News Ticker
  • RI Keluar dari Daftar Penerbit Obligasi Berisiko
  • KPK Jadwalkan Periksa Bos Artha Graha Andy Kasih
  • 6 Siswa Tersesat di Gunung Gede Ditemukan Selamat
  • Sepak Bola : Hamburg Resmi Pinang Ze Roberto
  • Pemkab Bangkalan Larang Sekolah Pungut Uang Gedung
  • Juni, 473 Ribu Pekerja di Amerika Serikat Kena PHK
  • Pascalongsor, Jalur Riau-Sumbar Masih Dialihkan
  • Bulan Depan, Jamrud Luncurkan Album The Best
  • Pegadaian Catat Obligasi Rp1,5 T di BEI Hari Ini
  • Korban Tewas Flu Babi di Thailand Capai 5 Orang
o1 o2

News


Nasib Rusa-Rusa Kumal di Penangkaran

Sabtu, 5 Juli 2008 - 06:41 wib
text TEXT SIZE :  
Share

BLITAR - Ny Suhariyanti (34) dan Lila (5) berdiri saling merapat di pagar kawat berduri setinggi 1,5 meter. Dari sela-sela lobang karat yang terkoyak, ibu dan anak warga Kademangan Kabupaten Blitar ini berusaha melihat lebih dekat bagaimana kawanan rusa berlari-lari berkejar-kejaran dalam zona eksklusif penangkaran rusa di Desa Jatilengger Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar.

Lila yang ukuran tubuhnya lebih mungil, mengintai pemandangan siang itu melalui lubang kawat yang sejajar dengan pandanganya. Meski penglihatanya sedikit terganggu dengan potongan kawat yang tercerabut tak teratur, mata bening gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) ini masih bisa menyaksikan langsung bagaimana momen induk rusa ambruk bersimpuh di tanah berdebu saat si jantan berhasil menggapainya.

Pada momen itu,  rusa betina jenis Timorenses (timor leste) tak mau menyerah begitu saja.  Mengayun-ayunkan kepalanya, berusaha mengusir endusan jantan. Sementara tak jauh dari tubuhnya yang  diselimuti debu tipis, rusa-rusa kecil yang bergerombol sebagai "penonton", melolong panjang. Suaranya sedih memilukan, seolah  tak menerima induknya diperlakukan kasar.

"Rusa-rusa kecil itu lapar, "seloroh Suhariyanti menerangkan kepada anaknya yang tertegun melihat reaksi rusa kecil terhadap induknya yang bertengkar. Tak berlangsung lama, seseorang berseragam dinas perhutani  datang. Pria itu membuka kandang, masuk kedalamnya lalu  "melerai" pertarungan tak seimbang tersebut. Kemudian sebelum keluar,  tanganya menjumput beberapa ketela mentah dari karung goni. Sebagian disorongkan kepada rusa-rusa yang habis "bertempur" itu dan sebagian lagi dilemparkan ke arah yang bergerombol dibawah rindang mahoni.

Ada sebanyak 96 ekor rusa jenis Timorenses di sana. 32 ekor berjenis kelamin jantan dewasa dan  45 ekor jantan. Kemudian 19 ekor rusa kanak-kanak.   
 
Suhariyanti sendiri menggunakan rumput gajah yang tumbuh disekitar kandang rusa. "Suket gajah" begitu sebagian masyarakat menamai, dijulurkan melalui lobang kawat  guna menarik perhatian rusa agar lebih mendekat.

Beberapa kali Lila reflek mengibaskan tangan ketika gigi geraham rusa menyentak ujung rumput gajah ditanganya. Begitulah sebagian aktivitas para pengunjung penangkaran rusa yang berada di petak RPH Perhutani Sumberasri  seluas 7 hektar ini.

"Sudah empat tahun saya tak kesini. Dan tidak banyak berubah. Bahkan sekarang kawat-kawat kandangnya banyak yang rusak karena karat. Untuk rusanya sendiri ya dari dulu seperti itu. Banyak bulunya yang rontok karena berkelahi dan kotor. Sehingga dari jauh kayak terserang kudis,  "papar Suhariyanti.

Dari pengamatan di lapangan, rusa-rusa itu memang kerap berkelahi. Bahkan tidak sedikit rusa yang menabrak kawat pembatas hingga terluka, hanya karena berusaha menghindari kejaran rusa lainya. Binatang ini memang hidup secara berkelompok.

Menurut keterangan Yuliati (37)  salah seorang petugas penangkaran rusa di sana, perkelahian menjadi salah satu penyakit yang terjadi di sekawanan rusa.

"Selain itu bising dan udara malam yang dingin juga mempengaruhi perkembangan hidup rusa.  Sebab pada dasarnya rusa itu butuh kesunyian dan kehangatan, "terangnya. Tak heran,  di dekat loket masuk lokasi, selain terukir tulisan "Dilarang Membawa Minuman Keras " dan "Dilarang Bertindak Asusila", juga tertulis dilarang membuat kegaduhan yang berlebihan.

"Keramaian membuat rusa menjadi stress dan tak terkendali. Kadang ada yang sampai melompati pagar pembatas. Gara-gara ada acara lomba pemecahan MURI mewarna anak TK se Kab Blitar 2007 lalu, dua ekor rusa mati," tuturnya.     

Selain stress, rusa sering tidak tahan dengan hawa dingin di malam hari. Akibat dingin tak sedikit rusa mengalami kembung hingga kejang-kejang. Dan jika tidak diketahui, nyawa rusa bisa tak tertolong juga.

"Sebab memang kita tidak mempunyai fasilitas untuk rusa bisa menghangatkan diri, "terangnya. Yuliati mengakui kandang rusa yang ia kelola ini belum tepat disebut penangkaran. Sebab masih banyak syarat yang belum terpenuhi, termasuk di antaranya tim tenaga medis.

Kendati demikian pengelolaan hewan ini juga memberi pemasukan Rp25 juta/tahun dari penjualan tiket masuk Rp1.000/orang dewasa dan Rp500/anak-anak.

Karena lokasi ini juga berada di Kabupaten Blitar, pihak pengelola berharap ada kepedulian dari pemkab Blitar untuk ikut membantu memajukan sebagai aset wisata daerah. "Paling tidak ini bisa menjadi wisata fauna yang dimiliki Kab Blitar," pungkasnya. (Solichan Arif/Sindo/fit)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2
o1 o2

0 komentar




o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4