JAKARTA - Aksi kekerasan yang dilakukan FPI pada Hari Pancasila di Monas 1 Juni lalu, diduga disusupi intelijen asing. Tentu saja yang patut dicurigai adalah negara-negara anti-Islam seperti Amerika Serikat (AS).
"Apakah kekerasan FPI murni dilakukan berdasar emosi dan spontanitas? Itu belum tentu. Bisa saja distimulasi unsur lain," kata Wakil Ketua Komisi III Soeripto di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/6/2008).
Menurut pengamat intelijen ini, perlu kecermatan dalam mengatasi konflik kultural semacam ini. Sebagai negara adikuasa, AS perlu dicurigai sebagai provokator yang menginginkan Islam tergusur.
"Dalam hubungan itu, apakah ada tangan-tangan jahil yang sudah menyusup ke dalam FPI? Yang memang sengaja untuk memprovokasi bahwa Islam seperti FPI. Semua itu bisa saja," ujarnya.
Soeripto lantas membandingan dengan gerakan Al Qaeda. Menurutnya, hanya Al Qaeda di Afghanistan yang masih memiliki gerakan dan idealisme murni. Sementara di negara-negara lain, lanjut dia sudah disusupi intelijen Mossad dan CIA.
"Di Irak, pemimpin teroris nomor dua di Al-Qaeda juga sudah dipengaruhi intel AS," tandasnya.
(pie)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan