Sejarah Global Kelahiran NU

Jum'at, 25 Januari 2008 09:35 wib | Sindo Pagi -

Menulis sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya melihat niat para pendiri atau tujuan pendiriannya.Harus dilihat pula aspek konteks globalnya, yakni konteks yang menghubungkan pengalaman mereka (para pendiri itu) saat sebagai santri di pengajian di Mekkah dan ketika kembali ke Tanah Air.

Aspek ini menarik untuk dilihat ketika KH Hasyim Asy'ari dan para kiai pendiri NU belajar di lingkungan Masjidil Haram.Salah seorang syekh terkenal di sana adalah Syekh Ahmad Zaini Dahlan (w. 1886).Penulis buku Syarh Ajurumiyyahyangbanyakdiajarkandi pesantren-pesantren ini adalah kawan akrab Syekh Nawawi Banten dan punya banyak murid dari Nusantara. Ada sekitar dua puluhan karya tulis yang dihasilkannya.Salah satunya berjudul Khulashatul Kalam fi Bayani Umara Baladil Haram (editor Muhammad AminTawfiq,edisi Dar Al-Saqi,1993).

Buku ini berkisah tentang sejarah para penguasa di Mekkah dan Madinah sejak era Abbasiyah hingga 1884. Yang menarik untuk diulas adalah pengalaman penulis dengan sejumlah penguasa Mekkah (yang dikenal dengan sebutan "syarif") sejak 1840 hingga 1884.Pengalaman ini menjadi penting untuk melihat konteks bagaimana para ulama dan santri Masjidil Haram bergumul dengan kekuatankekuatan politik saat itu yang sedang memperebutkan hegemoni di tanah Arab.Pengalaman ini kemudian membawa dampak yang begitu besar bagi para alumni pengajian Mekkah setelah kembali ke tanah air mereka masing- masing.

Hal itu termasuk pada diri Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Wahab Hasbullah yang kemudian mendirikan NU di Jawa pada 1926. Ada tiga kekuatan yang sedang bertarung saat itu: kesultanan Turki-Usmaniyah, imperialismeInggrisdanPrancis, dan ekspansi dinasti Saud dengan kelompokWahabinya. Syekh Ahmad Zaini Dahlan menggambarkan dengan rinci bagaimana permainan ketiga kekuatan itu di bagian akhir bukunya itu. Cengkeraman politik Turki-Usmani sangat kuat.Ada belasan ribu pasukan Muhammad Ali Pasha dari Mesir,representasi kekuasaan Turki-Usmaniyah di sekitar Mekkah. Ada pula rongrongan pasukan Saud-Wahabi dengan dukungan Inggris-yang sewaktu-waktu bisa menyerang Mekkah seperti yang pernah terjadi pada 1802,namun sempat dihalau kembali oleh tentara Mesir- Turki di tahun berikutnya.

Lalu,kehadiran Inggris dan Prancis yang ingin mengamankanjalurekonomimerekadi pesisir timur dan barat Jazirah Arab. Kedua negara imperialis ini berupaya mengurangi pengaruh Turki- Usmani di sekitar wilayah Syria dan mengamankan jalur transportasi menuju Terusan Suez. Serangan Inggris ke Kota Jeddah di tepi Laut Merah pada 1857 menunjukkan posisi strategis kekuatan ekonomi Hijaz saat itu. Untuk menghadapi ketiga kekuatan tersebut, Syarif Mekkah mendapat dukungan para ulama Hijaz yang kebanyakan bermazhab Syafi'i.Syarif Abdullah (1858-1877) mengangkat Zaini Dahlan sebagai mufti Mekkah pada 1871.

Jabatan tersebut dipegang hingga tiga syarif berikutnya.Selama itu pula Zaini Dahlan melihat sendiri bagaimana posisi ulama bukan hanya terlibat dengan urusan pengajian, tapi juga terlibat aktif dalam pergumulan politik masa itu. Ada dua isu besar yang menjadi perhatian Syekh Zaini Dahlan waktu itu: kemandirian pengajian Masjidil Haram dan independensi Tanah Hijaz dari intervensi bangsa luar.

