Kamis, 08 Mei 2008 12:58 wib

Tanggapan : Fenomena Cellular

Tanggapan : Fenomena Cellular

Saudara sebangasa se-tanah air...
Tentang fenomena celluar di tanah air kita, mungkin adalah link sistem yang efektif dalam imperialis kapitalis modern. Cellular mungkin yang terkini dalam mengeruk rupiah untuk dikonversikan ke dollar dan di bawa ke LN, coba tengok sederetan daftar panjang apa yang sebenarnya selama ini tanah air kita dijadikan sumber kekayaan dan kemakmuran bangsa lain :
1. Mulai dari VOC ( 350 thn ) sukses mengeruk untung dalam perdagangan rempah-rempah dan menjalankan misi mereka : Gold, Gospel, dan Glory.
2. Lalu era Orba, ketika stabilitas mulai tercipta, eh..malah bangsa sendiri mulai menjajah, ketika MR. I.S ditunjuk jadi dirut Pertamina, mulailah era KKN, Konglomerasi, Monopoli, dimana segala sesuatu urusan dan kekayaan potensial negara harus berkaitan dengan cendana. Kolusi dengan bangsa asing dalam banyak pertambangan, mulai dari Caltex ( semula hanya perusahaan kecil di California ), lalu Freeport ( katanya cuma menambang tembaga, kok emas yang disedot ), lalu industri-industri strategis, distribusi, baik itu atas nama BUMN, PMA atau yang dimiliki langsung oleh lingkar cendana.
3. Setelah era minyak, lalu tanpa sadar Kayu. Telah lama hutan di Indonesia di kapling-kapling atas nama hak pengusaha hutan, ada jutaan hutan di Indonesia yang dikuasai atas modus ini, dan masih oleh lingkar grup cendana.
4. Setelah era reformasi, MR. W dan A-nya seperti bersumpah akan mengamankan pak mantan ( tentu dengan aset-aset keluarga, aset kroni baik di dalam dan berkaitan dengan yang di LN.
Dan terbukti, kejayaan dan kekayaan yang dihasilkan lewat KKN selama ini sampai hari ini masih berjaya ( walau sudah berganti kulit/majamenen ) atas nama tergadai, disita untuk BLBI, tapi asset yang dibeli dari uang BLBI kan tetap aman.

Mereka-mereka inilah sekarang yang bertaji, sebenarnya masih muka-muka lama, tapi yang ditampilkan adalah generasi penerus mereka hasil gemblengan mental dan doktrin 32 tahun. Mereka seperti serempak tampil bak generasi cemerlang, aktif, energik, visioner, aktif berpolitik, aktif di berbagai organisasi, pintar, tapi tetap saja mereka adalah duri dalam daging yang akan melanggengkan mental penjajah, yaitu ingin menjajah bangsa sendiri. Dengan berbagai cara tipu muslihat, dari segi politik, ekonomi, sosial,budaya bahkan agama mereka mainkan untuk merusak bangsa bagaimana caranya supaya bangsa ini menjadi pusing sendiri, sibuk memikirkan kehidupan yang makin sulit. Coba pikir lagi, apa dari kehidupan kita yang tidak diobok-obok oleh doktrin mereka ini? Mulai dari urusan sandang, pangan, tempat tinggal, pekerjaan, budaya dan agama? Makan? pangan mahal, petani susah beli pupuk, karena dulu orba telah meracuni tanah dengan pupuk kimia berlebihan, sehingga sekarang, tanah kalau tidak dipupuk dengan pupuk ciptaan mereka ( kimia ) hasil tani sedikit. Pakaian? bolehlah kita sekarang lebih modis, daripada jaman dulu waktu perang dengan Belanda.
Budaya? budaya luhur bangsa ini sudah mulai luntur, sekarang tampil jaman gaul, jaman global, era multi media, canggih.
Agama? Satu agama sekarang sudah beranak pinak menjadi beberapa aliran biru, justru direkayasa untuk menjadi biang permusuhan. Sementara mereka juga sibuk mengatur strategi, yang seolah-olah ingin mengambil hati rakyat, bermacam caranya.
Jadi, kita ini cuma dijejali berbagai macam persoalan, anehnya pemerintah, legislatif dan yudikatif dari waktu ke waktu justru makin memperburuk keadaan.
Pemerintah ? Perekonomian semakin buruk, semua mahal, pendidikan dan kesehatan tidak berkembang. Legilatif? mereka sibuk menjadi politikus bak jaman romawi kuno ingin menunjukkan kekuasaannya yang justru sebenarnya mereka hanya diberi mandat oleh rakyat selama 5 tahun saja, mereka ini sibuk memperjualbelikan otoritas, membuat pesanan Undang-undang, sibuk memperkaya diri ( karena mereka harus mengembalikan modal kampanye yang sudah banyak buang duit untuk menang ).
Yudikatif? Wah lebih parah lagi, mereka ini justru sibuk melacurkan profesi hanya untuk kekayaan dan setoran, mulai dari kepolisian sampai ke MA. ( Masa Ketua MA tidak mau di audit?), ini orang berbahaya, sbg kader Golkar, beliau ini diposisikan untuk mengamankan muara hukum dari berbagai kasus ORBA, siapa saja yang berbuat dari generai orba ( sampai sekarang genre orba masih berkuasa/ hanya ganti baju saja pindah aliran politik supaya tetap eksis ), toh apapun hasil keputusan di pengadilan, muaranya ke MA juga, nah beliau ini dipasang sebagai palang pintu terakhir. Mana ada kasus dari genre orba yang betul-betul dahsyat sampai diproses? Kan akhirnya kandas di tangan MA. Kejaksaan agung apalagi, masa sepakat melenyapkan uang BLBI sebesar 600 T, gile.. Mau dia mati demi mempertahankan bahwa kasus BLBI sudah clear, harus ditutup.

