PEKANBARU - Jika seorang ibu di daerah pedesaan ingin melahirkan bayi, pasti memilih dua alternatif yakni pergi ke dukun bayi atau bidan. Karena dua bagian ini mempunyai cara berbeda untuk mensukseskan kelahiran bayi.
Â
Namun, apa jadinya jika kedua bagian yang berbeda ini dipadukan untuk mensukseskan kelahiran sang bayi?
Â
Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, Riau, yang mengagas ide tersebut. Dengan nama program kemitraan bidan dan dukun bayi. Ternyata hal itu berjalan sukses dalam meninimalisir Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (ABI) di kabupaten Siak ini.
Â
"Progaram itu telah dicanangkan Diskes Siak sejak tahun 2004. Namun akhir tahun 2007 barulah program itu benar-benar berjalan." papar Kepala Subdinas Kesehatan Ibu dan Anak Siak Khairani Hasyim, Selasa (29/01/2008).
Kerjasamanya, lanjut Khairani, sang bidan secara berkala melakukan pembinaan terhadap dukun beranak, sedangkan dukun bayi memberikan pengalaman dirinya selama ini kepada sang bidan dalam membantu ibu-ibu melahirkan. Jika ada masalah dalam penanganan kelahirkan, akan dikaji secara bersama-sama.
Â
"Saat ini jumlah dukun yang bermitra sebanyak 344 orang dan bidan desa sebanyak 98 orang. Dari program itu, didapatkan peningkatan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dari tahun ke tahun," jelasnya.
Â
Kahairani menambahkan, dukun bayi itu biasanya lebih dipercayai oleh warga untuk mensukseskan kelahiran bayi, karena dukun bayi yang didominasi wanita tua ini dengan pengalamannya dapat menciptakan rasa nyaman bagi ibu-ibu.
Sedangkan bidan desa umumnya masih didominasi kaum muda, sehingga masih perlu bersosialisasi dan harus minciptakan kepercayaan dirinya ditengah-tengah masyarakat . "Kalau dengan Dukun kata warga lebih nyaman, sedangkan dengan bidan lama," tambahnya.
(kem)
Â
Namun, apa jadinya jika kedua bagian yang berbeda ini dipadukan untuk mensukseskan kelahiran sang bayi?
Â
Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, Riau, yang mengagas ide tersebut. Dengan nama program kemitraan bidan dan dukun bayi. Ternyata hal itu berjalan sukses dalam meninimalisir Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (ABI) di kabupaten Siak ini.
Â
"Progaram itu telah dicanangkan Diskes Siak sejak tahun 2004. Namun akhir tahun 2007 barulah program itu benar-benar berjalan." papar Kepala Subdinas Kesehatan Ibu dan Anak Siak Khairani Hasyim, Selasa (29/01/2008).
Kerjasamanya, lanjut Khairani, sang bidan secara berkala melakukan pembinaan terhadap dukun beranak, sedangkan dukun bayi memberikan pengalaman dirinya selama ini kepada sang bidan dalam membantu ibu-ibu melahirkan. Jika ada masalah dalam penanganan kelahirkan, akan dikaji secara bersama-sama.
Â
"Saat ini jumlah dukun yang bermitra sebanyak 344 orang dan bidan desa sebanyak 98 orang. Dari program itu, didapatkan peningkatan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dari tahun ke tahun," jelasnya.
Â
Kahairani menambahkan, dukun bayi itu biasanya lebih dipercayai oleh warga untuk mensukseskan kelahiran bayi, karena dukun bayi yang didominasi wanita tua ini dengan pengalamannya dapat menciptakan rasa nyaman bagi ibu-ibu.
Sedangkan bidan desa umumnya masih didominasi kaum muda, sehingga masih perlu bersosialisasi dan harus minciptakan kepercayaan dirinya ditengah-tengah masyarakat . "Kalau dengan Dukun kata warga lebih nyaman, sedangkan dengan bidan lama," tambahnya.
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad