Makam Soeharto Berasal dari Marmer Terbaik

Selasa, 29 Januari 2008 04:30 wib | Solichan Arif - Sindo


TULUNGAGUNG - Mantan Presiden RI ke dua HM Soeharto telah meninggal dunia Minggu (27/1). Jenazah sang jenderal besar yang pada akhirnya tak berdaya melawan penyakit yang menggerogotinya itu dimakamkan di Astana Giribangun Karangnyar Solo Jawa Tengah. Namun siapa yang mengira bila rumah "perisitirahatan terakhir" (kijing) Pak Harto tersebut berasal dari batu marmer yang dipesan dari Kabupaten Tulungagung. Begitu juga dengan "rumah" Ibu Tien Soeharto yang tutup usia pada 28 April 1996 lalu.

Munari (67), warga Desa Gamping, Kec Campurdarat, Kab Tulungagung yang menjadi arsitek "rumah masa depan" mantan orang terkuat di Indonesia itu.

"Batu marmer yang digunakan bahan kijing Pak Harto dan Bu Tien adalah yang terbagus di Tulungagung. Biasanya batu pualam ini digunakan untuk pendopo dan sejenisnya, "tutur Munari bersungguh sungguh, Senin (28/1/2008).

Pria berambut ikal ini awalnya terlihat takut-takut saat para wartawan memintanya bercerita tentang masalah ini. Alasanya, suami Ny Srinani sekaligus ayah empat putra ini berdalih tidak ingin dituding mencari keuntungan di tengah orang yang berduka. Namun setelah dibujuk rayu, Nari begitu ia disapa dikalangan teman-temanya akhirnya bersedia juga membagi cerita.

PT Industri Marmer Indonesia Tulungagung (IMIT) di Kec Campurdarat yang pertama kalinya bisa menghubungkan dirinya dengan keluarga Cendana.
Industri pengolahan marmer yang berdiri sekitar tahun 1961 itu adalah milik keluarga Jendral LB Moerdani yang notabene kroni almarhum mantan Presiden Soeharto.

"Sebelum pabrik itu diresmikan, saya sudah bekerja sebagai penambang batu marmer dan mengolah menjadi kerajinan yang menarik. Ketika diremsikan saya melamar kes ana dan diterima menjadi karyawanya,"paparnya.

Ibarat pepatah kata berdekatan dengan orang besar tentu akan ikut besar. Minimal turut terkenal berlaku bagi Nari. Tanpa diketahui bagaimana mulainya, telepon rumah Munari siang itu berdering. Kebetulan dirinya sendiri yang menerimanya.

Dari seberang telepon, seseorang yang mengaku bernama Sriyanto, kerabat Ibu Tien Soeharto, memintanya datang ke Solo. Sriyanto memberinya proyek pembangunan makam di Astanan Giri Bangun dengan menggunakan bahan batu marmer. Mulai pondasi, lantai, hingga kijing orang tua Bu Tien Soeharto dan keluarganya. Informasinya Sriyanto mengenal keahlian Munari berkreasi dengan batu marmer dari kerabat LB Moerdani.

"Tentu saja waktu itu saya cukup terkejut. Wong namanya keluarga orang nomor satu di Indonesia yang meminta saya mengerjakan proyek yang bersifat pribadi. Saya waktu itu datang bersama enam orang dari Tulungagung. Ndalem Kalitan juga saya mengerjakan. Karena ditugaskan perusahaan,"ujarnya.

Tak heran, pascapengerjaan proyek besar itu, Munari mengaku lebih dekat dengan keluarga Bu Tien Soeharto. Termasuk mengetahui silsilah keluarga dan Sriyanto yang merupakan keponakan mantan First Lady itu. Seusai menggarap proyek besar itu Munari tetap bekerja sebagai karyawan PT IMIT.

Baru sekitar tahun 1983 atau selama 22 tahun, Munari memutuskan keluar dari perusahaan. Dengan alasan gaji yang diterimanya tidak cukup untuk hidup setiap bulan. Di IMIT, Munari mendapatkan gaji Rp 48 ribu/bulan. Keluar dari perusahaan bukan berarti Munari menganggur.

Dijualnya sawah dan dikantonginya uang Rp 3,5 juta. lalu dibeli peralatan mesin bubut dan marmer sebagai modal usaha sendiri. "Karena kalau tidak begitu keluarga saya bisa tidak makan, "tukasnya.

Rupanya pucuk dicinta ulampun tiba. Disaat terjadinya perubahan ekonomi, keluarga Cendana kembali menghubunginya. Waktu itu sekitar pertengahan tahun 1996 setelah Bu Tien Soeharto meninggal dunia.

Sriyanto meminta Munari datang ke Astana Giribangun Solo. Munari diminta membuat kijing dengan desain gambar yang sudah disiapkan oleh orang dalam Ndalem Kalitan. Selain untuk makam Ibu Tien juga makam Soeharto.

"Perasaan saya waktu itu senang sekali, bercampur bangga dan gembira karena dipercaya membuat kijing untuk seorang Presiden," paparnya.

Dalam negoisasi itu, keluarga Ibu Tien meminta marmer dengan kualitas terbaik, termasuk dilengkapi ukiran yang sudah ditentukan. Marmer yang terpilih adalah jenis B1 putih dengan ketebalan 5 cm. Harga batu pualam ini Rp200.000 per m2. Total keseluruhan harga dua kijing tersebut Rp40 juta atau masing-masing Rp 20 juta.

Yang masih teringat di benak Munari adalah pesan dari keluarga Bu Tien Soeharto agar merahasiakan seluruh dokumen desain gambar, termasuk mewanti wanti untuk mengembalikanya.

"Saya dipesani agar dirahasiakan, agar tidak ditiru orang lain dan seluruh dokumen diminta kembali," katanya.

Dua kijing untuk dua orang penting di Indonesia tersebut, selesai dalam waktu 3 minggu. Pesanan itu diambil langsung petugas dari Astana Giribangun. Yakni dari Tulungagung menuju ke Solo.

"Saya tidak tahu siapa namanya. Kalau melihat perwakanya tinggi besar, serta berambut cepak, "kenangnya menambahkan hasil proyek terbesar sepanjang hidupnya itu bisa untuk menambah modal usaha dan menyekolahkan keempat anaknya.
(Solichan Arif/Sindo/kem)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »