JAKARTA - Sikap geram kalangan Dewan Perwakilan Rakyat terhadap lirik lagu "Gosip Jalanan" milik kelompok musik Slank dinilai tidak berdasar.
Sebab, lagu-lagu Slank merupakan wujud kritik sosial atas realita di negeri ini yang karut marut. Meski lirik lagu itu berupa sindiran, namun bisa dijadikan pembasuh hati yang kering, menghadapi realitas kehidupan yang berat.
"Gaya bahasa Slank memang sinis dan hiperbolik. Kalau bahasanya baik dan benar, nanti dibilang qosidahan," ujar pengamat politik Fadjroel Rachman saat berbincang dengan okezone, Jumat (11/4/2008).
Dikatakannya, lirik lagu Slank merupakan bentuk perlawanan terhadap kemunafikan dengan gaya slenge'an. Bahwa Badan Kehormatan (BK) DPR melakukan tindakan melawan arus, dinilai Fadjroel sebagai bentuk ketidakberdayaan BK mengatasi kebobrokan di DPR.
"BK ketakutan, karena keborokan tidak bisa ditutupi lagi. Dari kasus aliran dana BI, BLBI, uang perikanan, empat orang ke luar negeri yang didanai BI, dan kasus Al Amin," ungkapnya.
Terkait BK menggugat lirik "Tempatnya lendir-lendir berceceran, uang jutaan bisa dapat perawan", menurut Fadjroel bukan persoalan moral atau tidak bermoral. Maksud lirik itu, menurut dia, adalah demi bertahan hidup, keperawanan pun bisa digadaikan.
Bahkan dengan uang yang banyak, orang bisa mendapatkan keperawanan dengan mudah. "Mereka itulah yang tidak bermoral," pungkasnya. (jri)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan