DIKRIMINASI di negeri ini kembali sedang berjalan, kesenjangan si miskin dan si kaya selalu menjadi titik tolak keputusan pemerintah.
Tidakah terpikir oleh pemerintah bahwa dengan konversi minyak tanah ke gas saja si miskin mana yang diuntungakan? kemudian lahir lagi konversi premium ke pertamax, sekarang si miskin mana lagi yang mau di topang?
Seharusnya pemerintah mengalkulasi efek domino dari keputusan tersebut bagi rakyat kecil dan menengah, jangan dengan pola pikir sangat sederhana. Angkot, bus umum, dan mobil umum tidak terpengaruh. Harusnya SBY-JK mengkaji bagaimana pelaku usaha industri perumahan, restoran kecil, dan sentra sentra industri abangan yang menggunakan kendaraan pribadi untuk menopang usaha mereka?
Kalau itu tidak terkena pemgecualian berarti hasil industrinya akan naik, otomatis memberatkan rakyat kecil.
Kemudian Wapres JK mengatakan ini hanya berlaku bagi pemilik mobil Mercy, Volvo, BMW, dan mobil mewah lainnya, dan batasan tahunnya berapa bung? apa anda yakin bahwa pemakai mercy, dll itu penghasil uang yang mapan? apa tidak terpikir juga oleh bung pengguna Xenia, Avanza, APV, dll tidak terkena danpak? Padahal salah satu tingginya harga minyak di negri ini adalah karena ulah para broker Pertamina.
Bayangkan! Kita sebagai rakyat dari zaman baheula sampai sekarang tidak pernah tahu berapa harga dasar dan harga beli minyak di negri ini. Andai saja Pertamina mau beli langsung minyak mentah tanpa lewat calo mungkin sudah meringankan.
Jadi kata kuncinya , mau tidak pemerintah menghapuskan percaloan di pertamina yang notabene juga banyak eks pejabat negara dan keluarga atau di nastinya malah mungkin pejabat negaranya juga terlibat pencaloan.
Kemudian penanganan hukum pengemplang utang baik BLBI maupun yang lain lain dapat memperingan beban rakyat andai di proses secara jujur. Bangunlah! di negeri ini sedang terjadi kamuflase dan pembohongan publik.
Jaim
Pancoran, Jakarta
Telp 91787709 (mbs)