Setiap tokoh pasti akan terkena apa yang dalam ilmu ekonomi disebut law of deminishing return, yaitu hukum "hasil yang makin kecil atau susut".
Seiring berjalannya waktu, karena alasan umur atau kesehatan, sang tokoh tidak mungkin menjadi "orang kuat" atau "orang nomor satu" terus. Pengaruhnya akan semakin berkurang, wibawanya juga menurun. Kalau sang pemimpin terus dipaksa dan didongkrak untuk menjadi "orang nomor satu", hal itu justru akan membuat karier politiknya berakhir dengan tidak baik. Perannya yang begitu cemerlang di panggung politik bisa dilupakan karena "rapor merah" di akhir karier politiknya. Presiden Soekarno misalnya pernah menjadi pemimpin besar di republik ini. Julukannya Pemimpin Besar Revolusi.
Namun karier politiknya berakhir dengan kurang begitu mengesankan. Bahkan kejatuhannya dari puncak kekuasaan disertai gejolak sosial politik yang memakan begitu banyak korban jiwa. Demikian juga dengan Presiden Soeharto. Dia presiden yang berhasil meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan nasional. Karena itu ia disebut sebagai Bapak Pembangunan, tetapi kekuasaannya berakhir kurang baik. Sebelum mundur, krisis ekonomi dan berbagai kerusuhan massal terjadi.Korban jiwa dan harta benda pun tidak sedikit.
Pelajaran Politik
Agar tidak bernasib seperti Soeharto, penguasa besar yang karier politiknya berakhir kurang baik, Gus Dur tampaknya harus belajar banyak kepada para pemimpin dunia seperti Mahathir Mohammad, Lee Kuan Yeuw, FidelCastro, atau Vladimir Putin.
Sebelum pengaruhnya menurun drastis, para pemimpin dunia itu berhasil mendelegasikan kekuasaannya kepada orang-orang kepercayaannya sehingga karier politiknya berakhir dengan baik (husnul khatimah). Bahkan sebagian dari mereka berpeluang untuk kembali menjadi pemimpin besar. Sebelum pengaruh dan wibawanya turun, Mahathir menyerahkan kekuasaannya kepada anak didiknya, Abdullah Badawi. Sampai kini Mahathir tetap "berpengaruh" dalam politik Malaysia, justru di saat Badawi semakin tidak populer.
Lee Kuan Yeuw juga sama. Sebelum terkena law of deminishing return, dia sudah menyerahkan kekuasaan kepada Goh Chok Tong pada 26 November 1990. Sampai saat ini, saat Goh sudah diganti Lee Hsien Loong, Lee Kuan Yeuw tetap dianggap sebagai orang besar di Singapura. Demikian juga Fidel Castro. Karena sudah uzur akibat usia dan kesehatan, dia menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul Castro. Adapun Putin menyerahkan kekuasaan kepada anak didiknya, Dmitry Medvedev. Meski kadang ada hubungan keluarga antara penguasa dan penggantinya, sang pengganti dipilih bukan karena hubungan darah.
Lee Hsien Loong misalnya menggantikan Goh pada 12 Agustus 2004 bukan karena dia anak tertua dari Lee Kuan Yeuw, tetapi karena dia memang benar-benar kompeten dan berpengalaman. Pada 1971, dia sudah bergabung dengan Angkatan Bersenjata Singapura dan tahun 1984 terpilih sebagai anggota parlemen. Dua tahun kemudian dia terpilih sebagai Komite Eksekutif Pusat Partai Aksi Rakyat dan menjadi deputi perdana menteri pada 1990.
Tahun 1998, dia menjadi Ketua Otoritas Moneter Singapura dan menjadi menteri keuangan pada 2001.Tahun 2004, dia menggantikan Goh Chok Tong sebagai perdana menteri. Raul Castro dipilih karena dia sudah sangat berpengalaman di dunia politik dan kemiliteran. Raul bersama Fidel pernah berjuang menggulingkan Presiden Fulgencio Batista. Kemudian dia ditunjuk sebagai menteri pertahanan pada 1959. Tahun 1962 menjadi deputi perdana menteri dan tahun 1972 menjadi deputi pertama perdana menteri di belakang Fidel.
Husnul Khatimah
Jadi, sang pengganti benar-benar orang yang mumpuni, terlatih, dan teruji, bukan sekadar berlindung di bawah nama besar bapak, kakak, atau pendahulunya.
Dengan begitu, seorang pemimpin besar tetap menjadi pemimpin besar dan karier politiknya tetap berakhir dengan harum (husnul khatimah). Bahkan ketika ia sudah tiada, pemikiran dan jasa-jasanya kepada masyarakat tetap dikenang dan dilestarikan. Gus Dur adalah salah satu pemimpin besar di republik ini. Dia dikenal sebagai bapak demokrasi dan pluralisme. Pemikirannya bukan hanya telah mengubah masyarakat NU, tetapi juga menjadi salah satu pusat keseimbangan dalam dinamika kehidupan bangsa.
Namun, jika dia terus mengulur waktu untuk tetap berkuasa, misalnya menjadi calon presiden atau ingin tetap berkuasa di PKB, law of deminishing return tetap akan bekerja terhadapnya seperti takdir karena ia sudah cukup lama "berkuasa" di Indonesia, paling tidak sejak awal 1990-an. Semakin kekuasaan dipertahankan, semakin besar pula biaya (sosial) yang harus dikeluarkan dan semakin banyak pula korban yang mungkin akan berjatuhan. Megawati juga sama.
Dia dikenal sebagai pemimpin gerakan rakyat. Namun karena dia sudah cukup lama menjadi orang besar dan berkuasa di Indonesia, yaitu sejak pertengahan 1990-an, upaya-upaya untuk mendongkrak popularitasnya atau mengembalikannya ke puncak kekuasaan justru bisa kontraproduktif terhadap nama besar dan perannya yang begitu penting dalam perjalanan republik ini. (*)
Umaruddin Masdar
Penasihat Senior Kaum Muda NU
Peneliti Pusat Analisis Geopolitik dan Peradaban (PAGER)
(//mbs)
NEWS TICKER :

