PASURUAN - Penutupan sementara sejumlah lokalisasi diberbagai daerah selama Ramadan justru menjadi sinyal merah bagi Kota Pasuruan. Biasanya, para pekerja seks komersil (PSK) yang kehilangan tempat mangkal akan membanjiri kota sejuta santri ini.
Demikian diungkap Koordinator LSM Paramitra Nizam Yahya di Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (28/8/2008). "Mereka bisa datang dari berbagai daerah dari luar Pasuruan. Terbanyak, biasanya dari Surabaya dan Malang," kata Nizam.
Konsekuensi atas luberan PSK dari luar kota telah mulai diantisipasi dengan membentuk jaringan Pokja (kelompok kerja) di setiap daerah. Dia memperkirakan, jumlah PSK yang akan membanjiri Pasuruan bisa mencapai ratusan. Bahkan ribuan jika dihitung selama satu bulan. Berdasar pengalaman sebelumnya, mereka datang secara silih berganti.
Dampaknya tentu tidak bisa dianggap enteng. Sebab, sebagai kelompok resiko tinggi, para PSK yang datang dari luar kota ini memiliki potensi menularkan berbagai jenis penyakit menular. Secara realistis, Nizam mengatakan bahwa fenomena ini sulit dicegah.
Posisi geografis Pasuruan yang berada diantara kota-kota industri dan perdagangan seperti Malang, Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik menyebabkan kota sejuta santri ini mudah dijangkau para PSK yang terusir dari tempatnya beroperasi.
"Tidak mungkin dicegah sama sekali. Yang bisa dilakukan sekarang hanyalah meminimalisir dampak atau resiko penularan HIV/AIDS yang dibawa para PSK dari luar kota ini," tandasnya.
Dengan membentuk Pokja, diharapkan proses pendataan terhadap pemudik ataupun pendatang yang memiliki latarbelakang sebagai PSK bisa lebih mudah dilakukan. Karena tim pemantau atau pengawas Pokja tidak hanya akan ditempatkan di daerah yangs sering menjadi tempat tujuan para PSK, tapi juga disetiap kecamatan dan Puskesmas.
"Melalui pokja, kita akan berupaya mengarahkan para PSK urban ini untuk memeriksakan diri ke klinik yang sudah tersedia," ujarnya.
(Destyan Soejarwoko/Sindo/ful)
NEWS TICKER :