Isu pertama menunjukkan karakter ulama sebagai sosok yang mandiri dan faqih fi mashalilhi khalq(yang mengurus kepentingan umat), dan bukan sekadar pemberi legitimasi terhadap kekuasaan. Adapun isu kedua menunjukkan kedaulatan ekonomi-politik "lokalitas- kebangsaan" yang mencakup wilayah segitiga emas Hijaz (Jeddah- Mekkah-Madinah).Segitiga emas inilah yang kerap menjadi target kekuatan- kekuatan luar untuk merebutnya. Meski begitu, relasi antara syarif Mekkah dengan para ulama tidak bergerak lurus.Para ulama mendukung politik lokal Mekkah yang ingin merdeka dari kekuasaan Turki, namun tidak setuju dengan justifikasi penguasa tentang perbudakan.

Syarif Mekkah didukung untuk membendung ekspansi Inggris-Perancis, tapi tidak setuju kala syarif Mekah memberi konsesi apa pun bagi masuknya Inggris ke Jeddah. Mereka juga bergandengan tangan dengan Syarif untuk menahan laju pergerakan kelompok puritan Ibn Saud-Wahabi,namun tidak setuju dengan kehidupan hedonistis keluarga syarif. Meski Mekkah pada akhirnya jatuh ke tangan Ibn Saud-Wahabi pada 1925,tapi Zaini Dahlan memberi pelajaran berarti bagi kehidupan para ulama dan santri yang belajar di Tanah Haram.Mereka bukan hanya belajar agama dan urusan-urusan akhirat, tapi juga belajar pemberdayaan politik dan strategi penguatan ekonomi lokal.

Dua isu ini pula yang kemudian diterjemahkan oleh para ulama dan kiai Nusantara ketika mendirikan NU di Jawa pada 1926: kemandirian pesantren dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari imperialisme asing.Itu tercermin dari deklarasi pendirian Nahdlatul Ulama sebagaimana yang ditulis KH Muhammad Dahlan Kebondalem, salah seorang pendiri NU: "Berdirinya NU adalah untuk menegakkan syariat Islam menurut ajaran Ahlussunnah Waljamaah dan mengajak bangsa ini untuk cinta kepada tanah airnya." Dan itulah yang ditunjukkan ketika Kiai Wahab Hasbullah pulang ke Jawa.

Beliau mendirikan Nahdlatuttujjar pada 1918, forum diskusi Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, hingga Nahdlatul Ulama pada 1926.Mereka belajar dan mendalami agama,tapi juga mengajarkan ikatan kebangsaan. Kiai Hasyim Asy'ari, Kiai Wahab, dan para kiai lainnya semuanya menunjukkan kemampuan memadukan ajaran Islam tekstual dengan konteks lokalitas, melahirkan wawasan dan orientasi politik substantif. Cara NU membawa ajaran Islam tidak melalui jalan formal, lebih-lebih dengan cara membenturkannya dengan realitas secara frontal, tetapi dengan cara lentur dan akomodatif. Politik kebangsaan seperti itu secara konsisten menjadi garis politik NU sepanjang perjalanan Indonesia merdeka.

Mulai dari resolusi Jihad pada 1945 hingga ketika menghadapi gerakan- gerakan separatis berbau agama seperti DI/TII di Jawa Barat, PRRI/Permesta maupun pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan pada 1950-an hingga 1960-an. Pada semuanya itu, NU berdiri tegas di pihak republik.Mereka juga selalu siap membela keutuhan NKRI dari intervensi luar. Garis politik seperti itulah yang memudahkan kalangan NU menerima Pancasila dan NKRI sebagai bentuk final perjuangan umat Islam, sebagai sesuatu yang harus dibela dan dipertahankan. Itu semua berkat pelajaran sang guru, Syekh Zaini Dahlan, almaghfurlah.(*)

Ahmad Baso Anggota Komnas HAM

(Sindo Pagi//sjn)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »