getting time...

NEWS » News

1 Tewas dan 167 Dirawat Setelah Konsumsi Daging Sapi Mati

Lelin - Okezone
Selasa, 6 November 2007 11:21 wib

KUPANG - Satu tewas dan ratusan warga lainnya masih menjalani perawatan intensif dari tim medis setelah mengkonsumsi bangkai daging sapi yang mati secara mendadak Jumat, pekan lalu.

Menurut laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, sebagian besar warga yang keracunan berasal dari Desa Sapaen, Kecamatan Biboki Utara.

Sejauh ini belum ada penjelasan resmi dari pemerintah, apakah bangkai ternak yang dikonsumsi warga mengidap bakteri antraks atau penyakit lainnya karena masih menunggu hasil uji laboratorium.

Bupati Timor Tengah Utara, Gabriel Manek, yang dihubungi okezone Selasa (6/11/2007) mengatakan, pihaknya sudah menurunkan tim medis untuk melakukan pengobatan secara intensif bagi warga yang menderita sakit setelah mengkonsumsi daging sapi yang mati tersebut.

"Sampai saat ini, satu warga dilaporkan meninggal dunia. Korban bernama Yoseph Taek (9). Sedangkan yang mendapat perawatan medis sebanyak 167 orang. Sebagian diantaranya dalam kondisi pemulihan setelah mendapat pertolongan medis. Belum ada kepastian tentang sumber utama yang menyebabkan ratusan warga keracunan karena sampel ternak mati masih diperiksa oleh para ahli kesehatan hewan," ujar Gabriel.

Secara terpisah, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Timor Tengah Utara, Asa Petrus mengatakan, secara klinis kemungkinan besar penyebab terjadinya keracunan bukan  bakteri antraks.

"Kalau penyebabnya adalah antraks, maka korban yang telah tertular akan mengeluarkan buih dari mulut atau sebagian anggota tubuh muncul luka bernanah. Sehingga korban hanya dapat bertahan hidup dalam kurun waktu tiga hari," katanya.    

Sebelumnya, puluhan warga Kabupaten Ende dan Sikka kritis dan lebih dari 700 warga teridentifiksi antraks setelah mengkonsumsi daging bangkai kerbau, akhir Oktober lalu. Sedangkan di Pulau Sumba, lima warga tewas seketika setelah mengkonsumsi bangkai sapi yang mati, pada April lalu.

Sampai dengan saat ini,  sudah sembilan warga NTT yang tewas akibat antraks. Pemerintah NTT dalam tahun ini mengirim vaksin antraks sebanyak  145 ribu dosis ke 19 kabupaten guna mencegah meluasnya serangan antraks.

"Vaksin tersebut diharapkan dapat dipakai untuk melakukan vaksinasi total terhadap ternak besar di seluruh kabupaten," kata Kepala Sub Dinas Kesahatan Hewan, Dinas Peternakan NTT  Maria Geong,

Sebagian warga yang positif antraks menunjukkan gejala klinis, seperti badan membengkak dan hanya dalam beberapa jam muncul luka borok dan mengeluarkan nanah. Penyakit antraks disebabkan oleh kuman bacillus anthraxis dan umumnya menyerang ternak berdarah panas seperti babi, kerbau, sapi, kuda, kambing dan ternak besar lainnya. Spora yang berfungsi melindungi bakteri antraks mampu  bertahan hidup sampai usia  60 tahun. Penyakit antrax pada hewan pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1884.

 

 


(kem)