Ada apa ini? Masih banyak lagi saudara sebangsa dan setanah air?
Ini bukan paparan frustasi, tapi kenyataan hidup bangsa tercinta ini.
Mungkin ada yang berpendapat, masih banyak yang oke-oke saja dengan Indonesia saat ini ( juga masa lalu ). Justru mereka ini yang perlu dipertanyakan nuraninya ( juga imannya ), kita enak-enak hidup ditengah kesengsaraan, ketidak adilan, kemiskinan, kebodohan, bahkan kelaparan ( kasus busung lapar ada di sulsel ), dimana letak hati mereka ini? Kekayaan tanah air ini bukan milik mereka-mereka, yang hanya berdalih atas nama hak ekslusif melalui badan usaha, kelompok atau kepentingan tertentu.

Mungkin lebih baik dipakai prinsip sosialis dulu, ciptakan dulu keadilan, pemerataan, baru kemudian yang mau kaya silakan, kalau setiap warga negara juga sudah memiliki hal yang sama, kesempatan yang sama.
Mungkin kita cari siapa yang salah, sistem demokrasikah yang telah mengelabui kita? atau ideologi yang sebenarnya tidak sesuai? Atau sistem ketatanegaraan kita yang rapuh? Atau orang-orang yang telah terlanjur kita salah memilih? Atau kita sendiri yang lebih bersalah? Pertama, ya salah pilih, selanjut salah masuk partai politik ( masih salah pilih ), salah dalam menyikapi doktrin penguasa, salah dalam menyiasati kehidupan berbangsa dan bernegara,sehingga selalu menjadi korban, selalu diadu domba, salah kita dalam memelihara nurani, sehingga selalu mudah percaya pada bujuk rayu orang-orang yang tampil, toh mereka justru tetap menjerumuskan. banyak lagi salah kita. Apabila secara kolektif, individu kita dikumpul dalam wadah negara, maka ada hampir 200 juta individu yang harus bertanggng jawab dan mengambil posisi berhadapan dengan 20 juta yang lain yang tampil sebagai penguasa, politikus, aparat, pengusaha yang selama ini dan kedepan akan tetap tampil sebagai drakula bagi bangsa ini keseluruhan. KIta harus mengambil sikap yang jelas, selamanya yang namanya minyak, tidak bida dicampur dengan air, air tidak akan jadi minyak, dan minyak tidak akan jadi air. Kita buat garis pemisah, kita bersihkan, baru kita tata kehidupan bangsa ini ke depan.

Ghalib Award
Jl. Cendana, Jakarta
+628112222234 
(fer)