JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku tersinggung ketika dibilang banyak orang Indonesia buta huruf, sehingga tidak mungkin dilakukan pemilu dengan cara menulis nama.
"Saya tersinggung benar orang mengatakan orang Indonesia buta huruf. Kita tidak tulis huruf hanya tulis angka," kata Wapres saat
menyampaikan arahan pada acara penutupan kursus reguler Lemhanas angkatan 40 di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa
(13/11/2007).
Menurut Wapres, momen pemilu inilah kesempatan bagi partai untuk mengajarkan angka-angka kepada masyarakat. "Itu baru partai. dan Golkar siap untuk mengajari semua orang untuk mengenal angka," tegasnya.
Kalla menegaskan, daripada membeli kertas suara sepanjang 1 meter, negara bisa menghemat triliunan rupiah dengan cara menulis saja.
"Semua partai minta kartu pemilih, buat apa ada KTP?. Perlu perubahan, kalau tidak negeri ini akan begini terus. Negeri yang jauh lebih miskin dari kita juga pakai nulis, kita ini merasa kaya pakai coblos segala. Di dunia cuma kita yang mencoblos karena tidak mau berubah, kita akan merubah cara berpikir," jelasnya.
Menurut Kalla, Indonesia masih dalam kondisi yang sulit, di mana defisit anggaran masih tinggi, namun masih saja ada pengajuan anggaran pemilu sebesar Rp49 triliun.
"Cari akal lah. kenapa mahal. 5% orang buta huruf sehingga dianggap semua orang buta huruf. Sebuta-buta hurufnya orang indonesia pasti bisa menandai, bisa memegang uang, dan artinya bisa lihat angka," pungkasnya.
(Syukri Rahmatullah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.