Publikasi film "Fitna" yang mendiskreditkan kitab suci Al-Qur'an dan Rasulullah Muhammad SAW disikapi dengan beragam oleh umat Islam. Namun, tentu saja sikap yang paling mencolok dan terlihat secara gamblang adalah mereka yang menyikapinya secara emosional. Trenyuh rasanya melihat bahasa kekerasan tampaknya sudah menjadi bahasa sehari-hari bagi bangsa ini.
Saat melihat film "Fitna", saya mencoba untuk berpikir jernih, mencerna detil isi film secara objektif. Memang benar banyak sekali kesalahan "Fitna" dalam memahami Islam. Dan saya memakluminya, karena orang-orang di balik "Fitna" adalah orang-orang yang tidak memahami Islam. Mereka hanya sedikit mencari informasi mengenai Islam dengan tendensi untuk menyudutkan umat Muslim. Hasilnya, informasi yang mereka terima hanyalah informasi-informasi yang mendukung tujuan mereka, tidak peduli apakah informasi tersebut benar atau salah. Di sini saya katakan "mereka" karena "Fitna" pada dasarnya adalah sebuah hasil amal jama'i.
Saat melihat reaksi umat muslim, di negeri ini khususnya, yang bereaksi sangat cepat terhadap "Fitna" saya sangat bangga bahwa ternyata di tengah kebrobrokan moral bangsa ini masih banyak orang yang tidak rela ketika Al-Quran dan Rasulullah SAW dipandang secara salah. Namun saya merasa sedih ketika melihat sebagian umat muslim di negeri ini menjawab "Fitna" dengan bahasa kekerasan. Demo-demo dipenuhi spanduk-spanduk yang berisi ancaman dan hinaan terhadap pembuat "Fitna", pelemparan telur ke kedubes Belanda, pernyataan-pernyataan emosional dari para pemuka agama dan masyarakat, bahkan pemerintah Indonesia sendiri menjawab "Fitna" secara emosional dengan memblokir semua situs yang memuat film "Fitna". Seakan-akan jawaban emosional itulah yang akan mampu mengalahkan "Fitna".
Saya mencoba memahami semuanya. Sebuah kewajaran jika umat muslim (termasuk diri saya) merasa emosi melihat propaganda "Fitna" yang menyudutkan umat Muslim. Tapi, apakah hanya itu jawaban yang bisa kita berikan? "Fitna" merupakan hasil pemikiran yang salah tentang Islam. Apakah sebuah kesalahan fatal jika seseorang berpikir salah tentang sesuatu yang tidak ia ketahui? Jika ada seseorang dari suku pedalaman yang belum pernah tahu tentang pesawat terbang kemudian ia melihat pesawat terbang dan berpikir bahwa mobil adalah sejenis burung raksasa, apakah itu salah? Apakah kemudian orang itu harus dihukum karena pemikirannya yang salah?
Kita bisa menjawabnya dengan lebih bijaksana, luruskan pemikirannya, beritahukan hal-hal yang belum diketahui dengan jelas dan gamblang. Kewajiban umat muslim bukan hanya "nahi munkar", justru "amar ma'ruf" yang harus dikedepankan. Jika kebaikan sudah tersebar, Insya Allah kemunkaran akan sangat minim sekali.
Mari kita belajar dari sosok manusia yang paling sempurna, Rasulullah Muhammad SAW. Semasa hidup beliau banyak orang-orang yang belum memahami Islam mencerca, menghina, bahkan menyakiti beliau secara langsung. Tapi kemudian apakah Rasulullah SAW menjawabnya dengan kekerasan? Tidak! Rasulullah menjawabnya dengan kelembutan, kesabaran, dan silaturahim. Justru dengan hal itu semakin banyak yang sadar dan mengetahui kebenaran ajaran Rasulullah SAW.
Demo-demo yang berisi kecaman, aksi-aksi anarkis, pernyataan-pernyataan yang mengerikan, tindakan-tindakan represif tidak akan menyadarkan masyarakat bahwa "Fitna" adalah sebuah kesalahan pemikiran. Justru hal-hal itu akan semakin menguatkan pencitraan umat muslim dalam film "Fitna", masyarakat akan semakin terjebak dalam pemikiran yang salah hanya karena umat muslim tidak mampu menjawab pertanyaan "Fitna" dengan benar.
Maaf jika saya tidak mengatakan bahwa "Fitna" menghina dan melecehkan Islam. Yang saya tangkap, publikasi "Fitna" mencerminkan pertanyaan dari para pembuatnya terhadap pemikiran mereka tentang Islam, khususnya mengenai ayat-ayat dan hal-hal yang mereka gambarkan dalam "Fitna". Mereka sedang mencari kebenaran Tuhan wahai saudara-saudaraku. Mereka sedang mencari Tuhan sebagaimana Ibrahim A.S. mencari Tuhannya. Dan mereka sangat memerlukan jawabannya!
Hingga saat ini saya masih menunggu. Saya masih menanti sebuah jawaban yang bijaksana, yang mampu meluruskan "Fitna". "Fitna" sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan sudah dikonsumsi oleh pikiran jutaan umat manusia. Pemblokiran konten fitna adalah pekerjaan sia-sia dan tidak mampu menjawab inti persoalan "Fitna".
Jika saja saya memiliki kemampuan untuk membuat sebuah film sederhana, saya akan membuat sebuah film yang berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan "Fitna". Bukan sebuah film yang menyerang balik, tetapi film yang meluruskan kesalahan-kesalahan pemikiran dalam "Fitna". Bukan sebuah film yang berisi ancaman atau hinaan terhadap umat lain, tetapi film yang berusaha membuka pikiran mengenai Islam yang sebenarnya.
Wallahu'alam bisshowab
-masardi-
Masardi.Web.ID [masardi@masardi.web.id] (mbs)