Jum'at, 09 Mei 2008 14:34 wib

Bersyukur di Tengah Kesesakan

Pada saat ini, masyarakat Indonesia berada pada masa yang sulit. Harga bahan pokok naik, sulitnya lapangan kerja, tingginya kriminalitas, bencana alam dan saat ini kita tengah menanti rencana naiknya harga bahan bakar bersubsidi.

Dengan kondisi seperti ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur atas situasi yang sulit ini. Mengapa kita harus bersyukur ditengah masa-masa yang sulit ini? Jawabannya agar kita dapat melihat masa-masa sulit ini sebagai suatu hal yang positif dan dapat melaluinya dengan mengambil langkah-langkah yang tepat.

Saya beri suatu ilustrasi, setiap kita pernah mengalami situasi dimana harus melalui 1 hari dengan tidak baik. Ketika sarapan pagi, kita sudah ketumpahan kopi. Pada perjalanan menuju kantor, mobil kita diserempet dan juga ditilang oleh polisi. Dan dikantor, kita dimarahi oleh atasan kita. Kejadian buruk ini terus terjadi disepanjang hari dan terus membayangi kita. Hal ini dapat menyebabkan kita menjadi stres, mudah marah dan malas melakukan aktivitas. Ketika mengalami situasi seperti ini, saya mengintropeksi dan menemukan jawabannya yaitu ketika pagi hari kita mengalami kejadian yang tidak mengenakan, biasanya kita meresponnya dengan tindakan yang negatif, misalnya dengan marah, menggerutu, dll. Hal ini yang menyebabkan kita akan mengalami suasana yang tidak baik disepanjang hari. Akhirnya saya merubah sikap dengan selalu merespon setiap kejadian yang tidak mengenakan dengan hal-hal yang positif, misalnya dengan bersyukur, tersenyum, intropeksi, berhati-hati, dll.

Cara seperti ini juga saya terapkan dalam menghadapi masa-masa sulit yang melanda Indonesia. Dengan bersyukur, saya lebih bijak dan siap dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghadapinya. Misalnya ketika harga bahan-bahan pokok naik, kami harus memutar otak untuk lebih hemat lagi. Karena makanan (bergizi) tetap menjadi salah satu primadona yang utama didalam kebutuhan kami, kami memutuskan untuk mengambil pos yang lain yaitu anggaran untuk berekreasi kami kurangi, yang dulunya tiap bulan kami makan diluar 3 kali sekarang menjadi 1 kali.

Banyak pos pengeluaran lain yang harus saya "akali", misalnya untuk menghemat BBM, kami sekarang berangkat dari rumah jam 5 pagi. Bahkan, teman-teman saya mengejek, kami pergi ke kantor bareng maling pulang abis merampok. saya hanya tertawa saja, toh ini membawa hasil yang signifikan (dulu tiap minggu kami harus mengisi 250rb sekarang hanya 150rb). Dari hasil penghematan ini, saya dapat membeli 4 dos bubur untuk anak kami. Begitu juga dalam pola belanja saya, yang dulu sering berbelanja, sekarang saya harus menyeleksi antara barang yang merupakan kebutuhan atau hanya sekedar keinginan. Dan ada hal yang tidak pernah kami bayangkan yaitu pada masa yang sulit seperti ini justru kami dapat lebih banyak menabung.

Memang pada awalnya sulit untuk bersyukur ditengah situasi yang tidak baik. Tapi kita harus mencoba dan terus melakukannya. Ketika kita terbiasa melakukannya, kita akan mampu melihat situasi sulit bukan suatu hambatan tapi anak tangga yang akan kita lalui untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

David
Gedung II BPPT Lt.8 Jl. M.H. Thamrin No.8
Jakarta Pusat
Telp 0817102026
  (mbs)