SOLO ? Kesatuan Akasi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Sholahudin Al Ayyubi UNS Solo meminta, aparat kepolisian melakukan investigasi yang komprehensif dan adil terhadap tragedi Monas.
Sebab, pihak tertuduh tunggal insiden tersebut saat ini yaitu, Front Pembela Islam (FPI).
Akibatnya, hal tersebut telah memicu konflik horizontal antar elemen masyarakat, diantaranya, serangan balasan ke markas FPI di Yogyakarta dan Jember. Bahkan, isu tersebut juga menghantui Kota Solo dalam beberapa hari ini.
Ketua Departemen Publik KAMMI Komisariat Sholahudin Al Ayyubi UNS Solo Haryono mengatakan, hasil investigasi tersebut nantinya harus disampaikan ke publik.
"Sehingga publik bisa mengetahui kronologis kejadian ini secara obyektif. Selama ini, opini diarahkan bahwa yang menjadi actor intelektual dari kejadian ini adalah semata-mata FPI," katanya, di Solo, Kamis (5/6/2008).
Untuk menyikapi masalah ini, menurutnya harus melihat juga fakta dan bukti yang disampaikan oleh FPI. Selama ini, lanjut dia, FPI telah menyampaikan beberapa kesaksian mengenai kasus tersebut. Diantaranya, penyerangan itu terjadi karena AKKBB menghasut FPI dengan sebutan laskar syetan dan kafir.
Selain itu, aksi AKKBB illegal karena tidak mendapat izin dari kepolisian, dan kesaksian lain adalah foto tindakan anarkis FPI yang dianggap merupakan hasil manipulasi.
"Bukan bermaksud membela dan membenarkan FPI, tapi semua klaim fakta dan bukti dari siapapun itu harus diuji. Jangan cuma dari satu pihak saja," paparnya. (ase)(Fefy Dwi Haryanto/Sindo/uky)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan