Heboh BBM Naik
Akhir-akhir ini heboh mengenai kenaikan BBM, dimana email pun penuh dengan berita mengenai presentasi kebohongan tidak ada subsidi. Hal ini dibahas dan ributkan oleh mantan-mantan pejabat dan ekonom era sebelum SBY. Kembali kita tanyakan lagi kepada mantan pejabat tersebut, kenapa baru ributnya sekarang, kenapa teori itu baru diungkapkan sekarang. Toch masalah subsidi sudah ada sejak zaman Soeharto, dimana soeharto melakukan subsidi ini untuk membohongi rakyat agar rakyat merasa sejahtera padahal dia gunakan uang subsidi ini dari hutang kepada luar negeri yang sekarang kita dan anak cucu kita yang merasakannya. Kenapa rakyat dibikin tenang agar dia bisa tenang juga memperluas bisnis keluarga cendana. Rasanya saya muak melihat gaya ekonom dan mantan pejabat di media yang hanya bisa mulut besar dan berkampanye seperti (sutiyoso, amien rais, kwik, prabowo, dll). Pernah tidak kita sadari apa yang mereka lakukan bukan murni peka dan cinta negara ini tapi itu semua muatan politis menjelang pemilu. Kalau memang mereka sudah teori tersebut kenapa tidak mereka jalankan ketika mereka dulu berkuasa sebelum pemerintahan SBY.
Tolonglah buka mata dan hati nurani anda..layak gak menuduh orang sebelum introspeksi atas hasil kinerja anda pada kabinet sebelumnya yang semakin membuat rusak negara ini. SBY berusaha terus terang untuk mengurangi subsidi karena memberikan pelajaran kepada rakyat seharusnya dari sejak dulu ini sudah harus dilaksakanakan dan hal ini tentunya tidak akan terjadi kalau dulu pemerintahan kita tidak korupsi dan berusaha menginformasikan kebohongan yang dilakukan oleh pemerintahan soeharto. Tapi saya yakin rakyat kita makin pintar dan cerdas mengamati semua ini, jangan terpancing omongan pejabat yang dulunya korupsi sekarang berkoar-koar karena ruang gerak korupsinya semakin tercium. Sutiyoso..belum cukup puas menikmati kekayaannya kok masih pengen jadi presiden, lha jadi gubernur aja nggak becus..cuma taunya tanda tangan tender tanpa memikirkan amdal..kota Jakarta. Inilah gambaran yang harus kita renungkan.
Lisa
Ciputat, Jakarta
70408089 (fer)