News Ticker
  • RI Keluar dari Daftar Penerbit Obligasi Berisiko
  • KPK Jadwalkan Periksa Bos Artha Graha Andy Kasih
  • 6 Siswa Tersesat di Gunung Gede Ditemukan Selamat
  • Sepak Bola : Hamburg Resmi Pinang Ze Roberto
  • Pemkab Bangkalan Larang Sekolah Pungut Uang Gedung
  • Juni, 473 Ribu Pekerja di Amerika Serikat Kena PHK
  • Pascalongsor, Jalur Riau-Sumbar Masih Dialihkan
  • Bulan Depan, Jamrud Luncurkan Album The Best
  • Pegadaian Catat Obligasi Rp1,5 T di BEI Hari Ini
  • Korban Tewas Flu Babi di Thailand Capai 5 Orang
o1 o2

Catatan Redaksi


Yakin? Angka Kemiskinan Turun 13%

Rabu, 14 Mei 2008 - 13:05 wib
text TEXT SIZE :  
Share
M Budi Santosa - Okezone

Menko Kesra Aburizal Bakrie yakin dengan kenaikan harga BBM yang diikuti program Bantuan Langsung Tunai (BLT) plus bakal memangkas angka kemiskinan 13 persen. Yakin? Ya, tandas Pak Menteri.

Namun, tetap saja kebijakan kenaikan harga BBM yang diperkirakan berkisar 20-30 persen akan membebani daya beli masyarakat yang saat ini juga tidak terangkat. Mungkin saja akan ada kenaikan pendapatan, namun kenaikan itu masih akan terasa berat jika harus menanggung kenaikan harga BBM sebesar itu.

Salah satu peniliti LIPI Hari Susanto telah mengeluarkan hitung-hitungannya. Jika pemerintah memilih menaikkan harga BBM bersubdisi sebesar 28,7 persen, angka kemiskinan pada 2008 diperkirakan melonjak sampai 40 juta atau 18,04 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.

Jumlah ini naik sebesar 1,88 juta dibandingkan angka kemiskinan pada 2007 (16,58 persen dari jumlah penduduk atau 37,7 juta jiwa). Angka ini jauh dari target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2008, yaitu angka kemiskinan turun menjadi 14,2 persen sampai 16 persen dengan pertumbuhan ekonomi 6,4 persen.

Dia merincikan jika kenaikan harga BBM diperkirakan menyebabkan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 6 persen, sehingga angka kemiskinan diperkirakan mencapai 39,585 juta atau 18,04 persen.

Sebelumnya, dokumen pemerintah yang beredar di kalangan wartawan menyebutkan pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi pada 1 Juni 2008, yaitu premium naik dari Rp4.500 per liter menjadi Rp6.000 per liter, solar dari Rp4.300 per liter menjadi Rp5.500 per liter, dan minyak tanah dari Rp2.000 per liter menjadi Rp2.300 per liter.

Akan tetapi itu juga baru hitungan di atas kertas. Meko Kesra tentunya juga punya hitungan di atas kertas sehingga dia bisa memastikan dengan program BLT angka kemiskinan bisa turun hingga 13 persen, sehingga jumlah penduduk miskin tinggal 14 persen.

Ical optimistis, karena program BLT plus akan mampu memberikan safety valve (jaring pengaman) bagi masyarakat kelas bawah. Misalnya saja, pemerintah akan melakukan operasi pasar beras dengan dana sekira Rp4,3 triliun.

Tentu yang perlu kita tunggu sekarang ini bukanlah hitungan di atas kertas. Psikologi pasar memang mendukung kenaikan harga BBM karena melihat APBN-P 2008 sudah amburadul. Sejumlah asumsi meleset. Misalnya asumis harga BBM yang sudah dinaikkan dari USD60 per barel ke USD95 per barel tak tercapai. Lifting minyak juga terancam tidak terpenuhi.

Yang paling penting saat ini adalah, mewujudkan agar BLT Plus tepat sasaran sehingga yang miskin tidak tambah miskin. Dan bukan sebaliknya, yang miskin tambah miskin, yang kaya makin kaya, yang koruptor makin korup.  (mbs)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2
o1 o2

0 komentar




o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4