Masa Kecil Soeharto, Orang Tua Cerai (1)

Mantan Presiden Soeharto menapaki perjalanan hidupnya dengan kisah yang panjang. Salah satunya, tercermin dari buku otobiografi Soeharto, Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.

Dalam buku tulisan G Dwipayana dan Ramadhan KH ini, Soeharto menuturkan kisah hidupnya secara panjang lebar, falsafah hingga harapan-harapannya. Berikut nukilan salah satu bagian yang bercerita masa kecil Soeharto:

Ingatan saya tentang perjalanan hidup ini bermula ketika saya berumur tiga tahun. Waktu itu saya sudah bersama mBah Kromodiryo, dukun yang biasa menolong orang yang melahirkan. Nama panggilannya adalah mBah Kromo, adik kakek saya. mBah Kertoirono. Beliaulah yang menolong ibi saya. Ibu Sukirah sewaktu melahirkan saya. Maka beliau pun bercerita bahwa saya dilahirkan pada tanggal 8 Juni 1921, di rumah orang tua saya yang sederhana, di desa Kemusuk, dusun terpencil, di daerah Argomulyo, Godean, sebelah barat kota Yogyakarta.

Ayah saya, Kertosudiro, adalah ulu-ulu, petugas desa pengatur air, yang bertani di atas tanah lungguh, tanah jabatan selama beliau memikul tugasnya itu. Beliau yang memberi nama Soehaarto kepada saya.

Saya adalah anak ketiga. Dari istri yang pertama beliau mempunyai dua anak. Sebagai duda, beliau menikah lagi dengan ibu saya. Tetapi hubungan orang tua saya kurang serasi hingga akhirnya setelah saya dilahirkan, mereka bercerai.

Beberapa tahun kemudian Ibu Sukirah menikah lagi dengan seseorang yang bernama Atmopawiro. Pernikahannya ini melahirkan tujuh orang anak. Sementara itu ayah saya pun menikah lagi dan mendapatkan empat anak lagi.

Tak terkira sebelumnya, bahwa pada suatu waktu di hari tua saya, saya mesti menjelaskan silsilah saya karena ada yang menulis yang bukan-bukan di bulan Oktober 1974 disebuah majalah. Saya menyuruh Dipo (G. Dwipayana) membantah tulisan itu, dan memuatkan bantahannya di dalam majalah dan surat kabar harian yang terbit di Jakarta. Tetapi selang sehari saya perintahkan supaya wartawawartawan berkumpul di Bina Graha, di kamar kerjanya.

Saya ingin secara pribadi menjelaskan silsilah saya itu. Di depan wartawan luar dan dalanm negeri saya beberkan, saya bukan seseorang dari keturunan ningrat. Saya hadapkan dalam pertemuan dengan wartawan-wartawan itu beberapa orang tua, saksi-saksi yang masih hidup yang mengetahui benar silsilah saya.  Saya adalah keturunan Bapak Kertosudiro alias Kertorejo, ulu-ulu yang secara pribadi tidak memiliki sawah sejengkal pun.

Saya berterus terang, di dalam menghadapi kehidupan sewaktu kecil, saya mengalami banyak penderitaan yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang lain. Saya katakan, tulisan-tulisan yang tidak benar mengenai silsilah saya itu mungkin bisa ditafsirkan yang tidak-tidak atau memberikan bahan yang mungkin tidak hanya merugikan saya kepada negara dan bangsa Indonesia. Dalam bahasa Jawa, ada pepatah "Sadamuk bathuk, sanyari bumi". Sekalipun hanya di-dumuk, tapi batuknya, berarti mengenai harga diri keluarga dan pribadinya, sanyari bumi. Sanyari, walaupun hanya kecil sejari mengenai bumi, warisan, itu juga bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan saya percaya bahwa setidak-tidaknya berita tersebut bisa membingungkan. Sebenarnya Presiden yang sekarang itu keturunan dari mana ?

Kalau itu sudah menimbulkan pembicaraan, timbul kemudian pro dan kontra. Kalau timbul pro dan kontra, dengan sendirinya mereka saling mempertahan kan pendapat masing-masing dan bisa terjadi perselisihan. Ini kesempatan yang baik untuk pihak yang melakukan subversi dalam melaksanakan gerpolnya, dan dapat meningkatkan gangguan stabilitas nasional.

Padahal stabilitas nasional sangat kita butuhkan dalam melaksanakan pembangunan. Bahkan saya kira lebih dari itu. Kalau tulisan itu benar, itu menunjukkan bahwa seorang anak yang sudah berumur enam tahun oleh ibunya diserahkan dengan begitu saja kepada temannya di desa Kemusuk. Ini menggambarkan martabat seorang wanita yang tidak ada harganya. Timbul dengan sendirinya pertentangan antara lelaki dan wanita dalam urusan harga menghargai. Ini juga menggambarkan keadaan yang tidak baik. Mungkin bisa menimbulkan kesan lebih dari itu; kenapa begitu mudah, diserahkan dengan begitu saja istri dan anak yang beumur enam tahun; mungkin karena perkawinannya tidak sah.

Jadi, kalau tidak sah, bearti anak haram atau anak jadah. Apakah ini tidak akan merugikan nama bangsa dan negara ? Karena itu, melihat jangka jauh yang tidak hanya mengenai nama pribadi saya, leluhur saya, tetapi juga mengenai saya yang secara kebetulan memperoleh kepercayaan dari rakyat menjadi Presiden, tulisan semacam itu tidak bisa dilepaskan dari kemungkinan dijadikan bahan dalam subversi dan gerpol. Karena itu, silsilaha saya harus dijelaskan. Sekalipun terpaksa rahasia pribadi dibuka, demi kepentingan pengabdian saya kepada negara dan bangsa, maka saya ceritakan semuanya itu, dan saya sedikitpun juga tidak merasa menyesal menceritakannya. Sebagai orang yang beriman, syarat dari iman adalah percaya kepada Tuhan, percaya kepada malaikat-malaikatnya, kepada rosul, kepada kitab-kitab suci, kepada hari kiamat dan percaya kepada takdir- semuanya itu saya terima sebagai keadaan yang menimpa diri saya, mulai lahir sampai sekarang, sebagai bekal hidup saya hingga kini.

