Jum'at, 01 Pebruari 2008 09:43 wib

Soeharto sebagai Pahlawan

Aaiihhh...! Sungguh miris hati saya akhir akhir ini membaca berita berita yang dimuat di berbagai media massa. Dari NY times, Der Spiegel, Strait times, Asia News sampai CNN, Detik.com, Tempointeractive, Kompas. ... Semuanya memuat tentang Soeharto dari sebelum meninggal sampai sesudah dikuburkan.

Sebagai manusia, saya turut berdukacita dengan kepergian beliau. Wajah yang ramah dan senyum yang khas, mengingatkan saya bahwa beliau adalah orang yang berkharisma. Akan tetapi kesedihan saya terutama mengingat bahwa dengan segala kekuasan yang beliau punyai, akhirnya toh kalah dengan malaikat maut. Apalagi berita berita sebelum dia meniggal, dengan begitukah orang yang dahulu di puja puja itu meninggalkan dunia ini? Dengan nama yang sangat tercemar? Sungguh memprihatinkan.

Pepatah mengatakan, Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading. Sedangkan presiden kedua kita meninggalkan nama yang tercemar dan berbagai perkara korupsi yang tidak bisa di selesaikan. Yang semasa hidupnya penuh kelimpahan, di akhir masa hidupnya mendapat begitu banyak cacian. Minta maaf sana sini, akan tetapi, berapa gelintir rakyat Indonesia yang bisa prihatin dengan kondisinya saat akhir?

Sebelum beliau meninggal, kebanyakan yang saya baca adalah cercaan dari orang orang yang tetap menuntut keadilan. Walaupun banyak pejabat pejabat yang coba menyelipin rasa prihatin dan berusaha menunjukan positivenya pak Harto, akan tetapi, penderitaan sebagian besar rakyat Indonesia tidak bisa ditebus hanya dengan penyesalan yang semudah itu. Dari semua yang saya baca, semua mengkaitkan beliau dengan korupsi yang jumlahnya billion dollars. Memang benar Pak Harto telah membangun bangsa ini. Akan tetapi, bukankah semua orang yang diberikan kesempatan duduk di kursi presiden selama 32 tahun dengan tangan besi akan mampu melakukan apa yang Pak Harto lakukan saat itu?

Saya dilahirkan setelah zaman PKI di Aceh. Walaupun demikian, saya merasakan ketakutan yang sangat besar, growing up discussing politics. Saya ingat masa kecil saya, gambar Presiden dan ibu Tien ada di ruang tamu keluarga orang tua saya. Kalau orang tua saya kumpul kumpul dengan temen temennya, sedikit menyerempet ke politik, mama saya sudah langsung suruh tutup pembicaraan. Karena mereka tidak tau siapa diantara tamu tamunya yang jadi mata mata. Bisa bisa kepala putus. Dengan tidak adanya kebebasan berpolitik, semua kelihatan aman aman aja. Saya waktu itu masih kecil, tidak mengerti kenapa mau bicara soal pemerintah aja orang mesti ketakutan. Malah setelah saya kuliah di Jerman, dimana ada sebagian orang-orang pelarian zaman Soekarno ada di Berlin, untuk ?hang out' dengan orang-orang itu aja, kita dibisikin supaya hati-hati. Bisa-bisa ikutan ngga dibolehkan pulang ke Indonesia. Setelah banyak membaca tentang history Indonesia di luar negri, saya baru sadar, begitu Pak Harto menjadi presiden, semua orang yang menentang akan dilenyapkan dianggap seperti PKI. Nggak heran api yang dipendam akhirnya meletus dengan kejadian Mei 1998. Aman yang ada pada saat itu adalah aman yang semu.

Dengan harta kekayaan yang diraup sama keluarga & kroni Pak Harto semasa kekuasaannya, dengan kelimpahan kemewahan semasa beliau hidup, apakah layak, kalau para pejabat masih meluangkan waktu untuk mendiskusikan soal gelar pahlawan buat Pak Harto sekarang ini?

Apakah tidak lebih baik kalau DPR/MPR membahas, bagaimana memberantas kemiskinan yang dirasakan rakyat di bawah? Apalagi dengan inflasi yang begitu besar saat ini, usaha apakah yang pemerintah bisa galakkan supaya setiap rakyat Indonesia bisa mampu punya tempat tinggal yang layak dan makanan serta pendidikan yang cukup? Rakyat yang kenyang tidak akan mudah dibayar untuk demo-demo di jalan-jalan. Kalau lapar, ngga di bayarpun dengan mudah api di kobarkan. Bukankah karena itu DPR/MPR dipilih?

Seandainya MPR/DPR sadar dan membaca juga, setidaknya barita berita akhir akhir ini bisa didiskusikan supaya beliau beliau yang di pemerintahan sekarang ini tidak akan mengalami kemaluan yang di tanggung Pak Harto di akhir hayatnya akibat korupsi. Sampai matipun namanya di seluruh dunia akan dikait-kaitkan dengan harta-(haram)-nya. Pahlawan? I would never ever mention that word.

Karena Pak Hartolah, maka Negara ini ada di list Negara yang terkorup di dunia. Untuk memberantas korupsi seakan tidak memungkinkan lagi. Karena korupsi sudah mendarah daging. Diberantas yang di atas, yang tumbuh lagi lebih banyak lagi. Pegawai negeri dianggap jalan menuju kemakmuran. Bagaimana bisa menyapu dengan sapu yang kotor? MA (majelis tertinggi) dipilih oleh kalangan MA sendiri. Irawady Yunus yang MK aja terlibat korupsi. Isn't that sad? BI, self service. Mau diberantas, mulainya dari mana? Ibarat ngga ada ujung pangkalnya lagi. Tiap hari ada berita tentang koruptor, tapi berapa banyak dan berapa lama dipenjarakan? Berapa duit yang harus dikeluarkan untuk memeriksa orang-orang seperti itu. Ingat cerita Adelin Lis? Dimanakah orang itu setelah dengan susah payah ditangkap dari China di bawa pulang ke Indonesia hanya untuk di bebaskan olah hakim hakim pengadilan negeri Medan. I mean it. Hakim Hakim! I wish Petrus dihidupkan kembali. Tapi kali ini bukan untuk orang orang yang mengkritik pemerintah, melainkan buat para koruptor, the untouchable.

Malu yang di tanggung sama Pak Harto di akhir hayatnya, mungkin tidak sebanding dengan kesenangan yg dicicipin seumur hidupnya. Berapa persen orang di Indonesia bisa mempunyai taman buah/bunga seluas punya pak Harto, apalagi ladang kuda Tapos? Jalan Cendana yang bisa tutup/buka sesuka Pak Harto? Anak cucu yg hidup dalam kemewahan. Malah sampai akhir hayatpun Pak Harto tidak kekurangan. Siapa di antara kita yang bisa dikuburkan di musoleoum seperti Astana Giri Bangun yang dibangun ala kerajaan zaman dulu? Pernahkah anggota MPR/DPR kita mengajak penjual baso keliling berbincang bincang kenikmatan apa yang mereka pernah alami semasa hidupnya selain bisa senang cuman kalau lagi pulang kampung? Apakah masih kurang hutang rakyat Indonesia yang masih harus dibayarkan ke beliau?

Lili
USA, Providence

(mbs)