JAKARTA - Popularitas figur bukanlah jaminan bagi calon legislatif (caleg) untuk terpilih pada Pemilu 2009 mendatang. Sebaliknya, kontribusi caleg terhadap konstituen yang paling menentukan.
Anggota Badan Pengendali Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo mengatakan, dengan sistem perolehan suara terbanyak justru ketokohan caleg diuji.
Menurut dia, apakah selama ini mereka yang menjadi tokoh itu dalam berkiprah telah memperjuangkan hak-hak rakyat dan sesuai dengan keinginan konstituennya atau justru sebaliknya. Karena itu, lanjut dia, anggota DPR yang menjadi caleg juga belum tentu terpilih.
"Selama mereka menjadi wakil rakyat selalu berorientasi pada kekuasaan dan alpa pada janji-janji masa kampanye dulu, peluang untuk terpilih kembali agak berat,"terangnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/9/2008).
Jika hal itu yang terjadi, kata dia, maka rakyat akan berpaling pada figur lain, kendati tidak populer namun menjanjikan. Jadi, figur kesohor belum jadi jaminan untuk terpilih.
"Pesohor tapi cuek bebek pada persoalan masyarakat pasti tidak akan dipilih rakyat," terang dia.
Penadapat serupa disampaikan Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik Anas Urbaningrum. Menurut dia, popularitas caleg hanyalah salah satu faktor penentu.
"Memang tidak mugkin orang dipilih kalau tidak dikenal. Namun popularitas saja tak cukup," katanya.
Mantan Ketua Umum PB HMI ini berpendapat, publik lebih suka berbuat nyata sekurang-kurangnya dipercaya bisa berbuat banyak umtuk konstituen di daerah pemilihan (dapil). Bagi caleg yang populer dan berkinerja nyata peluang untuk terpilih semakin besar.
(Ahmad Baidowi/Sindo/teb)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan