NEWS TICKER :

News

Hajar 5 Murid, Guru Dilaporkan Polisi
Jum'at, 8 Agustus 2008 - 21:42 wib
PASURUAN - Tiga orang siswa SMKN 1 Gempol melaporkan Imron Rosadi, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan ke polisi dengan tuduhan melakukan penganiayaan.

Selain itu, Imron juga dituduh melakukan intimidasi kepada para korban dengan cara memaksa mereka mengakui aksi pencurian.

Bentuk intimidasi itu dilakukan dengan cara kekerasan fisik dan pemaksaan pada lima siswa SMKN 1 Gempol untuk menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulang aksi pencurian di kemudian hari. Kekerasan fisik dan mental inilah yang membuat orang tua kelima korban melaporkan kasus ini ke polisi.

Tiga dari lima korban yang kemarin terlihat di Mapolres Pasuruan, yakni Dani Fitro Rohman, M Lugas Agus, dan Samsudin Hidayat. Dua korban lain yang tidak ikut melapor adalah M Saiful dan M Ubaidillah. Kelimanya tercatat sebagai siswa kelas 2 TM-2 (XI TM-2) di SMKN 1 Gempol.

Mereka mengaku mengalami tindak penganiayaan Rabu 6 Agustus lalu sekira pukul 10.30 WIB di ruang perlengkapan SMKN I Gempol.

Saat itu, Dani dkk dipanggil Imron yang barusan datang dari Surabaya dan ditanya seputar keterlibatan mereka dalam serangkaian kasus pencurian batangan besi inventaris sekolah yang sering hilang akhir-akhir ini.

"Kami tidak mencuri tapi dipaksa mengaku perbuatan yang tidak pernah kami lakukan," tutur Dani Fitro Rohman di Pasuruan, Jumat (8/8/2008).

Karena tetap mengelak akhirnya Imron kesal. Sembari meminta kelima siswa untuk menandatangani surat pernyataan bermaterai Rp6 ribu yang telah dibuat sekolah, guru bimbingan penyuluhan ini memukul satu-persatu siswanya beberapa kali.

"Saat kejadian orang tua kami ada di ruang berbeda untuk menjernihkan tuduhan pencurian yang ditujukan pada kami. Tapi kemudian Pak Imron memanggil dan terjadilah pemukulan itu," ujarnya.

Dani beralasan aksi kekerasan guru pada siswa ini bermula dari kesalahpahaman. Kejadian ini berawal saat Ubaidillah hendak ke sungai untuk buang hajat pada jam istirahat. Secara tidak sengaja kakinya tersandung batangan besi yang disembunyikan di ladang belakang sekolah. Kejadian itu kemudian diketahui satpam dan salah satu guru sekolah. Dari situlah kelimanya lantas dituduh telah merencanakan pencurian.

Sementara itu, Imron Rosadi ketika dikonfirmasi mengaku bertanggungjawab atas insiden itu. Namun dirinya membantah jika hal itu dikatakan sebagai tindak penganiayaan. Menurutnya, tindakan fisik yang dilakukannya masih wajar karena sebatas menjewer telinga para siswa dan sedikit menjorog kepala kelima siswa.

"Saya bermaksud memperingatkan karena mereka berbohong. Tidak ada maksud menyakiti sedikitpun karena mereka sudah seperti anak saya," ujarnya.

(Destyan Soejarwoko/Sindo/ful)
250x250 250x250