o1 o2

News


70% Spesies Primata Indonesia Terancam Punah

Minggu, 23 Desember 2007 - 08:03 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Foto: Orang Utan (sindo)

JAKARTA - Sebanyak 70 persen dari 40 spesies primata yang ada di Indonesia dalam status terancam punah. Pembalakan liar, penangkapan ilegal, konversi lahan hutan, serta faktor perubahan alam merupakan penyebabnya.

"Hingga saat ini belum ada sensus yang dilakukan secara serius untuk mengetahui berapa jumlah populasi primata sebenarnya yang ada di Indonesia. Yang jelas 70% diantara mereka sudah berstatus terancam punah, jika tidak segera dikonservasi mereka akan benar-benar punah," ujar Dedi Ruswandi, di Jakarta, Minggu (23/12/2007).

Total spesies primata di dunia sekitar 200 jenis, 25%-nya atau 40 spesies berada di Indonesia. Namun sayangnya, menurut Kurator Mamalia Taman Margasatwa Ragunan Dedi Ruswandi hampir semua spesies primata di Indonesia berstatus terancam punah.

Dari 40 spesies yang tercatat, belasan diantaranya merupakan spesies endemik. Diantaranya owa Jawa (hylobates moloch) yang ditemukan hidup di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kemudian, Bekantan Kalimantan juga berstatus spesies endemik hanya ditemukan di Pulau Kalimantan, tujuh spesies endemik hidup di Sulawesi, tiga spesies hidup di Kepulauan Mentawai.

Kepunahan itu dipercepat dengan terputusnya habitat, sehingga mengakibatkan keanekaragaman habitat yang menurun. Selain itu, berbagai kegiatan perburuan liar mendapatkan bayi primata untuk dijadikan souvenir, kepemilikan ilegal, serta perdagangan primata mempercepat proses kepunahan.

Memang, langkah untuk mengkonservasi hewan yang terbagai dalam dua kelompok besar yakni prosimian (primata primitif) dan anthropeida (primata dunia baru) ini masih menemui banyak kendala. Pengelompokan ini berdasarkan daerah penyebaran dan penemuannya.

Menurut Dedi, tidak hanya sensus spesies secara menyeluruh yang belum dilakukan di Indonesia, namun kepentingan konservasi masih dikalahkan kepentingan industri ekonomi. Akibatnya konservasi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit atau tanaman lain semakin mengancam habitat ini.

"Karena tempat habitatnya sudah dikonversi, akhirnya seolah terjadi perebutan lahan. Orang utan dan manusia sama-sama berebut lahan mencari makan. Seharusnya, untuk lahan-lahan tertentu yang didiami spesies hewan terutama yang bersifat endemik itu memang tidak boleh dikonversi. Bahkan masyarakat setempat saja masih memiliki kearifan budaya lokal dalam memanfaatkan hutan," paparnya.

Tercatat spesies primata yang telah dikonservasi ke Taman Margasatwa Ragunan total sebanyak 28 jenis spesies jumlah populasi 367 ekor. Sebanyak 22 jenis spesies diantaranya ditempatkan di Pusat Primata Schmutzer, dengan total populasi sebanyak 125 ekor. Diantaranya, lemur hitam (3 ekor), malu-malu (6), tarsius (1), yaki (7), dige (7), boti (7), monyet ekor panjang (12), lutung perak (12), lutung Jawa (10), surili (2). Kemudian, simpai (3), bekantan (1), siamang (4), siamang kerdil (2), wau-wau coklat gelap (4), wau-wau hitam alis putih (3), wau-wau coklat terang (4), owa Jawa (10), kelawat (2), orangutan Kalimantan (14), simpanse (5), dan gorila dataran rendah (4). Dari jumlah itu, 59 ekor diantaranya jenis kelamin jantan, dan 61 diantaranya jenis betina. Sedang 5 ekor sisanya masih belum diketahui.

Meskipun, jumlah populasi primata yang telah di konservasi di Taman Margasatwa Ragunan memang sudah berjumlah ratusan. Namun kenyataannya, jumlah spesiesnya baru sekitar 28 dari total 40 spesies di Indonesia. Kekhawatirannya, 12 spesies yang pernah dilaporkan tersebut sudah terlanjur menjadi punah sebelum sempat di konservasi.

Kenyataannya hingga saat ini, di Asia hanya dua negara yang dipercaya untuk mengonservasi gorila hanyalah Indonesia dan Jepang. Perawatan spesies primata jenis kera besar ini memang cenderung lebih ketat. Sebab habitatnya di alam hewan yang berasal dari Afrika itu memang sudah terbatas. Memang Indonesia baru dipercaya mengelola salah jenis spesies gorila, yakni gorila dataran rendah (gorila gorila gorila). Selain itu, karena asal muasal gorila memang berasal dari daerah tropis, sehingga suhu dan iklim Indonesia memang cocok untuk gorila.

"Memang agak sulit dan ketat kriteria untuk mengelola dan merawat gorila. Sebab banyak hal yang harus dipenuhi. Di Indonesia sendiri, ada lima sampel tanah yang harus diambil dan diteliti apakah kondisi tanahnya cocok dan tidak mengandung virus yang bisa menyebabkan sakit tenggorokan gorila," katanya.

Bisa jadi jenis spesies primata di Indonesia yang endemik juga tidak bisa di konservasi di luar wilayah habitatnya. Untuk itu, konservasi sebelum terjadi kepunahan memang sudah mutlak untuk dilakukan.

Memang berdasarkan ciri tubuh, primata yang berasal dari kata primus (bahasa latin) yang berarti yang pertama atau hewan tingkat tinggi dari kelompok mamalia dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar. Yakni primata primitif (prosimian) diantaranya tarsius dan kukang. Kemudian kelompok monyet yang didalamnya termasuk monyet dan monyet daun. Untuk kelompok monyet ada monyet ekor panjang dan boti. Sedang untuk kelompok monyet daun ada lutung, surili, dan bekantan. Kelompok besar ketiga yakni jenis kera (ape), baik kera besar dan owa. Kelompok kera besar diantaranya gorilla, simpanse, bonobo, dan orangutan.

Sedang untuk kelompok owa ada siamang, owa Jawa, dan kelawat. Menurut Dedi, manusia juga termasuk golongan primata. Secara keseluruhan jenis primata sudah mengalami spesialisasi untuk hidup dipepohonan. Sedangkan beberapa jenis primata yang kini hidup dilantai hutan (terrestial) diantaranya, seperti gorilla dan babun yang sebenarnya berasal dari bentuk-bentuk yang pernah hidup di pepohonan
(Abdul Malik/Sindo/ism)

Bagi Pengguna Ponsel, BlackBerry Nikmati Berita Terkini Di http://m.okezone.com
Share
 Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?

Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan
o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

  • Rabu, 10 Februari 2010 04:04 wib

    KPU Dinilai Ceroboh Cabut SEB Panwas

  • Rabu, 10 Februari 2010 03:03 wib

    Polisi Selidiki Ledakan Genset RSU Pirngadi

  • Rabu, 10 Februari 2010 02:30 wib

    Polisi Ditembak, Saksi Kunci Masih Diamankan

  • Rabu, 10 Februari 2010 02:03 wib

    Pelaku Penembak Polisi Tidak Sendirian

  • Rabu, 10 Februari 2010 01:25 wib

    Pencabutan Moratorium TKI Tertunda

  • o3 o4