o1 o2

Opini


Benarkah Pengusaha Hanya Mengejar Untung?

Kamis, 23 Oktober 2008 - 10:04 wib
text TEXT SIZE :  
Share

Persoalan besar menghadang dunia. Dalam menghadapi krisis keuangan global yang sedang melanda dunia saat ini, bukan hanya negara-negara yang melakukan konsolidasi diri, tetapi juga perusahaan-perusahaan.

Menarik untuk memerhatikan langkah yang dilakukan pemerintahan dan perusahaan di dunia untuk bisa keluar dari krisis. Mereka tidak berlomba-lomba untuk mencari kambing hitam, tetapi justru saling bahu-membahu mencari jalan keluar bagi pemecahan guna menghindarkan dunia dari ancaman resesi dan depresi ekonomi.

Itu bisa dilihat dari serangkaian pertemuan yang dilakukan para pemimpin dunia yang tergabung dalam G-7, G-20, maupun lembaga multilateral- entah itu Dana Moneter Internasional maupun Bank Dunia. Para pemimpin Amerika maupun Uni Eropa tidak lelah melakukan perjalanan trans-Atlantik guna mencari solusi bagi persoalan yang mengimpit dunia. Memang tidak ada manfaatnya di tengah situasi seperti ini mencari kambing hitam.

Itu bukan hanya tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi bahkan menjauhkan kita dari penyelesaian persoalan. Begitu pulalah seharusnya bangsa ini menghadapi krisis global. Tidak ada manfaatnya sekadar saling menyalahkan, apalagi saling curiga. Salah-salah, dengan sikap yang penuh prasangka, krisis yang sebenarnya belum mengimbas ke Indonesia malah akhirnya membuat bangsa ini ikut terpuruk. Itulah yang seharusnya kita sama-sama hindari.

Pengalaman pahit 1998, yang membuat begitu banyak warga Indonesia menjadi korban, cukup sekali saja kita alami. Kebersamaan antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat menjadi kunci bagi setiap bangsa untuk bisa keluar dari situasi serbakrisis seperti sekarang. Itulah yang sedang terjadi di semua negara.

Tetap Bekerja

Menarik apa yang ditulis Keki R Bhote dalam The Power of Ultimate Six Sigma. Untuk menghindarkan terjadinya sikap frustrasi dan putus asa massal dan global pada masyarakat, maka harus diupayakan agar lapangan kerja tetap tersedia agar orang mempunyai pekerjaan yang berarti (meaningful jobs).

Tugas tersebut sangatlah monumental. Itu tidak bisa hanya dilakukan negara secara kolektif, sekalipun karena negara cenderung terlalu birokratis dan isolasionistis. Bahkan PBB pun tidak akan mampu karena mereka tidak mempunyai kemampuan baik secara struktural maupun finansial. Begitu pula Bank Dunia dan IMF karena mereka hanya bisa memberi nasihat, bukan melaksanakan. Menurut Bhote, institusi global yang mampu untuk melakukan itu adalah dunia bisnis.

Dengan dimotivasi oleh kapitalisme dan didorong oleh orientasi untuk mendapatkan untung, dunia usahalah yang bisa menemukan jalan untuk memecahkan persoalan ini. Dunia usaha bukan hanya memiliki know-how dan skill, tetapi mereka dilahirkan untuk selalu siap menghadapi yang namanya tantangan. Memang krisis keuangan global yang dihadapi sekarang tidak lepas dari persoalan yang disebabkan oleh kalangan dunia usaha.

Tetapi pengalaman ini menjadi pembelajaran bagi dunia usaha untuk memperluas cakrawala pandangnya. Pengusaha tidak lagi hanya berorientasi sekadar kepada mencari untung bagi para pemilik saham, tetapi memberi keuntungan kepada pemangku kepentingan (stakeholders) yang lebih luas, yakni masyarakat dunia secara keseluruhan. Sungguh tidak adil karena satu kesalahannya, dunia usaha lalu dipersalahkan dan dihukum selama-lamanya.

Dunia usaha perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki diri karena orientasi mereka menanamkan modal dan melakukan usaha dengan membangun industri tidak semata-mata sekadar mencari untung. Dunia usaha memikul idealisme yang lebih dari itu, yakni bagaimana mengangkat harkat hidup manusia agar menjadi manusia yang sesungguhnya.

Menilai Secara Objektif

Sekali lagi, manusia dilahirkan bukan hanya untuk menjadi manusia yang sekadar bermain (homo ludens), tetapi juga menjadi manusia yang bekerja (homo faber). Manusia akan merasa menjadi manusia yang sesungguhnya apabila mereka hidupnya bermakna dan itu dicerminkan dengan bekerja dan mempunyai pekerjaan.

Dalam konteks itulah kita seharusnya melihat persoalan yang sedang dihadapi Kelompok Usaha Bakrie, tempat saya bekerja, dengan lebih jernih. Kesulitan yang sedang kami hadapi jelas bukan sesuatu yang sengaja ingin terjadi dan dialami. Namun konjungtur ekonomi yang terjadi membuat perusahaan kami dihadapkan pada kesulitan.

