Presiden Fidel Castro adalah tokoh yang beruntung, sama halnya dengan mantan Presiden Soeharto.Ketika sakit, mereka dikunjungi para sahabatnya, baik yang masih bertengger dalam kekuasaan maupun yang sudah lengser.
Selama di rumah sakit,Castro didatangi sohibnya, seperti Presiden Venezuela Hugo Chavez, Presiden Bolivia Evo Morales,Presiden Nikaragua Daniel Ortega, dan pekan ini disambangi Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Sahabat sejati atau rival yang sedang berdiplomasi sangat cerdik dalam menggunakan momentum untuk bersilaturahmi, mengungkap perasaan hati dan tanpa disadari mengundang publik bersimpati. Bedanya, kalau di Kuba,kondisi kesehatan kepala negara masuk katagori rahasia negara seperti juga di beberapa negara Uni Eropa.
Misalnya dulu,mantan Presiden Perancis Mitterand dan mantan Kanselir Jerman Willy Brand, semasa mereka sakit hampir tak tercium dan diliput luas media massa, meskipun di sana terdapat kebebasan pers.Hanya pers tidak menjadikan itu sorotan utama apalagi mengejar rating karena berita orang sakit meski kepala negara sekalipun dianggap ranah pribadi yang tak perlu dikuliti. Harap maklum,di Kuba tak ada kebebasan pers,di negeri kita alhamdulillah sebaliknya.Pers dapat meliput apa saja,asal perlu ingat ada kode etik jurnalistik yang perlu pula ditaati insan pers kita.Memang lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya.
Kunjungan Presiden Lula da Silva dari Brasil pekan ini telah membuka tabir baru mengenai kondisi Fidel Castro.Ia kagum sang orator ulung ini masih cukup sehat untuk orang seusianya, masih optimistis dalam hidupnya dan tetap kritis menyikapi perkembangan dunia. Apalagi Castro menjadi sangat bergairah ketika Brasil mengucurkan bantuan kredit dan memperluas kerja sama ekonomi perdagangan kedua negara. Lebih istimewa lagi, kunjungan ini seperti memberi napas tambahan dan amunisi kepada Castro untuk tetap tegar dan gagah menghadapi Amerika Serikat (AS) yang sudah lama menghadang Kuba untuk patah langkah berkiprah di dunia internasional. Kata kuncinya, embargo dan isolasi untuk Kuba.
Di bawah Castro,Kuba terus menggeliat meski cukup banyak warganya yang eksodus ke AS dan di sana pula mereka yang tak setuju dengan Castro melakukan perlawanan.Meski kedua negara sepertinya kini kompak dalam strategi politik kawasan menghadapi AS,tapi sesungguhnya Kuba-Brasil sudah cukup lama mengalami pasang surut dan pahit getir berurusan dengan AS.AS pernah sangat lama mendominasi kedua negara ini, tentu sebelumnya didominasi penjajahan Spanyol dan Portugis,sehingga di Kuba bahasa resminya bahasa Spanyol dan di Brasil menggunakan bahasa Portugis. Hubungan Kuba dengan Amerika Serikat cukup unik.
Setelah merdeka 20 Mei 1902 tak kurang enam puluh tahun setelah itu hubungan bilateral kedua negara terbilang lancar dan harmonis. Andil AS membebaskan Kuba dari cengkeraman Spanyol dan memberi bantuan ekonomi yang cukup besar kepada Kuba pada masa-masa awal yang sulit ternyata ada udang di balik batu.Kuba diikat dengan Platt Amendementyang diberi nama sesuai pengusulnya Senator AS Orville Platt. Substansinya terdiri dari empat butir yaitu Kuba dilarang bergabung dengan aliansi militer asing, dilarang menggunakan pinjaman luar negeri yang tak mampu dibayar dari sumber dalam negeri.
