Kini semua orang patut was-was terhadap gejolak perekonomian dunia. Setelah IMF dan PBB memberikan warning adanya krisis pangan yang bisa memicu kerusuhan sosial, sekarang harga minyak dunia melompat hingga tembus USD115 per barel.
Karuan saja, sejumlah pihak mulai menjerit. Anggaran negara yang sering disebut dengan APBN-P 2008 dalam keadaan morat-marit. Betapa tidak, patokan harga minyak yang sebelumnya ditaksir antara USD95-110 per barel kini sudah terlampaui. Harga minyak Indonesia (ICP) juga merangkak di atas USD100 per barel, tepatnya USD103,1 per barel.
Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wapres Jusuf Kalla segendang sepenarian. Mereka menyebutkan bahwa pemerintah diberikan keleluasaan untuk menyikapi harga minyak yang sudah selangit itu. Apakah ini bentuk kegetiran dan kepanikan pemerintah. Ataukah ini pertanda bahwa warga negeri ini segera bersiap karena harga BBM bakalan naik?
Entahlah mana yang benar. Yang jelas, saat ini dengan harga minyak yang sudah selangit itu, maka beban APBN untuk menopang subsidi BBM makin berat. Belum lagi jika target lifting minyak tidak memenuhi target. Dipastikan APBN bakal morat-marit dihantam dua beban itu.
Secara politis, pemerintahan SBY-JK pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar harga BBM tidak naik. Maklum saja, tahun politik sedang bergulir. Semua mesin politik sedang bekerja, mengumpulkan imej positif menjelang Pemilu 2009 yang tinggal selangkah lagi.
Akan tetapi, haruskah pertimbangan politik akan mengalahkan pertimbangan ekonomi? itu sebuah pilihan. Rakyat jelas merasa keberatan jika harga BBM dinaikkan, karena belum ada jaminan pendapatan mereka juga naik. Bisa dibayangkan, jika harga BBM naik, yang diikuti kenaikan sejumlah barang kebutuhan lainnya, di tengah pendapatan yang tidak membaik, rakyat pasti tergencet.
Masyarakat pasti tidak mengharapkan beban hidupnya makin berat dengan adanya kenaikan harga BBM. Karenanya pemerintah diminta untuk mencari sumber penambal defisit APBN lebih kreatif. Tentunya, solusinya bukan dengan menambah utang luar negeri bukan? (mbs)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan