Pada hari Minggu, 9 Maret 2008, saya dan ibu saya bermaksud melakukan perjalanan dari Surabaya ke Jakarta dengan menggunakan Garuda GA 321. Sesampainya di Bandara Juanda dan setelah melakukan check in, Ibu saya dengan membawa ticket (termasuk ticket atas nama saya) keluar ruang check in menemui adik saya untuk suatu urusan.
Begitu akan masuk kembali ke ruang check in, Ibu saya memperlihatkan ticket sebagaimana seharusnya kepada penjaga berbaju kuning bernama Nurhayati, tetapi petugas ini dengan kasar menghardik ibu saya karena "Ticket muter-muter" dan kedua ticket ibu saya dan saya ditahan oleh petugas tersebut.
Ibu saya sudah berusaha menjelaskan bahwa beliau bernama Heni sesuai dengan nama yang ada di ticket tetapi karena tidak membawa dompet, KTP atau pun handphone karena saya yang pegang, petugas tesebut tetap tidak memperkenankan ibu saya masuk dan menahan ticket.
Sampai pada akhirnya saya ikut keluar dan menemui ibu saya yang sedang dihardik secara kasar oleh petugas bernama Nurhayati tersebut.
Saya menjelaskan dan memberikan identitas ibu saya kepada petugas sekaligus mengungkapkan keberatan atas perlakuan yang diberikan kepada ibu saya, tetapi dengan sombongnya petugas tersebut melengos dan petugas lain berbaju biru bernama Sama' (kumis tebal. pendek, kekar) mendatangi saya dan berlagak jagoan ikut-ikutan menghardik dengan bahasa yang sangat kasar dan tidak sopan. Tetapi mengingat saya dan ibu saya sudah mendapatkan panggilan untuk boarding, akhirnya saya meninggalkan kedua petugas menjengkelkan tersebut menuju ke pesawat.
Saya sarankan kepada pihak Angkasa Pura untuk bisa lebih selektif dalam memilih petugas bandara dan tidak membiarkan petugas seperti Nurhayati dan Sama' (kumis tebal. pendek, kekar) untuk berkeliaran di bandara sehingga berpotensi membuat para pelanggan tidak nyaman.
Vivie
Kebonpala, Jl Puskesmas 38
Halim Perdanakusumah
Jakarta Timur
(sjn)