Demi kepentingan AS dibenarkan campur tangan dan intervensi militer AS ke dalam negeri Kuba dan kalau perlu wilayah teritorial Kuba dapat dijual atau disewakan. Menurut Harvey Kline (Cuba,The Politics of Socialist Revolution,1985) perlakuan ini sungguh menjadikan Kuba satelit AS yang tak berdaya. Kuba sungguh sangat tergantung bukan saja secara ekonomi tetapi secara total di bawah kontrol AS.Tentu,amandemen ini menimbulkan pro kontra.Mereka yang diuntungkan aturan sepihak ini disebut Plattistas atau Entreguistas, mereka yang merasa harga dirinya dilecehkan dan kemudian memunculkan sentimen anti-Yankee yaitu antidominasi AS, disapa dengan Plattismo.
Keterpasungan Kuba baru berakhir ketika Presiden AS Franklin D Roosevelt setuju mencabut perjanjian itu pada 29 Mei 1934.Tumbuhnya kesadaran untuk bangkit dengan kekuatan sendiri baru dicapai sejatinya sejak revolusi Kuba 1959 yang dimotori Fidel Castro dengan menyingkirkan diktator Fulgencio Batista Y Zaldivar. Castro ibarat dua mata uang yang sangat sadar memainkan lakonnya sesuai tuntutan zaman. Cita-cita revolusi Kuba diobsesi oleh Castro sebagai upaya membentuk "orang Kuba baru" (new Cuban) yaitu yang berjiwa progresif revolusioner, menjunjung kepentingan bersama, berjiwa egaliter, bersikap responsif,berhati jujur, dan patuh serta loyal kepada pemimpin.
Castro di usia senjanya telah memetik sebagian dari doktrin politiknya yang kemudian dikenal dengan sebutan Fidelismo atau Castrismus yang tak lepas dari aliran ideologi Marxisme-Leninisme sebagai ideologi resmi negara yang hingga kini masih berlaku di negara itu. Seperti gagasan Castro yang dituangkan dalam Manifesto Nuestra Razon 1957 harus dihapuskannya mentalitas kolonial, dominasi ekonomi asing, korupsi politik dan kesewenang- wenangan militer.Untuk memuluskan ambisi politiknya,Castro mendirikan semacam sekolah untuk mengarahkan revolusi yang berdiri tahun 1960 (EIR,Escuelas de Instruccion Revolucionaria).
Kalau di negeri kita seperti P4 yang telah dibubarkan, sama halnya di Kuba melihat tidak efektifnya forum ini melakukan brainwash atas warga Kuba maka EIR di-bubarkan pada Februari 1968. Kubamemangjatuhbangundipangkuan penguasa kuat (caudillo). Fidel Castro sudah hampir setengah abad berkuasa.Ia kini mulai rela menyerahkan sebagian kekuasaan meskipun besok (20/1) diselenggarakan Pemilu anggota parlemen, di mana Castro hampir dipastikan dipilih kembali. Tampuk kekuasaan ke depan tampaknya dipersiapkan pada adiknya Raul yang kini sudah berkuasa atau kepadatokohmudaFelipePerezRogue.
AlihkekuasaandariCastrojugadirasakan kelompok oposisi di dalam dan luar negeri.Laporan Komisi HAM Kuba (CCHRN) mencatat masih ada 283 tahanan politik di tahun 2006.Menyadari tekanan internasional hendak melakukan rekonsiliasi nasional, banyak diantara tokoh-tokoh kritis secara bertahap dibebaskan dari penjara. Pejuang HAM Hector Palacios bersama 74 tokoh oposisi yang membangkang pada demo besar-besaran Maret 2003 yang diancam 25 tahun hukuman penjara, kini dibebaskan.
Di samping itu, ada pula tokoh oposisi yang mendekam di penjara selama 17 tahun,Jorge Luis Garcia Perez,kini bisa menghirup udara bebas (Der Fischer Weltalmanach 2008). Kuba cepat atau lambat akan mengantarkan Fidel Castro mengakhiri kekuasaan.Kenyataan itu sebagaimana pidato legendarisnya di depan pengadilan peristiwa Moncada 1953 bahwa sesungguhnya masa depan kehidupan manusia terletak pada sisi kewajiban yang ditunaikannya. "La historia me absolvera, sejarah akan membebaskan aku!"serunya.(*) PROF. BACHTIAR ALY Pencermat Amerika Latin
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.