Muktamar Luar Biasa (MLB) Partai Kebangkitan Bangsa di Parung selesai pada 1 Mei 2008. Esok harinya, DPP PKB Gus Dur-Ali Masykur Musa mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, lalu ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
MLB PKB di Ancol selesai pada 4 Mei dan sehari kemudian DPP PKB Muhaimain Iskandar-Aziz Mansyur mendaftarkan diri seperti lawannya. Keduanya merasa dan mengklaim sebagai Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB yang sah. Bagaimana menurut KPU, siapakah di antara mereka yang sah? Tidak mudah bagi KPU untuk menerima salah satu dari kedua DPP itu. Tidak mudah bagi KPU untuk segera menentukan sikap karena kedua pihak telah mengajukan gugatan ke PN tentang keabsahan dan legalitas lawan masing-masing.
Tampaknya KPU akan menunggu proses peradilan selesai dan akan menerima putusan pengadilan. Itu berarti akan menunggu beberapa bulan. Kita harap tidak melampaui jadwal yang telah disusun KPU, pengajuan daftar calon sementara (DCS) pada awal Agustus. Kita lihat kini ada tiga DPP PKB, yaitu PKB produk Muktamar Semarang, produk MLB Parung, dan hasil MLB Ancol.
Secara riil, politik DPP Semarang sudah tidak ada.Yang ada hanya DPP versi MLB Parung dan DPP versi MLB Ancol. Tetapi secara hukum, dalam arti terdaftar di Departemen Hukum dan HAM, yang ada justru DPP versi Muktamar Semarang. Jadi satu partai mempunya tiga DPP. Lebih hebat lagi, tokoh-tokohnya ya itu-itu saja. DPP Semarang: Gus Dus-Muhaimin-Yenny; DPP Parung: Gus Dur-Ali Masykur-Yenny; DPP Ancol: Aziz Mansyur-Muhaimin-Lukman Edi. Para pemilih atau konstituen PKB di lapisan bawah sudah sampai pada tahap kebingungan dan apatis, bahkan ada beberapa yang putus asa.
Saya menerima SMS dari aktivis PKB di Jawa Tengah: "Hore, PKB hancur, asyiiik." Jelas isi SMS itu bukan isi hati sebenarnya. Dia sudah putus asa. Rasa sayang menjadi rasa tidak suka. Saya tidak tahu apakah para pemimpin yang bertikai itu memahami apa yang terjadi di lapisan bawah atau tidak.
Kalau belum tahu, semoga tulisan ini bisa menyadarkan mereka. Kalau sudah tahu, semoga tulisan ini bisa mengetuk hati mereka. Bagaimana kelanjutan atau akhir dari konflik PKB terakhir ini? Yang paling buruk ialah PKB tidak boleh ikut Pemilu 2009. Kemungkinan ini yang paling ditakutkan oleh warga dan aktivis PKB. Tampaknya sedang dicari jalan keluar untuk menghindarinya.
Yang paling mudah dilakukan ialah pendaftaran ke KPU oleh Muhaimin dan Yenny. Sebab, di mata KPU, DPPyang ada saat ini ialah DPP hasil Muktamar Semarang. Kedua DPP yang lain dianggap tidak ada. Untung KPU menerima pendaftaran kedua kelompok sambil menunggu keputusan pengadilan. Kemungkinan kedua, salah satu DPP yang ada menang dalam proses hukum dalam waktu sebelum batas akhir pengajuan calon legislatif.
Kalau yang menang kelompok Gus Dur, perolehan suara PKB akan merosot cukup lumayan karena sudah ada dua sempalan PKB, yaitu PKNU dan kelompok Muhaimin. Kalau yang menang kelompok Muhaimin, maka suara PKB akan anjlok karena bagi kebanyakan pemilih PKB adalah Gus Dur. Kemungkinan ketiga ialah lanjutan dari kemungkinan pertama, yaitu kedua kelompok setuju PKB mendaftar sekarang, tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah ke pengurusan ganda pada saat akhir waktu pendaftaran calon.
Dari segi waktu, proses pengadilan bisa selesai. Yang jadi masalah ialah kalau keputusan pengadilan ambigu seperti kasus Pemilihan Gubernur Maluku Utara. Tidak ada pilihan lain kecuali meneruskan pendaftaran calon bersama kalau masih mau ikut pemilu. Proses penyusunan akan sangat alot dan selesai pada saat-saat akhir.
Kalau kemungkinan ketiga yang terjadi, apakah mungkin mesin politik partai akan mampu mendongkrak suara pemilih. Di banyak DPC, terdapat kepengurusan ganda yang membuat kampanye tidak efektif. Itu hanya bisa terjadi kalau ditentukan bahwa calon jadi adalah calon yang mendapat suara terbanyak.Tetapi kalau kemudian para calon legislatif dari kedua kelompok PKB itu saling menjelekkan, perolehan suara PKB juga akan melorot.
Jadi, pilihan terbaik bagi PKB adalah bergabungnya kembali kedua kelompok itu. Saya tidak menggunakan istilah islah karena kata itu bisa ditafsirkan berbeda. Itu adalah pilihan rasional terbaik.Tetapi secara emosional hal itu amat sulit dilakukan. Walau demikian, tetap harus dilakukan upaya penyelamatan PKB. Tentu tidak bisa dihindari, harus ada yang mau berkorban. Yang paling utama dan paling penting ialah menyelamatkan PKB dalam arti harus bisa ikut pemilu dan perolehan suaranya tidak terlalu merosot.
Berarti kita harus mempertahankan Gus Dur sebagai Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB. Syarat ini tidak ditolak oleh siapa pun, termasuk kelompok Muhaimin. Kita melihat fakta bahwa Gus Dur sudah tidak percaya lagi kepada Muhaimin Iskandar untuk menduduki jabatan Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB. Artinya itu harga mati bagi Gus Dur dan tidak bisa ditawar lagi.
Kalau Muhaimin memang mencintai PKB, dia harus legawa. Kita bisa paham kalau Muhaimin harus mundur, kompensasi apa yang diminta kelompok Muhaimin. Dari banyak SMS dan dialog saya dengan sejumlah orang, kelompok Cak Imin tidak melawan Gus Dur, tetapi melawan perbuatan orang-orang di sekeliling Gus Dur yang dalam kenyataannya telah membusukkan Gus Dur. Itu juga yang dikatakan oleh Muhaimin dalam pembukaan MLB Ancol.
Berarti, orang-orang yang dianggap menghancurkan Gus Dur itu perlu disingkirkan. Itulah kompensasi untuk kelompok Muhaimin yang terpikir oleh saya. Pertanyaannya, siapa yang harus disingkirkan dan mungkinkah menyingkirkannya? Saya juga paham bahwa amat sangat sulit, bahkan hampir mustahil untuk membuat kedua kelompok menerima usulan di atas. Tetapi seperti saya tulis di atas, semua pihak yang bertikai diminta berkorban demi PKB dan juga demi Gus Dur. (*)
Salahuddin Wahid
Pengasuh Pesantren Tebuireng  (//mbs)