawa obat nyamuk. Untuk Hariyanto, lo siap-siap nginep di Halim," ujar Dhani ke Lutfie Dwipujiastuti yang sering dipanggil Uthe dan Haryanto Kurniawan.
Koordinator Liputan Daerah (Korda) Nurfajri Budi Nugroho yang tengah bersiap-siap berangkat untuk menghadiri acara keluarga, saat mendengar Soeharto meninggal, langsung meluncur ke kantor. Demikian juga Ismoko Widjaja, Asred "serba bisa" langsung bergabung dengan tim hari Minggu, membantu Pipiet Tri Noorastuti, untuk mengupdate kasus besar ini. Tentu saja, update berita dibantu tim dari kanal lain.
Reporter kanal bola, Bagus Kurniawan langsung meluncur ke Cendana bersama dengan Chandra yang selama ini meliput Techno. Hadi Suprapto yang juga tengah libur langsung kontak kantor. "Ada yang bisa saya bantu," kata reporter Economy itu. "Kamu langsung aja ke Bandara Halim," ujar Budi Santoso yang ikut sibuk mengatur pembagian reporter.
Sementara Nuria yang selama ini sibuk meliput di Depkeu pun segera diminta untuk meliput situasi jalan yang dilalui iringan jenazah Pak Harto dari RSPP ke Cendana. Nuria pun sibuk menyampaikan laporan pandangan mata di Seputar jalan. Peristiwa demi peristiwa akhirnya terus mengalir dari lapangan, temasuk dari Solo dan Astana Giribangun.
Untuk memperkuat liputan di Solo dan Astana Giribangun, dua reporter Jakarta meluncur ke Solo. Muhammad Hasits berangkat ke Solo via Yogya Minggu sore dan Hariyanto Kurniawan berangkat ke Solo Senin dinihari bersama rombongan MNC grup yang membawa pesawat khusus dari Halim Perdanakusumah.
Tentu saja, seluruh laporan hangat ini banyak mendapat support dari teman-teman Koran Sindo dan Radio Trijaya yang terus menerus melaporkan berbagai peristiwa yang terjadi di lapangan. Laporan-laporan mereka, tentu untuk kami harapkan membuat Anda semua pembaca okezone puas.
Foto1: Dari kiri ke kanan atas,Fitra,Pipiet, Mamik
Bawah: Uthe, Haryanto, Hasits
(sjn)