News Ticker
  • RI Keluar dari Daftar Penerbit Obligasi Berisiko
  • KPK Jadwalkan Periksa Bos Artha Graha Andy Kasih
  • 6 Siswa Tersesat di Gunung Gede Ditemukan Selamat
  • Sepak Bola : Hamburg Resmi Pinang Ze Roberto
  • Pemkab Bangkalan Larang Sekolah Pungut Uang Gedung
  • Juni, 473 Ribu Pekerja di Amerika Serikat Kena PHK
  • Pascalongsor, Jalur Riau-Sumbar Masih Dialihkan
  • Bulan Depan, Jamrud Luncurkan Album The Best
  • Pegadaian Catat Obligasi Rp1,5 T di BEI Hari Ini
  • Korban Tewas Flu Babi di Thailand Capai 5 Orang
o1 o2

News


Bisnis Sepeda Para Ulama Lirboyo

Kamis, 20 November 2008 - 04:02 wib
text TEXT SIZE :  
Share

KEDIRI - Di tengah pesatnya teknologi transportasi yang memunculkan beragam produk kendaraan bermesin, Pondok Pesantren Lirboyo justru berusaha menjaga tradisi menggunakan sepeda pancal (onthel).

Bukan tanpa alasan jika pengelola Pondok Pesantren (ponpes) terbesar di Kediri itu melarang para santrinya membawa sepeda motor atau mobil saat belajar di lingkungan pondok. Pasalnya, jauh sejak ponpes itu mulai dikenal dan didatangi banyak santri dari seluruh pelosok negeri, pengelola pondok sudah mempersiapkan semua kebutuhan anak didiknya, termasuk urusan transportasi.

Entah siapa yang memulainya, saat itu empat pengasuh pondok yang juga keluarga pendiri Lirboyo, yakni H Khozin, Gus Imam, Gus Azis, dan Gus Hadi sudah merintis usaha persewaan sepeda pancal.

Keempat ulama tersebut bahkan memiliki hampir 1.000 unit sepeda pancal yang disewakan secara komersil kepada santri Lirboyo dan masyarakat umum. Harganya pun cukup murah, yakni Rp2.000 per jam dengan batas waktu mulai pagi hingga pukul 21.00 WIB.

Setiap santri bebas menyewa sepeda-sepeda itu di luar jam belajar dan jadwal libur yang ditentukan pengasuh pondok. Bagi ribuan santri Lirboyo, berkeliling ke luar kompleks pondok merupakan hiburan yang tiada tara di sela aktivitas mengaji sehari-hari. Karena itu tak heran jika sebagian besar para santri menghabiskan hari libur di luar pondok dengan menyewa sepeda pancal.

Berbeda dengan kaum remaja umumnya yang sibuk bermalam minggu, anak-anak pondok baru diizinkan keluar setiap malam Jumat dan hari libur tertentu. Selain hari tersebut, terdapat hari-hari bebas seperti Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat.

Pada kesempatan itulah para santri dengan bebas memanjakan pikiran dan mata untuk berkeliling ke pusat-pusat perbelanjaan di Kota Kediri menggunakan sepeda pancal.

Kalau sedang libur belajar semua sepeda bisa habis disewa anak-anak, terang Hawin, salah seorang santri yang dipekerjakan sebagai pengelola sepeda pancal milik Gus Imam.

 Cukup dengan menunjukkan surat izin keluar yang dikeluarkan pengurus pondok, para santri sudah bisa memakai sepeda pancal sepuasnya. Selain sebagai keterangan pengguna sepeda, surat izin keluar itu juga untuk melacak kondisi sepeda jika dikembalikan dalam keadaan rusak.

Khusus untuk kasus seperti ini, pihak pengelola akan melihat kerusakan yang ada. Jika karena kondisi sepeda yang sudah tua, kerusakan itu akan diperbaiki pengelola. Namun jika tidak, santri yang bersangkutan diwajibkan memperbaikinya sendiri.

Menariknya, dari ratusan sepeda yang dikelola empat pengasuh pondok, seluruhnya berjenis jengki dengan merek yang sama Phoenix. Menurut Hawin yang bertugas sebagai teknisi bengkel sepeda, sepeda jenis itu sangat kuat dan populer pada tahun 80-an. Kalaupun mengalami kerusakan, paling-paling hanya membutuhkan waktu sebentar untuk memperbaiki as roda dan pedal. Karena itu dari ratusan sepeda yang ada, semuanya masih bisa dipergunakan dengan normal.

Harwin menuturkan, meski pada umumnya para pengguna jasa sewa sepeda dari kalangan santri, namun pihaknya memperbolehkan warga umum untuk menyewa. Hanya dengan menunjukkan KTP yang masih berlaku, mereka sudah bisa membawa pergi sepeda jengki warna biru yang berusia puluhan tahun.

Sayangnya, sistem kepercayaan yang diterapkan pihak pengelola inilah yang kerap disalahgunakan oleh para penyewa dengan membawa kabur sepeda. Akibat perbuatan itu, hingga saat ini jumlah sepeda Gus Imam yang hilang mencapai 20 unit lebih.

"Kami selalu menekankan kepercayaan kepada para santri untuk selalu menjaga sepeda-sepeda itu. Alhamdulillah tidak ada santri yang nakal sampai saat ini," ujar Nabil Haroen, salah satu pengurus pondok.

Dia sendiri membantah jika larangan penggunaan sepeda motor di kalangan santri hanya untuk menjaga kelangsungan bisnis sepeda pancal tersebut. Sebab tanpa diminta sekalipun, tidak banyak santri yang mampu membeli sepeda motor karena latar belakang ekonomi mereka yang pas-pasan. (Hari Tri Wasono/Sindo/fit)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2
o1 o2

0 komentar




o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

  • Sabtu, 04 Juli 2009 17:58 wib

    Mau Kongkow? Hindari Kawasan Senayan

  • Sabtu, 04 Juli 2009 16:47 wib

    Ujang "Facebook" Diperiksa Polisi 2 Jam

  • Sabtu, 04 Juli 2009 14:18 wib

    Sejoli Korban Tabrak Lari Hanyut di Sungai

  • Sabtu, 04 Juli 2009 13:12 wib

    Tipu TKI, PJTKI Ilegal Digerebek Polisi

  • Sabtu, 04 Juli 2009 11:09 wib

    Cucu Tega Habisi Kakeknya di Bekasi

  • o3 o4