Ceritanya setelah saya dilahirkan, saya tidak lama bersama ibu saya. Belum empat puluh hari saya sudah dibawa ke rumah mBah Kromodiryo, karena ibu saya sakit sehingga tak bisa menyusui. Di rumah mBah Kromo- saya digendong-gendong oleh mBah Amat Idris. Mbah Kromo yang mengajar saya berdiri dan berjalan, dan sering kali beliau membawa saya kemana-mana kalau beliau pergi bertugas ke luar rumah. Kalau mBah Kromo putri menjalankan prakteknya sebagai dukun bayi dan saya tidak dibawanya, maka saya sering diajak mBah Kromo ke sawah. Kadang-kadang saya digendongnya sambil membalik-balikkan tanah, atau dinaikkannya di atas garu. Kesenangan tersendiri yang tetap terkenang sampai tua, sewaktu saya didudukkan di atas garu dan memberi isyarat kepada kerbau untuk maju, untuk membelok ke kiri, ke kanan. Lalu turun ke sawah, bermain air, bermandikan lumpur. Maka kalau merasa capek atau kepanasan, saya disuruhnya menunggu di pinggir, di pematang atau di jalan. Pada kesempatan ikut dengan mBah Kromo di sawah tersebut saya suka mencari belut yang jadi kesukaan saya waktu makan, sampai sekarang.

Pada suatu hari saya menebang pohon pisang dengan sebuah sabit. Perkakas itu lepas dari tangan saya dan jatuh serta melukai kaki saya. Rupanya seisi rumah menganggap kejadian itu sepele pada mulanya. Tetapi kemudian ternyata luka di kaki saya menjadi borok. Maka Mbah Kromo menjadi risau dan beliaulah yang mengobati saya dengan penuh kasih. Memang, terasa sekali sampai sekarang betapa sayangnya beliau kepada saya.

(sjn)

berita terkait

foto & video lainnya

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • liputan khusus
      Minggu, 23 November 2008 11:50 WIB

      Saling Sikut di Layar Kaca

      Di Amerika Serikat (AS), lazim para kandidat presiden saling serang lewat iklan. Di Indonesia, bisa dibilang hal demikian mencemarkan nama baik. Namun, fenomena seperti itu kini sudah menggejala.

    • liputan khusus
      Minggu, 09 November 2008 18:32 WIB

      Perjuangan Belum Berakhir Bung!

      Setiap masa menghadirkan tantangannya sendiri. Sebagai bangsa yang selalu melangkah menuju masa depan, masyarakat Indonesia jangan pernah berpikir bahwa kita akan kehabisan masalah dan musuh.

    • liputan khusus
      Minggu, 09 November 2008 16:18 WIB

      Veteran, Mereka yang Terpinggirkan

      Proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, 63 tahun silam. Peristiwa bersejarah itu pun diabadikan mendiang fotografer Soemarto Frans Mendoer.

    • liputan khusus
      Minggu, 09 November 2008 15:14 WIB

      Bung Tomo, Gelar Itu Datang Juga

      Setelah polemik berkepanjangan, Bung Tomo akhirnya menyandang gelar pahlawan nasional. Sejatinya, status ini tak pernah diinginkan orator ulung dari Surabaya itu.

    • liputan khusus
      Minggu, 09 November 2008 14:46 WIB

      Kemiskinan, Musuh Baru di Zaman Baru

      Tingkat kesejahteraan rakyat kini menjadi musuh yang harus dihadapi Indonesia. Masih banyak rakyat yang hidupnya terjerat kemiskinan dan pengangguran. Sebuah perjuangan di era baru. Indonesia sudah merdeka?

    • liputan khusus
      Minggu, 02 November 2008 17:01 WIB

      Pengajuan Caleg, Dunia Unik nan Menggelitik

      Kancah politik disebut-sebut tak lepas dari dunia percaloan. Banyak orang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan kursi sebagai anggota legislatif.

    • liputan khusus
      Minggu, 02 November 2008 14:52 WIB

      Seribu Langkah Menuju Senayan

      Banyak cara dilakukan para calon anggota legislatif (caleg) untuk menjadi anggota Dewan. Dari yang legal hingga ilegal, termasuk mempertaruhkan harga diri. Banyak jalan menuju Roma.

    • liputan khusus
      Minggu, 02 November 2008 13:45 WIB

      Artis Jadi Caleg, Bukan Panggung Sandiwara

      Fenomena para selebriti terjun ke dunia politik makin marak. Ada tudingan mereka pindah panggung karena latah atau sudah tidak laku lagi di dunia hiburan.

    • liputan khusus
      Minggu, 02 November 2008 11:44 WIB

      Caleg, Cara Cepat Menjadi Kaya

      Komisi Pemilihan Umum (KPU) pekan lalu telah menetapkan 11.225 calon anggota legislatif dalam daftar calon tetap (DCT) anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

    • liputan khusus
      Minggu, 26 Oktober 2008 16:29 WIB

      Saatnya Merevitalisasi Gerakan Pemuda

      "SEJARAH Indonesia adalah sejarah pemudanya," demikian kata Profesor Benedict Anderson, Indonesianis dari Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat.

    Baca Juga

    JLR Produksi Range Rover Evoque di China