Dengan segala daya, para pimpinan Bakrie mencoba menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan. Mereka menyadari betul bahwa tugas tersebut harus bisa dipecahkan karena kami tidak ingin kemudian persoalan ini mengimbas lebih luas ke mana-mana. Sungguh tidak adil ketika di tengah upaya maksimal yang kami lakukan muncul tuduhan Kelompok Usaha Bakrie bukanlah pengusaha yang nasionalis seperti ditulis Wimar Witoelar di Harian Seputar Indonesia, 20 Oktober 2008. Kalimat "Bakrie adalah pengusaha nasional, tapi bukan nasionalis," sungguh sangat tendensius.

Kalimat itu menyakitkan hati karyawan berikut keluarga dan sudah mengarah pada fitnah kepada Keluarga Bakrie. Dalam tulisan itu Kelompok Usaha Bakrie dinilai tidak berorientasi kepada kepentingan nasional. Saudara Wimar, kalau saja orientasi Keluarga Bakrie hanya sekadar kepentingan pribadi, tentu akan lebih baik Keluarga Bakrie tidak mengembangkan usaha apa pun dan tidak perlu terlalu peduli untuk ikut menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang di Republik Indonesia.

Perlu Anda ketahui, sampai saat ini Kelompok Usaha Bakrie mempekerjakan 35.000 orang tenaga kerja secara langsung (teregistrasi) dan 50.000 orang tenaga kerja secara tidak langsung. Bandingkan berapa orang tenaga kerja yang bisa Anda ciptakan, Saudara Wimar Witoelar? Dilihat dari kemampuan menciptakan kerja, kita bisa membandingkan lebih nasionalis mana seorang Wimar Witoelar atau Keluarga Bakrie?

Sebagai informasi, Wimar sendiri tercatat sebagai direktur non-executive di ANTV, meski itu dari mitra ANTV, Star-TV. Jabatan Anda itu menjadi bukti bahwa Anda memang tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas ketimbang Bakrie. Bahwa program Anda dihentikan tayangannya oleh ANTV itu semata-mata karena ratingnya hampir nol! Namun, risiko itu tetap dipilih justru karena menyadari bahwa tugas dari pengusaha adalah menyediakan lapangan pekerjaan, bahkan menjadi tempat bagi banyak orang untuk belajar dan menimba ilmu.

Begitu banyak orang yang pernah bergabung dengan Kelompok Usaha Bakrie sekarang mampu mandiri sebagai pengusaha. Kalaupun pemerintah turut membantu berkembangnya dunia usaha yang sehat, itu bukanlah bagian dari kolusi dan kepentingan politik jangka pendek. Seperti diperlihatkan semua negara di dunia sekarang, kerja sama di antara pemerintah, dunia usaha, bahkan masyarakat dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi jangka pendek, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menyelamatkan bangsa dan negara.

Apakah bailout senilai USD700 miliar yang dilakukan Pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap institusi keuangan yang kolaps akibat salah menyalurkan kredit di sektor perumahan (subprime mortgage) adalah bagian dari kolusi politik Bush dengan dunia usahanya? Apakah bailout yang dilakukan Pemerintah Inggris terhadap Bank Nothern Rock yang terjebak kredit mortgage di AS, injeksi modal tiga negara Uni Eropa kepada lembaga keuangan terbesar Eropa, Fortis dan intervensi pemerintahan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa ke pasar uang merupakan kolusi politik pemerintah dengan pengusaha?

Tidak satu sen pun kredit yang diperoleh Kelompok Usaha Bakrie dibenam di usaha yang sangat berisiko tinggi dan ngawur seperti subprime mortgage. Semua ditempatkan pada proyek-proyek yang menyerap tenaga kerja besar. Apa yang kami alami saat ini semata-mata dampak dari krisis global. Jumlah pinjaman Kelompok Usaha Bakrie sebesar USD1,2 miliar dengan dukungan nilai perusahaan USD6 miliar.

Dilihat dari rasio utang, sangat aman. Utang adalah kepercayaan, dan sebagaimana dikatakan pendiri Kelompok Usaha Bakrie, Bapak H Achmad Bakrie (almarhum), "Tidak akan miskin kita bila membayar utang." Itulah yang saat ini dilakukan seluruh pimpinan Kelompok Usaha Bakrie. Saudara Wimar, dalam situasi seperti sekarang ini tidak ada untungnya sekadar mencari kambing hitam, tendensius, dan ingin menjadi pahlawan kesiangan.

Justru kebersamaan dan sikap untuk saling membantu serta mengingatkan jauh lebih penting, karena akan bisa membawa bangsa dan negara bisa keluar dari gelombang yang tidak menentu. Langkah arif bila Anda menarik kalimat dalam tulisan Anda tersebut, karena itu mengandung unsur fitnah. Saudara Wimar pasti tahu, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. (*)

Lalu Mara Satria Wangsa
Eksekutif di Kelompok Usaha Bakrie

(//mbs)

Bagi Pengguna Ponsel, BlackBerry Nikmati Berita Terkini Di http://m.okezone.com
Share
 Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?

Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan
o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

  • Selasa, 09 Februari 2010 09:39 wib

    Reshuffle oh Reshuffle

  • Jum'at, 05 Februari 2010 07:27 wib

    Menjernihkan Wacana Pemakzulan

  • Rabu, 03 Februari 2010 10:01 wib

    Hal Ihwal Impeachment

  • Selasa, 02 Februari 2010 09:53 wib

    Pantaskah Antasari Dituntut Mati?

  • Senin, 01 Februari 2010 11:25 wib

    Ada Apa dengan Mahasiswa dan SBY?

  • o3 o4