NGAWI Â - Ribuan warga yang berada di 20 desa di wilayah Kecamatan Kwadungan dan Geneng, Kabupaten Ngawi, hingga kemarin belum bisa dievakuasi dari lokasi banjir setinggi 3-4 meter.
Warga di lokasi banjir terlihat bertahan dengan cara naik ke atas genteng dan atap-atap rumah sambil menungu datangnya pertolongan. Sedangkan, persediaan bahanan makanan semakin menipis sehingga mereka terancam kelaparan setelah dua hari dua malam direndam banjir.
Proses evakuasi terhadap warga korban banjir di Desa Kendung, Wage, Dinden, Tirak, Genyol, Pojok, Siren di wilayah Kecamatan Kwadungan dan warga di Desa Klampisan, Kasreman, Sidaryo, Kresikan, Dempel, Karsoharjo, Klitik serta desa lainnya di Kecamatan Geneng lambat karena terbatasnya jumlah perahu karet dan speedboat. Padahal, untuk menjangkau lokasi banjir yang berjarak sekitar 8-10 Kilometer (KM) dari posko pengungsian terdekat hanya bisa dilakukan dengan menggunakan perahu karet dan speedboat.
Untuk mengevakuasi warga, petugas hanya memiliki 19 speedboat, yakni tujuh dari bantuan PT Sampoerna Tbk, 3 unit speedboat dari PKS, 7 perahu karet dari TNI AU, 3 unit perahu karet dari Angkatan Darat, dan selebihnya dari relawan.
Sejak Rabu (26/12) malam hingga Jumat (28/12) pagi, proses evakuasi dengan menggunakan perahu karet terhadap warga yang masih terkepung banjir terus dilakukan.
Dari pantauan di lokasi banjir Desa Kendung, Wage, dan Dinden, warga sangat membutuhkan bantuan bahan makanan yang bisa langsung dimakan. Bantuan bahan makanan seperti mie instan, roti, minuman kemasan sangat diperlukan. Oleh karena itu ketika tim evakuasi datang membawa perbekalan makanan warga langsung mendekat dan berebut makanan. Sebagian dari mereka juga terlihat berteriak histeris meminta bantuan makanan.
Menurut Kepala Desa Kendung, Slamet Raharjo, setelah direndam banjir selama dua hari dua malam, warga mulai kelaparan. Mereka hanya berharap segera dievakuasi dari lokasi banjir atau mendapatkan bantuan bahan makanan untuk bisa bertahan.
"Kalau banjir tidak segera surut, saya khawatir warga saya disini kelaparan semua," ujarnya saat ikut evakuasi.
Namun, banjir yang melanda kawasan Kwadungan dan Geneng hingga Jumat ini belum terlihat surut. Bahkan dikhawatirkan banjir semakin meninggi karena ada banjir kiriman dari Madiun dan Wonogiri. Sedangkan, wilayah kecamatan lainnya yang terendam banjir seperti Paron, Widodaren, Karanganyar, Mantingan, Pitu, Pangkur, Padas, Kedunggalar, dan Ngawi Kota banjir mulai terlihat surut. Meski begitu, jalur-jalur utama yang menghubungkan ke Kota Ngawi seperti jalur Madiun-Ngawi, Sragen-Ngawi, Caruban-Ngawi, dan Bojonegoro Ngawi masih terputus. Terputusnya akses masuk ke Kota Ngawi ini membuat transportasi di Kota Ngawi lumpuh.
Terlihat ratusan truk muatan berat terlihat tertahan sepanjang 4-5 Kilometer di sepanjang jalur Madiun-Ngawi. Kendaraan dari arah Madiun belum bisa masuk ke Ngawi karena di sepanjang jalur utama di wilayah Kecamatan Geneng masih terendam air setinggi lutut.
Sementara itu, jumlah pengungsi korban banjir terus bertambah. Di Kec Geneng, hingga kemarin siang tercatat ada 2.000 pengungsi yang ditempatkan di posko pengungsian Kantor Kecamatan Geneng, di Balai Penyuluhan Pertanian, Puskesmas Geneng, Gudang Pangan Bulog, dan di SDN Tambakromo I dan II. Sedangkan, jumlah pengungsi di Kecamatan Kwadungan tercatat ada 1.500 pengungsi yang ditempatkan di sejumlah posko.
Menurut Camat Geneng, Joko Santoso, diperkirakan jumlah pengungsi akan terus bertambah. Sebab, kata dia, masih banyak korban banjir di lokasi yang belum bisa dievakuasi. "Masih banyak warga saya di lokasi banjir yang sulit terjangkau seperti di Kresikan, Dempel, dan Klitik yang sampai saat ini belum bisa dievakuasi. Sehingga saya perkirakan sampai nanti malam jumlah pengungsi akan terus bertambah," ujarnya.
Sementara itu, akibat dilanda banjir cukup besar tidak sedikit para pengungsi yang mengalami depresi. Mereka yang kondisinya kritis dirawat di Puskesmas Geneng. Menurut Kepala Puskesmas Geneng, Pudji Rusdiarto, para pengungsi banyak yang mengalami depresi dan stres saat dievakuasi. Sebab, kata dia, mereka mengalami kedinginan (hypotermi), kelaparan, ditambah perasaan cemas dan khawatir dengan keselamatan jiwanya dan keluarganya. "Banyak pengungsi yang kita tangani kondisinya stress dan depresi," ujarnya.
Sedangkan, dilaporkan lima warga tewas akibat banjir diantaranya Sadinem (50) warga Desa Kasreman, Menik (47) warga Desa Dempel, Sariman (600 warga Desa Kersikan, Kecamatan Geneng. Sedangkan, dua korban lainnya belum diketahui identitasnya. Kelima warga yang menjadi korban ini tewas ketika berada di lokasi banjir dan baru beberapa jam bisa dievakuasi oleh regu penolong.
Sementara itu, bantuan bahan makanan dan obat-obatan dari berbagai instansi dan donator terus berdatangan ke posko pengungsian. Namun, karena jumlah pengungsi semakin besar bahan makanan dan obat-obatan masih dirasa kurang.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.