Adam Air Hilang di Segitiga Bermuda Indonesia?

|

JAKARTA-Pesawat AdamAir jurusan Surabaya-Manado hilang dari pantauan radar sejak Senin kemarin. Maskapai dengan  nomor penerbangan DHI 574 ini seakan raib ditelan bumi. Benarkah pesawat ini masuk perangkap wilayah keramat Segitiga Bermuda “Indonesia”?

Bagi orang yang gemar kisah misteri, pasti sudah tidak asing mendnegar kisah Segitiga Bermuda. Yang dimaksud dengan Segitiga Bermuda adalah wilayah laut di selatan Amerika Serikat dengan titik sudut Miami (di Florida), Puerto Rico (Jamaica), dan Bermuda ini. Telah berabad-abad menyimpan kisah yang tak terpecahkan. Misteri demi misteri bahkan telah dicatat oleh pengelana samudera. Siapapun yang masuk kawasan ini, akan lenyap. 

Nah, di Indonesia selama ini tidak kenal dengan Segitiga Bermuda. Namun dengan sejumlah kasus, seperti tenggelamnya KMP Senopati, hilangnya Adam Air dan Kapal Tampomas yang tenggelam di kawasan laut antara Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi ini menjadi wilayah ini menjadi keramat. 

“Soal Segitiga Bermuda  saya yakin hanya mitos. Tapi memang banyak penerbang maupun pelaut sudah mendengar isu ini. Tapi saya tidak tahu persisnya di mana,” kata Nanang Hernandar, mantan pilot yang kini banyak aktif di FASI, Rabu (3/1/2006). 

Di dalam kisah Segitiga Bermuda di AS yang ditulis Majalah Angkasa, menyeburtkan bahwa kawasan ini telah membungkam puluhan pesawat yang melintasinya.

 

Peristiwa terbesar yang kemudian terkuak sekitar 1990 lalu adalah raibnya iring-iringan lima Grumman TBF Avenger AL AS yang tengah berpatroli melintas wilayah laut ini pada siang hari 5 Desember 1945.

 

Setelah sekitar dua jam penerbangan komandan penerbangan melapor, bahwa dirinya dan anak buahnya seperti mengalami disorientasi. Beberapa menit kemudian kelima TBF Avenger ini pun raib tanpa sempat memberi sinyal SOS.  

 

Anehnya, misteri Segitiga Bermuda tak berujung di situ saja. Ketika sebuah pesawat SAR jenis Martin PBM-3 Mariner dikirim mencarinya, pesawat amfibi gembrot dengan tigabelas awak ini pun ikut-ikutan lenyap.

 

Hilang bak ditelan udara. Keesokan harinya ketika wilayah-wilayah laut yang diduga menjadi tempat kecelakaan keenam pesawat disapu enam pesawat penyelamat pantai dengan 27 awak, tak satu pun serpihan pesawat ditemukan. Ajaib.  

Tahun demi tahun berlalu. Sekitar 1990, tanpa dinyana seorang peneliti berhasil menemukan onggokan kerangka pesawat di lepas pantai Fort Launderdale, Florida. Betapa terkejutnya orang-orang yang menyaksikan. Karena, ketika dicocok kan, onggokan metal itu ternyata bagian dari kelima TBF Avenger.  

Kisah ajaib lainnya adalah hilangnya pesawat transpor C-119 Flying Boxcar pada 7 Juni 1965. Pesawat tambun mesin ganda milik AU AS bermuatan kargo ini, hari itu pukul 7.47 lepas landas dari Lanud Homestead. Pesawat dengan 10 awak ini terbang menuju Lapangan Terbang Grand Turk, Bahama, dan diharapkan mendarat pukul 11.23.

 

Pesawat ini sebenarnya hampir menuntaskan perjalanannya. Hal ini diketahui dari kontak radio yang masih terdengar hingga pukul 11. Sesungguhnya memang tak ada yang mencurigakan. Kerusakan teknis juga tak pernah dilaporkan. Tetapi Boxcar tak pernah sampai tujuan.

 

"Dalam kontak radio terakhir tak ada indikasi apa-apa bahwa pesawat tengah mengalami masalah. Namun setelah itu kami kehilangan jejaknya," begitu ungkap juru bicara Penyelamat Pantai Miami.

 

"Besar kemungkinan pesawat mengalami masalah kendali arah (steering trouble) hingga nyasar ke lain arah," tambahnya.

 

Seketika itu pula tim SAR terbang menyapu wilayah seluas 100.000 mil persegi yang diduga menjadi tempat kandasnya C-119. Namun hasilnya benar-benar nihil. Sama seperti hilangnya pesawat-pesawat lainnya di wilayah ini, tak satu pun serpihan pesawat atau tubuh manusia ditemukan.

 

"Benar-benar aneh. Sebuah pesawat terbang ke arah selatan Bahama dan hilang begitu saja tanpa jejak," demikian komentar seorang veteran penerbang Perang Dunia II.

 

Seseorang dari Tim SAR mengatakan, kemungkinan pesawat jatuh di antara Pulau Crooked dan Grand Turk. Bisa karena masalah struktur, ledakan, atau kerusakan mesin.

 

Kalau memang pesawat meledak, kontak radio memang pasti tak akan pernah terjadi, tetapi seharusnya kami bisa menemukan serpihan pecahannya.

 

Begitu pula jika pesawat mengalami kerusakan, mestinya sang pilot bisa melakukan ditching (pendaratan darurat di atas air). Pasalnya, cuaca saat itu dalam keadaan baik. Dalam arti langit cerah, ombak hanya sekitar satu meter, dan angin hanya 15 knot. Tapi semua teori pendaratan di atas air tak jalan.  Itulah misteri! (suw)

 

()

berita terkait

foto & video lainnya

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Anies Didesak Stop Kurikulum 2013