Kericuhan Pembagian Daging Kurban. (Foto: Nurlaili/okezone)
DEPOK - Ratusan ibu-ibu berdesakan di depan pintu gerbang Mapolres Metro Depok Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Mereka terus mendorong pintu yang dijaga puluhan anggota Dalmas Satuan Samapta.
Insiden terjadi saat polisi menutup kembali gerbang setelah sepuluh orang masuk ke halaman untuk mendapatkan daging kurban. Enam orang ibu-ibu terjatuh dan bahkan ada yang masuk ke selokan karena tak kuasa menahan dorongan dari barisan yang ada di belakangnya.
Ibu-ibu yang hanya mengenakan daster tersebut mengeluarkan sekuat tenaga untuk dapat masuk ke halaman Polrestro Depok sekedar mendapatkan daging kurban yang dibagikan kepada duafa. Bahkan mereka sengaja datang sejak usai salat Idul Adha agar bisa mendapat barisan antre terdepan.
Dari pantauan okezone di lapangan, polisi meminta warga laki-laki untuk mundur dari barisan karena pembagian hanya akan diberikan kepada ibu-ibu dan remaja tanggung. Warga yang datang ke Mapolres semakin siang semakin bertambah banyak. Diperkirakan jumlah warga yang berdesakan di depan gerbang berjumlah 500 orang.
Warga yang didominasi ibu-ibu tersebut datang dari daerah pelosok di wilayah Kota Depok seperti dari Kampung Lio, Rawa Geni, dan Ratu Jaya, Kecamatan Pancoran Mas. Ada juga yang dari Sawangan dan Limo, serta Kalimulya kecamatan Sukmajaya.
Ibu Feny dari Kampung Lio mengatakan dirinya rela datang sejak pukul 09.00 WIB. Dia membawa bayi yang baru berumur delapan bulan. "Sengaja saya bawa anak saya. Biar cepat dapatnya," kata dia, Minggu (8/12/2008).
Dia tak mau memilih daging apa yang akan didapatnya. Baginya, daging sapi atau kambing sama saja. "Yang penting makan daging. Soalnya setahun sekali belum tentu makan ini," tukas Feny.
Kepala Bagian Administrasi Kompol Widi Astuti mengatakan perayaan Idul Adha kali ini, panitia menyembelih 10 ekor kambing dan 6 ekor sapi. "Sebenarnya pembagian daging hanya diprioritaskan kepada anggota keluarga besar Polres Depok saja. Bila ada lebihnya, itu baru untuk kaum duafa," kata dia.
Awalnya panitia hendak membagikan dengan sistem kupon. Namun melihat ramainya warga miskin yang datang, membuat panitia mengurungkannya. (nov)(hri)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan